Andi Baso Sawerigading: Luwu Rawan Bencana, Pemerintah tidak Konsisten Implementasikan Mitigasi Bencana Berdasar Data Peta Struktur Geologi

Citra Satelit Lapan. Sumber CNN

Musim hujan tiba. Bencana  longsor dan banjir sering terjadi di Sulawesi Selatan. Salah satu wilayah rawan bencana di Provinsi ini adalah Wilayah Luwu, meliputi Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur dan Kota Palopo. Masih segar dalam ingatan, pada Juli tahun 2020 silam, Banjir yang melanda Luwu Utara menelan puluhan korban jiwa meninggal dunia dan ratusan orang mengungsi.

 

Banjir Beberapa Waktu Lalu di Luwu Utara, dumber foto DetikNews

maupa.co – Aktifis Sosio-Geologi, Andi Baso Sawerigading, yang juga mahasiswa semester akhir, Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, menyoroti cara pemerintah menangani bencana, khususnya dalam hal mitigasi bencana.

”Sebagaimana diketahui bahwa mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Namun, realitas menunjukkan bahwa beberapa bencana serupa terjadi secara berulang. Ini berarti bahwa pemerintah setengah hati mengantisipasi bencana, khsusunya bencana longsor. Pemerintah terkesan bertindak tiba masa tiba akal, dalam menangani bencana,” jelas Putra Luwu ini.

Menurut Andi Baso Sawerigading, yang akrab disapa Dibas, korban satu nyawa meninggal pada bencana adalah duka mendalam karena satu jiwa manusia tidak dapat digantikan dengan uang. Jiwa manusia sangat bernilai. Oleh karena itu, harus dipikiran agar tidak lagi terjadi bencana, khususnya bencana longsor yang menelan korban jiwa.

Dibas mencontohkan, pada bulan Oktober 2021 lalu, terjadi lagi bencana banjir yang melanda Kota Palopo, Menurut informasi, terdapat 55 rumah milik warga di Kelurahan Mancani, Kecamatan Telluwanua, Kota Palopo terendam banjir setinggi 30 cm sampai 1 meter. Selain itu, pada November 2021 terjadi lagi bencana tanah longsor di KM 14. Akibatnya, jalan poros Palopo-Toraja tertutup.

Andi Baso Sawerigading

“Data juga menunjukkan, urai Dibas, banjir yang terjadi di Luwu Utara, pada Juli 2020 mengakibatkan 3.627 kepala keluarga atau 14.483 jiwa yang berasal dari tiga kecamatan harus mengungsi. Pada bencana ini, sekitar 50 orang meninggal. Kompas.com memberitakan bahwa terdapat 38 Orang Meninggal, 11 orang Masih Dicari ketika itu” rinci Dibas.  

Dibas menegaskan bahwa mitigasi bencana yang baik, seharusnya bersifat preventif, pencegahan. Langkah ini dapat dilakukan dengan melakukan penanganan serius berdasarkan data peta struktur geologi yang ada. Berdasar data struktur geologi, diketahui bahwa pada daerah tertentu terdapat jenis-jenis tanah yang memang rawan terjadi longsor karena adanya krisis daya dukung tanah. Oleh karena itu, pemerintah bisa melakukan antisipasi sedini mungkin terhadap bahaya longsor, misalnya, dengan cara menanam pohon atau mengeruk titik-titik kritis longsor atau melakukan pembangunan penahan longsor sebelum bencana longsor terjadi.

“Masalahnya, nanti terjadi longsor baru pemerintah melakukan penanganan, Ini berarti pemerintah tidak serius memanfaatkan data peta struktur geologi yang sudah ada. Di sinilah pentingnya data struktur geologi itu, agar bisa dilakukan mitigasi bencana, khususnya bencana longsor dan banji, seperti yang sering terjadi di Wilayah Luwu,” terang Dibas.

Dibas juga menunjukkan foto pengindraan satelit Lapan terkait bencana Luwu Utara beberapa waktu lalu. Pada wilayah terdampak kelihatan bahwa terdapat banyak bangunan pemukiman, persawahan dan perkebunan yang rusak karena terendam lumpur.

“Kami sebagai generasi Luwu berharap pemerintah dapat betul-betul serius melakukan upaya mitigasi bencana secara preventif  berdasarkan data peta struktur geologi. Sehingga tidak lagi terjadi korban meninggal akibat bencana, khusunya bencana longsor,” Harap Dibas yang juga telah melakukan praktek di PT. Freeport di Papua beberapa tahun silam.

 

Syamsuddin Simmau

Syamsuddin Simmau

Ingatan adalah monumen sesungguhnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *