Andi Mattalatta, Memilih Nasionalis Ketimbang Jadi Budak Belanda

Penulis: Muhammad Fauzy

 

Tokoh Pahlawan Nasional Andi Mattalatta. Foto by: Wikipedia
Tokoh Pahlawan Nasional Andi Mattalatta. Foto by: Wikipedia

Mengenang sosok Andi Mattalatta yang nasionalis, rela mengorbankan dirinya untuk masa depan bangsanya dibandingkan menjadi alat penjajah pada masanya.

maupa.co – Andi Mattalatta memiliki nama lengkap Mayjen TNI (PUR) H. Andi Mattalata, adalah sosok Pahlawan Bangsa Indonesia yang sangat nasionalis dan bijaksana. Telah dibuktikan dengan sejarah masa hidupnya, yang memiliki rentetan kisah yang menakjubkan. Andi Mattalatta menjadi sosok teladan yang dikisahkan dalam buku “Meniti Siri’ dan Harga Diri”, karya Andi Mattalatta.

Meniti Siri' dan Harga Diri Karya Andi Mattalatta
Meniti Siri’ dan Harga Diri Karya Andi Mattalatta

Andi Mattalatta lahir di Barru, Sulawesi Selatan pada tanggal 1 September 1920 dikenal sebagai pahlawan yang tegas dan bersih dalam masanya. Pribadi yang kental dengan budaya khas Sulawesi Selatan ini juga merupakan keturunan raja Kerajaan Barru. Ia adalah orang yang sangat terbuka kepada semua orang.

Pada suatu waktu, komunis bernama paiso yang pernah beberapa tahun lalu diasingkan ke Bovendigul datang di Kediamannya. Bovendigul adalah penjara alam yang didirikan oleh pemerintah kolonial hindia belanda, digunakan sebagai tempat pengasingan di Pulau Papua.

Paiso ini ternyata mengetahui bahwa Andi Mattalatta adalah keturunan seorang raja Kerajaan Barru. Paiso mempertanyakan nasionalisme Andi Mattalatta kepada, ia berkata” Bagaimana bisa kamu meniadi alat penjajah, padahal engkau seorang nasionalis?”Tutur Paiso.

Pernyataan itu menjadi hantu dikepala Andi Mattalatta, hingga ia menanyakan pendapatnya kepada sosok Ince Nurdin yang sudah menganggap beliau sebagai cucunya. Andi Mattalatta tak mau menjadi alat penjajah dengan diangkatnya sebagai raja di daerahnya sendiri, karena berfikir akan menyiksa sendiri rakyatnya. Mengeruk kerja keras rakyat dan memberikan secara cuma-cuma kepada pemerintah hindia belanda.

Baca juga: “MENGUTUI” BAHASA INDONESIA

Ince Nurdin akhirnya menyampaikan pernyataan Andi Mattalatta kepada pemerintah kolonial Hindia belanda. Namun pemerintah Hindia belanda kukuh menginginkan ia menjadi raja. Pemerintah hindia belanda ingin menggantikan beberapa orang penting yang sudah tua di daerahnya dengan memakai jasa Andi Mattalatta.

Andi Mattalatta bersama mantan bosnya.
Andi Mattalatta bersama mantan bosnya.

Andi Mattalatta dirasa layak untuk menggantikan orang besar didaerahnya, karena beliau adalah seorang intelektual. Masih lebih muda dan berpendidikan dibanding orang penting yang telah berusia tua dan tak berpendidikan.

Namun Andi Mattalatta berfikir rasional, bahwa ia adalah seorang nasionalis. Namun disisi lain, ia juga ingin melanjutkan sekolahnya di jawa. Namun niatnya itu terhenti karena permintaan ibunya untuk membina dan menyekolahkan adiknya Andi Abdurrauf.

Baca juga: MULTATULI, POLITIK ETIS DAN SUMPAH PEMUDA

Andi Mattalatta akhirnya tak mengenyam pendidikan lagi, ia kemudian bekerja sebagai sekretaris dan seorang penulis berita di KS(Kebangunan Sulawesi). Andi Mattalatta menilai organisasi ini sangat nasionalis yang dibuktikan dengan pemberian pendidikan kesadaran nasionalisme kepada anggotanya.

Organisasi ini juga memiliki majalah bulanan yang memiliki cabang tersebar di setiap Kota besar Hindia Belanda. Andi Mattalatta adalah salah satu seorang penulis di majalah bulanan milik KS. Ia telah mahir menulis sejak sekolah di MULO dengan memakai nama samaran “Kajao Laliddo”.

Dapat dilihat pribadi Andi Mattalatta yang nasionalis dan bijaksana. Intelektual seperti beliaulah yang dibutuhkan bangsa ini, peduli akan bangsanya dan berfikir secara rasional. Menyumbangkan gagasannya untuk kemajuan bangsanya sendiri. Memilih menjadi sekretaris di Organisasi nasionalis yang merakyat, ketimbang menjadi alat penjajah kolonial.

Editor: Tim maupa.co

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *