Animasi Paropo 3S, Visualisasi Ruang Kota Makassar

Penulis: Azwar Radhif
Editor: Muhammad Fauzy

Animasi Paropo 3S. Foto by Azwar Radhif/maupa.co
Animasi Paropo 3S. Foto by Screenshot/YouTube

Maupa.co – Kota Makassar dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir nampaknya tengah mengalami peningkatan populasi. Peningkatan populasi penduduk akan berbanding lurus dengan tingkat kebutuhan akan ruang.

Secara sederhana, setiap manusia yang lahir dalam proses kehidupannya akan membutuhkan kehadiran ruang-ruang privat dan publik, seperti tempat tinggal, sekolah, rumah sakit dan berbagai kebutuhan lainnya, ini semua tentunya membutuhkan ruang. Lantas bagaimana perkembangan ruang di Makassar?

Ada banyak cara untuk mengetahui perkembangan ruang di Kota Makassar dalam beberapa waktu terakhir. Bisa menggunakan data statistik, teks-teks kaya sejarah dan visualisasi sebagai bahan arsip untuk mengetahui bagaimana kehidupan dimasa itu. Tanpa lukisan di dinding gua Leang-leang Maros, kita mungkin tak mengetahui bahwa pernah ada kehidupan manusia yang berlangsung di tanah itu ribuan tahun yang lalu.

Arsip menjadi penting untuk melacak sejarah yang terjadi, Anwar Djimpe Rahman salah seorang pegiat komunitas Tanah Indie menjelaskan pentingnya arsip, menurutnya arsip “itu menjadi bahan dasar menulis karena ketika menulis akan dibahas juga sejarahnya,” ujar Djimpe sapaan akrabnya. Salah satu arsip dalam tampilan visual-audio adalah Paropo 3S.

Baca juga: Paradoks Pengembangan Ekowisata di Desa

Paropo 3S merupakan karya visual dalam bentuk animasi, dibuat oleh komunitas Tanah Indie pada tahun 2017. Karya visual ini menjelaskan perubahan ruang di Kelurahan Paropo dari tahun 1950 sampai 2016, dengan menggunakan metode selancar-salin-susun (3s).

“Paropo 3s itu hasil riset yang dipadatkan, dengan menyuruh orang (warga) di Paropo mengingat selama 60 tahun bagaimana (perkembangan), kita padatkan jadi 4 menit dan itu (dilakukan) bermain-main ji, nda serius amat. Kenapa orang menganggap penelitian itu serius? karena kadang dicekcoki dengan sekolah,” sambung Djimpe, selaku kurator animasi kampung kota “Paropo 3s”.  

Dalam animasi yang berdurasi 4 menit itu memperlihatkan bagaimana proses perubahan yang terjadi, diawali dengan dibangunnya beberapa rumah warga kemudian menjadi pemukiman penduduk. Setelah itu dibangun jalan poros yang memudahkan arus transportasi sehingga mempengaruhi kepadatan ruang daerah tersebut.

Lebih lanjut Djimpe menjelaskan, “Paropo 3S itu kayak kelanjutan sebenarnya karena ada buku kami terbitkan, halaman rumah judulnya. Ada beberapa data yang saya anggap cocok divisualkan apalagi memang kajian di Tanah Indie memang kebanyakan kajian kota. Itu yang di upload di youtube dan orang bisa pelajari, kita bikin sharing soal pengalaman kami dan kampung itu. Juga dengan adanya arsip begitu bisa menstimulus orang untuk melihatnya. Arsip itu kita buat untuk mengisi yang tidak ada, coba mi kita bikin. Seni itu kan spekulasi toh,” jelasnya.

Proses pengerjaan animasi ini berlangsung dengan melibatkan berbagai kalangan, “prosesnya melibatkan banyak mahasiswa, misalnya data kontur tanah itu ada teman yang pergi cek data itu, begitu dapat datanya kita oper ke anak arsitektur untuk dikasih 3 dimensi. Selesai 3 dimensinya, kita minta beberapa teman yang bekerja di desain gambar sama seniman sound art, bunyi-bunyian. Jadi dia pergi keliling Makassar cari bunyi-bunyian baru dia rekam. Abis itu ada gambar baru digerakkan. Waktu itu teman-teman penelitian tahun 2017 di Paropo, 4 orang penelitian,” tutur Djimpe.

Film Animasi singkat ini dapat di nikmati pada chanel youtube Tanah Indie, berjudul animasi kampung kota “Paropo 3s”. Kehadiran animasi ini diharapkan dapat memantik karya-karya lainnya yang dapat menjadi arsip perkembangan kota Makassar, untuk melihat bagaimana kota bekerja. 

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *