Artmosphere: Meramu Ruang dan Rupa

Makassar Art Initiative Movement (MAIM) mengadakan pameran seni rupa selama 28-30 oktober 2020. Bertempat di Lorong 8 kecamatan Panakkukang, kegiatan ini mengusung tema artmosphere yang berarti seni dan ruang.   

Maupa.co – Artmosphere, sekilas kata yang identik pengucapannya dengan kata atmosfer, merupakan penggabungan dua kata dari art dan mosphere, yang berarti seni dan mosphere yang diambil dari kata sphere yang berarti ruang. Artmosphere menjadi tema pameran seni rupa seniman Makassar yang dihelat pada 28-30 oktober 2020 lalu.

Kata Artmosphere dicetuskan pertamakali oleh seniman rupa Makassar bernama Jenry Passasan. Menurutnya, ide tema ini tercipta berdasarkan imajinasinya mangamati ruang di sekelilingnya. Ruang yang dimaksud disini adalah sebuah lahan yang diramunya menjadi sebuah ruang rupa.

Lokasi kegiatan ini terletak di Lorong 8 kecamatan Panakkukang, Kelurahan Masale Kota Makassar. Ruang ini menjadi titik temu perupa untuk menampung karya perupa Makassar, sekaligus sebagai tempat untuk perupa berdiskusi satu dengan yang lainnya.

Jenry Passasan (tengah), Mike Turusi (Kiri) dan Jalaluddin Rumi (Kanan).

Melalui pameran dalam kegiatan Makassar Art Initiative Movement (MAIM), Jenry mengaktualisasikan kemampuannya dalam meramu ruang bagi perupa Makassar. Jenry adalah sosok yang termasuk salah satu penggagas MAIM.

MAIM dibentuk berdasarkan kegelisahan perupa terhadap realitas, dengan melakukan gerakan-gerakan inovatif berdasarkan perspektif dari masing-masing perupa. Mereka terdiri dari Jenry Passasan, Achmad Fauzy, Ahmad Anzul, A.H Rimba, Amrullah Syam, Budi Haryawan, dan Faisal Syarif. Para perupa ini melakukan gerakan berdasarkan karya rupa dengan menanggap realitas pada masalanya.

Perbincangan Malam itu (29/10) dilakukan di tengah lahan yang sengaja dibuat artistik. Artistik yang dimaksud disini yaitu beberapa karya seni dari perupa-perupa Makassar yang terdiri dari dua dan tiga dimensi dengan bantuan sinar lampu yang berada di tengah-tengah pemukiman masyarakat Lr 8 Kecamatan Panakkukang. Bagi saya sendiri selaku audience dipantik untuk bernostalgia beberapa tahun silam di Kota Yogyakarta.

Bincang-bincang yang terkandung dimalam itu bertemakan pengalaman empiris dari masing-masing perupa bersama seorang sosiolog yang berperan sebagai pemantik diskusi. Mike Turusi selaku perupa mengambil dua hikmah dari kegiatan tersebut, yakni wadah silaturahim memadatkan pertemuan dan pembelajaran dalam menciptakan sebuah rupa yang bukan hanya realis tetapi bagaimana menanggap realitas dewasa ini. Selanjutnya, Budi menerangkan bahwa MAIM ini dibentuk sebagai salah satu wadah untuk berbagi temuan dan mengaktulisasikannya melalui sebuah karya seni rupa.

Bincang-bincang yang berlangsung semakin terasa hangat dengan sajian musik instrumental. Dilanjutkan dengan pemaparan Syamsuddin Simmau sekaligus menganjurkan salah seorang perupa senior yakni Amrullah Syam, tentang masterplan di zaman Patompo yang mengisyaratkan ‘kembali ke Makassar’. Syam memaparkan masterplan ikonik kota Makassar yang terbagi menjadi tiga bagian pembangunan yakni kota pelajar, budaya, dan ekonomi.

Diskusi Perupa Bersama Sosiolog

Pembangunan ini didorong oleh pemerintah dengan membuat sekolah yang disebut dengan Akademi Kesenian Makasssar. Kehadiran Akademi kesenian ini membawa para siswa atau alumni untuk membuat sebuah karya sesuai bidang yang dimiliki.

Bincang-bincang tersebut menjadi satu gerakan agar selalu bersinergi untuk sebuah peradaban rupa. Hal ini diperjelas oleh Faizal, bahwa MAIM “memiliki Pola yang tak berpola”. Menurut pria yang kerap disebut Ical ini, “karya yang dihasilkan sebagai representasi dari proses kontemplasi sebagai isyarat untuk introspeksi diri menjadi sebuah konsep yang dikristalisasi”. Sesekali ditanggapi oleh Syamsuddin dengan menanggap realitas melalui pengalaman dirinya sebagai refleksi dari masing-masing perupa.

Kebijaksanaan itu tergambar dari beberapa pandangan yang membuat para perupa kembali memiliki pandangan baru untuk kemerdekaan kaum seniman rupa. Sembari menikmati sebatang rokok, dan beberapa sajian yang terdapat di pelataran. Berada ditengah-tengah para empu rupa ini menjadi sebuah dorongan inspirasi bagi saya sendiri, agar kembali melakukan gerakan-gerakan kecil untuk sebuah peradaban.

Berdasarkan bincang-bincang malam itu saya menemukan sebuah kalimat yang mewakili keadaan yaitu mari duduk, untuk saling mengetahui realitas aktual dan melahirkan sebuah abstaksi.

Bagi saya sendiri, judul di atas merupakan sajian yang sangat kompleks. Dari kata pertama, yakni Artmosphere secara garis besar dibentuk berdasarkan gagasan satu tokoh rupa Makassar. Sedangkan meramu yakni sebuah stimulasi kepada para seniman, khususnya perupa Makassar untuk mengkristalkan sebuah gagasan yang dimiliki berdasarkan temuan yang dimiliki. Rupa, adalah sebuah karya seni rupa yang tergambar pada malam itu yang saya analogikan sebagai aktualisasi yang dalam bahasa Makassar disebut Akkasara’ (Mattulada, Sejarah Makassar).

Penulis : Ahmad Ishak Jundana
Editor : Azwar Radhif
Fotografer : Ahmad Ishak Jundana

Follow us
Ahmad Ishak Jundana

Ahmad Ishak Jundana

Menulis untuk sebuah realitas dengan ikhlas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *