Askari, Membangun Indonesia dari Kepulauan Melalui Pendidikan

Askari adalah salah seorang pemuda kepulauan yang berasal dari pulau Sailus Besar. Melalui gerakan literasi, ia berjuang membangun kepulauan melalui pendidikan. Baginya pendidikan adalah alat pembebasan. Ia memilih melanjutkan studi di perguruan tinggi. Tim Maupa berkesempatan berbincang dengannya di Kota Pangkep beberapa hari lalu  

Maupa.co Masalah pendidikan menjadi salah satu masalah utama yang banyak terjadi di daerah kepulauan. Selain persoalan jarak pulau dengan daratan yang berseberangan laut, perhatian pemerintah juga nampaknya menjadi persoalan serius. Apalagi, sebagian besar wilayah Indonesia itu berada di lautan, dimana terdapat 17.491 pulau di kawasan maritim Indonesia.

Adalah Askari, pemuda asal pulau Sailus besar yang termasuk salah satu pulau terluar di kabupaten Pangkep. jarak pulaunya dari daratan Pangkep berkisar 3 hari 3 malam pelayaran menggunakan kapal laut. Letak Pulau Sailus Besar menurutnya lebih dekat dari pulau Lombok NTB dibandingkan daratan Pangkep. Karena sebab ini, dirinya begitu bersemangat ingin membangun kepulauan Pangkep melalui pendidikan.

Salah satu motivasi terbesarnya adalah komentar salah seorang tokoh yang tak ingin dia sebut namanya. Dalam satu ketika, tokoh ini menyinggung kondisi masyarakat pulau dengan label terbelakang. Komentar pedas ini kemudian memberikan dorongan kepadanya untuk memberi bukti bahwa masyarakat pulau juga mampu berkembang melalui pendidikan.

“Ada seorang tokoh yang mengatakan bahwa masyarakat pulau adalah masyarakat terbelakang. Hari ini saya mau buktikan, saya kuliah untuk bagaimana bisa membangun kepulauan kedepannya”, tegas Askari.

Askari, Pemuda Sailus Besar Pangkep

Baginya, masalah utama yang terjadi di daerah kepulauan itu berawal dari masalah pendidikan. Pendidikan menurutnya merupakan salah satu sarana menciptakan kualitas masyarakat pulau yang baik dengan pembentukan karakter dan intelektual para pelajar. Kondisi ini menurutnya berbanding terbalik dengan realitas pendidikan di pulau yang sangat minim.

“Masalah-masalah yang muncul adalah pendidikan, kepulauan sangat butuh pendidikan. Karena untuk membangun daerah sendiri, kita harus mempunyai wawasan intelektual dan visi kedepan untuk anak-anak muda milenial yang ada sekarang. Dan hari ini yang saya temukan adalah pendidikan yang sangat minim di kepulauan”, ujar pria 23 tahun ini.

Berbagai perkembangan pembangunan daerah bagi Askari itu dimulai dari inovasi-inovasi yang diberikan pemuda setempat dalam rangka mengembangkan daerahnya. Untuk itu, perlu ada penyediaaan sarana prasarana pendidikan serta penyadaran kepada generasi muda akan pentingnya pendidikan.

Pemuda Pulau berjuang membangun pendidikan di kepulauan

“Sistem pendidikan yang ada di pulau sangat terbatas, mulai dari guru terbatas, siswa terbatas, juga kurangnya minat teman-teman untuk melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Makanya saya ingin membuktkan bahwa anak pulau bisa. Anak pulau tidak dilahirkan dari air laut yang tenang. Karena kita dilahirkan untuk bagaimana memberikan edukasi kepada daerah setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Memberikan inovasi-inovasi baru untuk daerah sendiri” tutur mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar ini.

Selain berharap pada pemerintah, menurut Askari, pemuda juga harus mengambil peran dalam upaya memajukan taraf pendidikan di daerah kepulauan. Karena nantinya mereka akan menjadi contoh bagi generasi mendatang. “Pemuda hari ini harus mengambil peran, karena kita akan menjadi contoh bagi generasi selanjutbya bahwa kakak-kakak saya bisa mempunyai pendidikan, bisa memberikan edukasi kepada masyarakat, bisa memberikan inovasi-inovasi untuk daerah” ujarnya.

Kini, Askari banyak melibatkan dirinya dalam gerakan literasi non formal di daerahnya. Salah satunya dengan memperkenalkan pentingnya pendidikan bagi generasi muda di kepulauan. “Kini saya memberikan edukasi melalui pendidikan non formal literasi untuk bagaimana masyarakat mengenal pendidikan lebih jauh dan untuk anak-anak muda yang akan menjadi mahasiswa nantinya untuk kedepannya bisa lebih memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat kepulauan”, tutur pemuda kepulauan ini.

Penulis : Azwar Radhif
Fotografi : Imran Herman

 

Follow us
Azwar Radhif

Azwar Radhif

Menulis untuk Cinta dan Keabadian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *