Bangun Hubungan Bertetangga

Penulis: Ilham Alfais

Suasana makan bersama di Kampoeng Bambu, Maros. Foto by maupa.co

W.S Rendra dalam puisinya berjudul Orang-Orang Miskin mengatakan “Jangan katakan dirimu kaya, Jika tetanggamu memakan bangkai kucingnya”. Tulisan ini adalah reaksi atas maraknya berita pembunuhan dan bunuh diri di kompleks perumahan dan rumah-rumah kos.

Dahulu, kita tidak akan sulit menemui adanya orang tua menegur seorang anak di bawah umur yang merokok di perempatan jalan. Namun, hari ini anak-anak terlihat begitu bebas merokok di mana saja tanpa teguran. Perubahan memang niscaya terjadi. Namun jika dilihat lebih lanjut, perubahan ini menuju pada matinya hubungan sosial.

Kita mungkin akan bertanya, pada contoh di atas, mengapa harus mengatur sedemikian rupa hidup orang lain yang bahkan kita tidak mengenalnya?. Lalu, seorang teman membenarkan dan berucap “yah, setiap orang mempunyai hak untuk menentukan jalan hidupnya masing-masing”. Melalui pertanyaan dan pernyataan di atas, justru secara tersirat menunjukkan perubahan itu.

Contoh di atas menunjukkan hilangnya kontrol sosial di dalam masyarakat kita. Bapak tadi menegur anak itu dalam rangka memelihara nilai dalam masyarakat. Namun hari ini, tidak banyak orang yang ingin menanggung beban moral semacam itu. Pada akhirnya penertiban semacam ini harus dikerjakan oleh kepolisian. Polisi yang narsis memasukkan aktivitas penertibannya dalam acara TV. Kita menonton acara itu dan menganggap tidak perlu khawatir dengan kenakalan remaja.

Baca Juga: Bangun Kesadaran Lingkungan dengan Sosialisasi yang Unik, Ini Langkah Sobat Bumi Makassar.

Hubungan sosial kita menjadi sedemikian parsial atau terpetak-petakkan. Bahkan pada tingkat tertentu menjadi begitu akut. Contoh tingkat akut ini adalah pada level bertetangga. Berapa banyak di antara kita dalam hidup bertetangga tidak saling mengenal satu sama lain. Kita baru akan terkejut ketika tetangga kita bunuh diri atau dibunuh.  

Hubungan sosial menuju pada ketidakpedulian satu sama lain. Apabila hal ini berlangsung terus-menerus, mungkin saja, bahkan dalam wilayah keluarga sendiri, kita akan tidak peduli. Padahal, kepedulian kita dapat menjadi langkah pencegahan terhadap perilaku menyimpang seperti bunuh diri.  Penguatan hubungan bertetangga juga dapat meminimalisir potensi konflik.

Ilustrasi bertetangga by wasatha.com

Pengendalian sosial pada lingkungan bertetangga begitu penting sebagai penguatan komunitas. Pengendalian sosial tidak mungkin terjadi tanpa adanya kesepahaman terhadap pedoman bertingkah laku. Lalu, kesepahaman hanya akan terjadi ketika kita saling mengenal satu sama lain.

Baca Juga: Masa Tua Petani Tak Bertanah

Sekarang ini kita telah masuk dalam babak baru kemajuan teknologi informasi. Era ini biasa disebut era informasi di mana akses terhadap informasi tidak terbatas. Hal itu juga mengisyaratkan tidak terbatasnya peluang kita untuk mengetahui pola hidup orang-orang di berbagai tempat. Hal ini menjadi masalah ketika meniru pola hidup tersebut tanpa menimbang kesesuaian budaya kita.

Akhirnya kita akan menjadi bingung sendiri menentukan mana yang baik dan buruk. Karena sekali lagi bahwa nilai atau apa yang di anggap baik, tidak lahir dari hubungan sosial kita. Akhirnya kita menjadi komunitas yang rentan; rentan terhadap konflik, kriminalitas, bahkan rentan didikte oleh komunitas lain tentang cara menjalani hidup yang tidak sesuai dengan komunitas kita.

 Negara kita sedang dirundung berbagai persoalan. Jika pada level bertetangga saja kita sudah tidak peduli, bagaimana kita bisa peduli pada persoalan negara?.

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *