Bangun Tradisi Literasi Sepakbola Makassar

Penulis: Azwar Radhif

Literasi PSM Makassar, penguatan budaya histori pasukan ramang. Foto by Azwar Radhif/maupa.co
Literasi PSM Makassar, penguatan budaya histori Pasukan Ramang. Foto by Azwar Radhif/maupa.co

Literasi menjadi salah satu metode penguatan budaya, siri’ na pacce dan sejarah pasukan Ramang, demi warisan klub sepakbola tertua Indonesia tersebut.

maupa.co – Beberapa ratus tahun yang lalu sebelum masuknya industri sepakbola saat buruh pelabuhan di kota Liverpool dan buruh pabrik meriam di London Utara belum membentuk tim sepakbola, di Bugis-Makassar sepakbola telah dimainkan dalam kemasan yang berbeda dari sepakbola pada umumnya. Kemudian sepakbola tersebut dinamakan Ma’raga atau Araga.

Permainan tradisional itu telah diinternalisasi dan kemudian bertransformasi ke Makassar Voetbal Bond, cikal bakal klub PSM Makassar. Waktu berlalu, lebih dari satu abad perjalanan tim kebanggaan masyarakat Makassar. Budaya Makassar telah menjadi prinsip dan nilai yang dipegang teguh.

Semangat siri’ na pacce menjadi identitas penguat jati diri seluruh elemen. Sebagai salah satu tim terbesar di Indonesia, sayang rasanya jika kita tak mengabadikan setiap fenomena sosial yang terjadi.

Sejatinya, sepakbola bukan hanya sekedar permainan untuk mengekspresikan minat ataupun hanya menonton pertandingan 2×45 menit semata. Terdapat hal-hal yang terjadi di masa sebelum, sementara dan sesudah pertandingan berlangsung.

Mulai dari sejarah tim, kondisi tim dan fasilitasnya, euforia dan heterogen/kemajemukan suporter, tukang parkir dan pedagang asongan yang hidup dari berjualan di sekitar stadion, hingga senyuman diwajah anak kecil yang berhasil menembus masuk di stadion tanpa tiket. Kisah ini tentu menarik diceritakan, bahwa sepakbola Makassar punya cerita sendiri. Tak kalah menarik dibandingkan dengan sepakbola luar maupun nasional.

Supporter, literasi dan PSM Makassar. Foto by Azwar Radhif/maupa.co
Supporter Fanatik, literasi dan PSM Makassar. Foto by Azwar Radhif/maupa.co

Literasi sepakbola Makassar dapat menjadi sebuah budaya sepakbola tersendiri, untuk mengenang sejarah kebesaran sepakbola Makassar pada masa-masa sebelumnya. Imam Martono, pegiat literasi sepakbola Makassar menuturkan “Mengawali dari status tim tertua sekaligus tim besar di Indonesia, PSM harusnya menjadi contoh bagaimana penulisan sejarah itu dikelola dan diproduksi dengan baik. Itu satu masalah,” ujarnya.

Selain itu, keterkaitan erat antara sepakbola dan konteks sosial politik hingga industri sepakbola kadang masih kurang mendapat perhatian yang lebih dari suporter sebagai elemen diluar manajemen klub. Hal ini yang kemudian menjadikan sepakbola sangat eksklusif. Lemahnya kritikan suporter dalam bentuk gagasan dan narasi, yang diabadikan dalam bentuk tulisan dapat dilihat sebagai faktor kecil lemahnya keterlibatan suporter.

Disisi lain, potensi gerakan sosial yang lahir dari sepakbola cukup besar. Bayangkan, puluhan ribu orang berkumpul dalam ruang yang sama, dalam satu tujuan bersama. Jika terorganisir, jumlah massa dapat menjadi kekuatan politik dalam merespon suatu permasalahan.

Baca juga: Bangun Gerakan Sosial Melalui Literasi

Banyaknya masalah yang terjadi, baik dalam sepakbola maupun diluar akan dengan mudah dikampanyekan jika telah terbangun kesadaran kritis suporter. Mulai dari kurang perhatiannya asosiasi sepakbola nasional hingga daerah, mandeknya pembangunan candi barombong dan nasib kaum UUSB, Stadion kebanggaan kita Mattoanging yang sejak awal dibangun hingga kini belum mengalami perubahan signifikan hingga industri sepakbola yang kini merusak lokalitas dan fairplay di beberapa tim.

Menyikapi masalah rendahnya literasi sepakbola Makassar, Imam menuturkan “di lain hal, kalau dalam hal budaya literasi sepakbola di Makassar sama halnya dengan budaya literasi secara akumulatif di Makassar, minim minat. Entah apakah memang masyarakat yang tidak suka membaca, atau narasi sepakbola di Makassar yang kurang menarik,” ucap salah satu pegiat sepakbola Makassar ini.

Beragam permasalahan ini kiranya perlu disikapi oleh seluruh suporter pecinta sepakbola demi membangun pola sepakbola yang ideal. Oleh karena itu, perlu penguatan literasi sepakbola sebagai media refleksi kritis untuk membangun sepakbola yang berintegritas, kritis dan progresif.

Partisipasi politik yang terbuka melalui penyampaian gagasan suporter akan membuat keseimbangan tim. Seolah tim juga dimiliki oleh publik Makassar. Seperti slogan yang senantiasa manajemen PSM gaungkan, Pemain Suporter Manajemen (PSM).

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *