Corona Antara Ikhtiar dan Tawakkal, Dimanakah Akal Sehat dan Kualitas Keimanan Kita?

Penulis: Dr. Ahmad Razak
Dosen Psikologi UNM
(Ketua Asosiasi Psikologi Islam Sul-sel)

Umat islam ditengah wabah virus corona. Ilustrasi by Unsplash
Umat islam ditengah wabah virus corona. Ilustrasi by Unsplash

Maupa.co – Virus corona benar-benar talah memengaruhi sendi-sendi kehidupan manusia. Kontak sosial seperti bersalaman, berkumpul semakin dibatasi bahkan jika perlu dihentikan untuk sementara waktu. Tidak sampai disitu saja, virus corona pelan-pelan namun pasti memengaruhi kondisi perekonomian. Alat-alat kesehatan seperti masker semakin mahal atau bahkan sulit ditemukan di toko-toko obat dan apotik, sementara  rempah-rampah seperti kunyit, jahe, temmu lawak dan rempah-rempah lainnya yang diyakini mampu mencegah virus corona harganya semakin melambung tinggi.

Dalam hal menjalankan Ibadah, terutama bagi umat Islam kian terbatas lingkup dan geraknya. Pemerintah Arab Saudi telah memberlakukan pelarangan sementara ibadah Umrah, lafdz adzan di Negara Dubai telah di ubah “Hayya ala Solah” menjadi “ Sallu fii rihaalikum”. Adapula sebagian yang tetap menjalankan shalat berjamaah di masjid namun sof berjarak antara jamaah yang satu dengan jamaah lainnya nampak seperti  barisan senam kesegaran jasmani. Seruan para ulama, da’i, dan muballig yang mengajak ummatnya agar bersabar dan mendekatkan diri kepada Allah Swt terkalahkan oleh derasnya pemberitaan virus corona diberbagai media pemberitaan elektronik maupun media online.

Dimanakah akal sehat dan kualitas keimanan kita?

Sejauh ini, manusia sudah lupa eksistensinya dibumi sebagai hamba dan sebagai khalifah, manusia bahkan sombong dan angkuh dengan segala prestasi yang dimilikinya. Ada manusia yang sombong dengan kekayaannya, ada yang sombong dengan kebangsawanannya, ada yang sombong karena ilmu dan prestasi akademiknya yang sangat luar biasa dengan berbagai gelar yang dimilikinya, bahkan Negara adi daya seperti China merasa sangat kuat dengan teknologi, tentara, persenjataan dan segala kemajuan yang dimilikinya tanpa disadari bahwa ada yang Maha kuasa di atas segala-galanya yaitu Allah Swt.

Dr. Ahmad Razak. Foto by Facebook/Ahmad Razak
Dr. Ahmad Razak. Foto by Facebook/Ahmad Razak

Virus corona hanyalah merupakan salah satu ujian kecil atau bisa jadi peringatan yang Allah Swt berikan kepada manusia, tujuannya adalah: a) agar manusia menyadari kesalahan dan kekeliruannya yang sudah jauh menyimpang dari fungsi dan tugas keberadaannya di bumi (sebagai hamba dan sebagai khalifah); b) agar Allah  Swt  mengetahui siapa hamba-hambanya yang beriman dan siapa yang fasiq.  Allah Swt berfirman “Innallaha laa yastahyii an yadhriba matsalaan maa ba’uudhatan famaa fauqahaa faammaal-ladziina aamanuu faya’lamuuna annahul haqqu min rabbihim waammaal-ladziina kafaruu fayaquuluuna maadzaa araadallahu bihadzaa matsalaa yudhillu bihi katsiiran wayahdii bihi katsiiran wamaa yudhillu bihi ilaal faasiqiin (Terjemahnya: Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?”Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik. QS. 2: 26).

Disinilah peran akal sehat manusia agar membaca dan memikirkan segala fenomena yang terjadi sehingga terbangun kualitas keimanan dalam menyikapi sebuah ujian, agar tidak salah dalam melangkah dan selaku orang yang beriman tidak terjerumus ke dalam perbuatan fasik. Sangat jelas di dalam surah al-‘Alaq dimana manusia diperintahkan untuk membaca “Iqra” dan diakhir surah ini disebutkan “wasjud waqtarib”.  Ini artinya bahwa dengan membaca yang sudah barang tentu menggunakan akal pikiran kita untuk menganalisa segala fenomena diharapkan agar manusia kembali bersujud dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Selaku orang yang beragama, Virus corona (Covid-19) mesti dihadapi dengan ikhtiar dan tawakkal. Ikhtiar adalah berusaha secara sungguh-sungguh dengan menempuh jalan yang sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu yang berlaku dalam bidang yang diusahakan, dengan disertai doa kepada Allah agar usahanya itu berhasil. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Ihrish ‘alaa maa yanfa’uka wasta’in billah walaa ta’jiz” (Artinya: Bersemangatlah kamu menempuh apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah sekali-kali kamu malas. H.R. Muslim).

Pada sisi yang lain kita seyognyanya tetap bertawakkal kepada Allah Swt, bahwa segala hal yang dilakukan hasil akhirnya diserahkan kepada Allah Swt. Apapun hasilnya setelah kita berikhtiar semaksimal mungkin, maka itulah keputusan dan ketetapan yang terbaik dari Allah Swt. Konsep tawakkal tersebut bagi ummat Islam sesungguhnya telah diikrarkan setidaknya lima kali sehari semalam setelah takbiratul ihram di dalam pelaksanaan sholat “Inna sholatii wa nusukii wa mahyaaya wamamaatii lillahi rabbil alamin” ( Terjemahnya: Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. QS. 6: 162).

Dalam situasi seperti ini, seyogyanya disadari bahwa betapapun hebat dan kuasanya manusia, betapapun kuat dan adidayanya suatu bangsa, pastilah Allah Swt Maha Kuasa di atas segala-galanya, lalu pada akhirnya manusia menjadi tidak berdaya di atas kehebatannya sendiri. Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir, wa laa haula wa laa quwwata illaa billahil ‘aliyyil adzhim (“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung, Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”).

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *