Di Balik Gawai Tak Tepat Guna, Ada Bahaya Mengintai Anak Usia Dini

Penulis: Muhammad Fauzy
Gawai dan kehidupan anak. Ilustrasi by LINE TODAY.
Gawai dan kehidupan anak. Ilustrasi by LINE TODAY.

Gawai berevolusi menjadi alat yang mengubah peradaban. Mulai dari gaya hidup, usaha , hingga pola pikir manusia untuk mengefisienkan seluruh pekerjaannya. Tak sedikit pula menyebabkan masalah, khususnya pada anak usia dini.

maupa.co – Sebut saja  Tamsir, anak yang duduk di sekolah menengah pertama ini terlihat sendirian sedang bermain permainan tradisonal yang disebut enggrang. Namun dia lebih menyukai bermain game digawai milik kakaknya.

“Lebih suka ka main game, tapi kadang main enggrang juga dengan temanku” ujar Tamsir. Tamsir melanjutkan pernyataannya bahwa hanya ada 4 orang temannya yang bermain enggrang. “Iye, 4 orang ji temanku main begini” bebernya. Tamsir juga menjelaskan ia sudah jarang bermain enggrang ini, namun lebih memilih bermain game di gawai kakaknya.

Tamsir salah satu contoh seorang anak yang secara tak sadar, bahwa budayanya sendiri telah terkikis oleh game yang umumnya tidak memiliki dampak sosial yang positif bagi lingkungan sekitarnya.

Tamsir, seorang anak yang masih bertahan bermain permainan tradisional. Foto by Fauzy
Tamsir, seorang anak yang masih bertahan bermain permainan tradisional. Foto by Fauzy

Di era revolusi 4.0 ini telah mengubah budaya dan tatanan sosial. Salah satu penyebab perubahan budaya dan sosial di era ini adalah perkembangan era digitalisasi yang begitu pesat. Konsep digitalisasi memiliki manfaat, dan tidak menutup kemungkinan memiliki dampak negatif. Contoh digitalisasi di era ini yang paling mencolok yaitu penggunaan gawai atau gadget.

Siapa yang tak mengenal gawai di era ini?. Mayoritas masyarakat dewasa ini telah mengetahui  alat yang mempermudah aktifitas manusia tersebut. Namun jika kita mengupas dibalik manfaat penggunaan gawai, tersisip pula bahaya besar yang mengancam kehidupan masyarakat.

Keluarga merupakan komponen masyarakat yang paling kuat. Namun, bagaimana jika keluarga yang kuat itu sendiri telah mengalami perubahan yang tak terkendali?.

Robert King Merton 1968 Dalam buku sosiologi pendidikan yang ditulis oleh Drs. Mansyur Radjab, M.Si, menyatakan bahwa didalam keluarga, terdapat anggota keluarga  yang memiliki perannya masing-masing. Para sosiolog setuju bahwa lembaga keluarga setidak-tidaknya memenuhi satu kebutuhan masyarakat universal, yakni sosialisasi anak-anak.

Keluarga menjadi lembaga fungsional pembentuk masyarakat yang ideal. Tak sedikit keluarga yang mengalami permasalahan yang mendasar, salah satunya pada diri anak-anak. Gawai menjadi salah satu faktor eksternal yang dimana didalamnya terdapat dunia baru yang sangat liar, membawa budaya yang tak sesuai dengan budaya keluarga tersebut. Kemudian keluarga mengalami perubahan budayanya Oleh karena itu, jika keluarga rusak maka masyarakat juga akan rusak.

Baca juga: Pentingnya Sekolah Desa

Selanjutnya jika anak-anak mengalami kecanduan pada gadget, keluarga juga akan mengalami tekanan di sektor ekonomi. Kecenderungan anak-anak yang selalu ingin mencoba hal yang baru demi memuaskan hasrat kesenangan dalam dirinya, membuat hak anak-anak ingin memiliki sesuatu yang baru dan bisa membuat kesehariannya lebih menarik. Bukan tak mungkin, anak-anak akan bergegas memojokkan orang tuanya untuk mendapatkan gadget tersebut.

Apa yang terjadi ketika si Orang tua tak sanggup memenuhi kebutuhan anaknya? Pertama-tama, anak akan mengalami perubahan sikap dan mental. Dimana perubahan sikap dan mental dari anak ini akan berdampak buruk kepada keluarganya.

Lalu selanjutnya anak akan acuh pada orang tuanya.  Jika orang tua sang anak memiliki pekerjaan yang pas-pasan, bukan tidak mungkin keluarganya akan menemukan masalah himpitan ekonomi.

Baca juga: PENDIDIKAN DI TANGAN MENTERI MILENIAL, PUTAR HALUAN BENAHI BIROKRASI EDUKASI DENGAN TEKNOLOGI

Tak sedikit keluarga yang hancur akibat himpitan ekonomi di Indonesia.  Bahkan banyak yang tak kuat menghadapi himpitan ekonomi ini, dan berujung pada bunuh diri. Akhir-akhir ini, kita dikejutkan dengan kasus anak yang duduk di bangku Sekolah Dasar telah melakukan aksi gantung diri.

Kasus itu menimbulkan banyak tanda tannya. Motifnya sampai saat ini belum diketahui.  Namun jika dilihat dari aspek keluarga, lembaga fungsional pembentuk masyarakat yang ideal  ini telah kehilangan hakekat fungsinya.

Dalam dunia digital saat ini, budaya menjadi universal. Mulai dari pornografi, kekerasan dan sebagainya menjadi ikut berbaur dalam konten-konten. Misalnya media video online dan media sosial yang menyajikan berjuta informasi, baik itu konten positif maupun konten yang buruk.

Bagaimana sikap anak-anak yang masih dini telah mengkonsumsi asupan yang tak seharusnya di konsumsinya? Anak akan hanya menerima informasi yang baru tersebut, tanpa adanya filter yang kuat.

Gawai dan anak
Gawai dan anak. Foto by sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Setelah anak mengkonsumsi  asupan yang buruk, masyarakat juga akan terkena dampak dari kegiatan anak tersebut. Mulai dari etika dan budaya yang sudah terkikis oleh budaya asing, hingga informasi yang tak benar atau yang sering kita sebut dengan Hoax. Etika pada orang yang lebih tua juga sedikit demi sedikit mulai terkikis habis.

Anak akan mulai menghayal dan mencoba melakukan apa yang telah ia konsumsi secara mentah-mentah. Akhirnya banyak timbul masalah dalam tatanan masyarakat, seperti kasus pornografi dan kekerasan antar anak usia dini. Menurut riset yang dilakukan oleh Kominfo, banyak anak-anak dan remaja rela serta sangat terbuka memberikan informasi pribadinya.

Meski saat ini pemerintah dan platform global telah menggalakkan program pembatasan usia dibeberapa konten, namun kenyataan saat ini sudah banyak anak-anak yang secara tak sengaja mengenal dan ingin tahu banyak soal informasi yang ia dapatkan tanpa pengawasan orang tua.

Peran Orang tua dalam kehidupan anak di Dunia digital. Foto by teras.id
Peran Orang tua dalam kehidupan anak di Dunia digital. Foto by teras.id

Alangkah baiknya, jika peran orang tua dalam keluarga perlu dimaksimalkan demi mengantisipasi permasalahan yang timbul dari seorang anak.  Anak yang  notabene belum mempunyai nalar yang cukup, memungkinkan segala hal dapat terjadi. Sebaiknya juga orang tua menanamkan nilai-nilai positif untuk menjadi penyaring aktifitas anak-anak di dunia digital.

Follow us

maupa

One thought on “Di Balik Gawai Tak Tepat Guna, Ada Bahaya Mengintai Anak Usia Dini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *