Dilema Lubang Tambang Marmer di Leang-Leang Maros

Kondisi lubang galian pasca tambang. Foto by Abustan
Kondisi lubang galian pasca tambang. Foto by Abustan

maupa.co – Lubang tambang marmer yang “menganga” tak lagi berproduksi. Lubang Tambang ini berada di Lingkungan Leang-Leang, Kelurahan Leang-Leang, Kecamatan Bantimurung. Bagian Utara Lokasi tambang hanya berjarak beberapa meter dari pemukiman warga Rt 03. Sedangkan pada bagian selatan terdapat situs Cagar budaya Gunung Samungkeng Leang-Leang. Sekitar lubang tambang marmer itu juga terdapat lahan pertanian produktif milik warga Kelurahan Leang-Leang.

Senin Pagi, 7 Oktober 2019 sekitar pukul 07.00, matahari baru saja muncul dari arah timur. Ternak sapi milik warga dilepas begitu saja untuk mencari makanan sendiri. Burung-burung menyanyi di antara pohon-pohon menyertai lantunan lagu dan musik yang terdengar dari rumah warga, tak jauh dari lokasi lubang tambang.

H. Asse seketika mempersilahkan naik dan duduk saat melihat wartawan Maupa.co datang kerumahnya. Ia adalah salah seorang tokoh masyarakat yang tinggal di sekitar lubang tambang. Saat diminta berkomentar terkait lubang tambang yang ada di belakang rumahnya, H. Asse mengatakan bahwa Lubang tambang itu memiliki manfaat, utamanya bagi para petani pada musim kemarau. Lubang tambang itu memiliki ketersediaan air yang cukup untuk lahan pertanian. Seandainya tidak ada lubang tambang itu, petani sekitar tidak bisa memproduksi padi di musim kemarau.

Kondisi lubang galian pasca tambang. Foto by Abustan

Namun, ketika ditanya bagaimana kondisi tambang Marmer itu saat masih aktif. H. Asse menerangkan, bahwa pada saat tambang itu masih aktif sangat mengganggu karena suara dan debu sampai kerumahnya. Setelah mendengar beberapa komentar H. Asse terkait lubang tambang dan kondisi tambang waktu masih aktif, wartawan Maupa.co pun pamit pulang.

Pukul 08.40, wartawan maupa.co kembali mencari narasumber yang dianggap dapat memberikan informasi terkait lubang tambang tersebut. Narasumber Kali ini adalah Lurah Leang-Leang, Burhan B. Saat ditemui, Pak Lurah baru tiba di kantor. Sebelum diwawancarai, Lurah Leang-Leang menyempatkan diri dulu untuk sholat duha. Pukul 08.49 barulah wawancara dimulai. Menanggapi persoalan lubang tambang yang berada di wilayahnya, Lurah Leang-Leang tidak banyak berkomentar karena memiliki keterbatasan wewenang.

Meski demikian, Pak Lurah, Burhan B, mengatakan bahwa seharusnya keberadaan tambang  diprotes ketika belum mendapatkan izin.  Sekarang, keberadaan tambang sudah kuat karena sudah mendapatkan izin. Lubang yang terbentuk pasca tambang, seharusnya ditimbuni kembali atau dilakukan reboisasi. Tapi persoalannya, apakah perusahaan tambang bersedia memperpanjang izinnya atau tidak.

Terkait dengan pemanfaatan air yang tergenang di dalam lubang pasca tambang, Lurah Leang-Leang menegaskan bahwa lubang itu harus tetap direklamasi karena hal tersebut merupakan ketentuan regulasi pasca tambang. Meski demikian, ia setuju jika warga memanfaatkan air yang tergenang tersebut untuk keperluan peternakan dan pertanian pada saat lubang tambang marmer belum direklamasi.

Penulis: Abustan
Editor: Ilham Alfais
Fotografer: Abustan

Follow us
maupa

maupa

Kehidupan Berkelanjutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *