Diskotik: Mendengar Kisah, Menuai Gelisah

Maupa.co – Tidak terwujudnya demokrasi yang bermartabat, membayangi Pemilihan Walikota (Pilwali) Makassar 2020. Sejumput kisah di masa lalu, menciptakan stigma kegelisahan di kekinian.

Derajat kepercayaan mendasar bagi masyarakat menjadi terpecah dan ikut melemahkan prinsip-prinsip berdemokrasi. Indikasi ini mencuat dalam Diskusi Kopi Politik (Diskotik) seri ke – 8 yang diadakan oleh Komunitas Peradaban Makassar. Ada dua alasan mengapa ini bisa terjadi.

Pertama, aroma kontestasi masih diliputi pertarungan saling mengambil endapan kepahitan. Tindakan Ini diperparah dengan aksi-aksi yang menjurus pada kekerangan verbal.  Secara kasat mata ini menjadi wahana konflik yang dapat mencederai semangat berkompetisi secara sehat.

Kedua, keterlibatan para elite, melahirkan konfigurasi dan konstalasi politik yang terpolarisasi. Aktor kunci yang bertarung di Pilwali Makassar 2020 memiliki irisan baik secara sosiopolitik maupun penetrasi kekuasaan.

Agenda Diskusi Diskotik

Berbagai kondisi yang terjadi ikut menambah akumulasi ketidakpastian bagi masyarakat. Para pemilih tidak memiliki eskalasi secara langsung terutama yang tidak berada dalam lingkungan pemenangan.

Harus diakui proses politik lewat Pilkada langsung adalah sebuah prosesi awal bagi pemenuan berdemokrasi di Indonesia, terkhusus di Makassar. Perubahan yang radikal ini memungkinkan perpolitikan mengalir bagi tumbuhnya kesadaran politik yang baik dan bertanggungjawab.

Namun demokrasi di Indonesia tidak berjalan sebagaimana harapan masyarakat saat Reformasi. Narasi ini diungkap kembali oleh Dr. Busman Rahman saat menjadi Narasumber Diskotik (13/11/2020) di Warkop Chemistry.

“Demokrasi kita telah dirampok oleh para elit dan Partai Politik,” lanjut jebolan Ilmu Politik Unhas. Harapan masing-masing calon pada Pilkada untuk didukung oleh suara masyarakat.

Lewat celah ini peluang bahwa masyarakat pemilih, memiliki hak untuk menentukan pilihannya. Namun itu tidak berjalan dalam sebuah pentas politik.

Demokrasi dan Kegelisahan Empiris

Di luar sana, para politisi dan pengusaha ikut mengangkangi demokrasi. Tapi peserta Diskotik di sini gelisah dengan demokrasi hari ini. Di sini, mereka bukanlah sekadar kumpulan massa mengambang. Tapi mereka patut disebut orang-orang yang gelisah dengan fakta demokrasi.

Wahyuddin Junus

Sejarah telah menunjukkan bahwa munculnya periode kematangan berdemokrasi dipahami sebagai sintesa dari perubahan sosial. Apa yang disuguhkan dari Diskotik kali ini adalah suatu kegelisahan yang bisa menggurita dan menempeli papan-papan memori dan ingatan-ingatan, yang selanjutnya masih harus diuji.

Tingkat antusiasme masyarakat untuk memilih, masih harus dipertanyakan. Tapi kita belum terlambat. Masih banyak yang bisa kita lakukan. Berbagai desakkan bottom-up dan tuntutan perubahan dalam banyak tempat mengilhami tumbuh dan berseminya kesadaran.

Gelanggang politik telah membuka pintu-pintu demokrasi. Pilihan-pilihan sikap dalam berdemokrasi telah membuka peluang sekaligus tantangan. Peluang, bahwa sebagai anak bangsa hendaknya memanfaatkan momentum Pilkada langsung ini disahuti dalam bentuk pemenuan khazanah peradaban manusia.

Kiprah dan aktifitas lembaga-lembaga politik menjadi keharusan bagi tumbuhnya kesadaran akan hak dan kewajiban masyarakat. Peran dan tanggung jawab masyarakat akan berbuah seiring dengan kemajuan kesadaran untuk bertindak.

Karena kesadaran bisa mengambil ruang yang cukup signifikan dalam berdemokrasi. Wujud kesadaran sendiri dipahami sebagai penemuan kembalinya manusia dari titik asalnya. Inilah yang mengilhami bentuk-bentuk pemihakan. Baik itu oposisi maupun pro-posisi.

Penulis : Wahyuddin Junus

Follow us
maupa

maupa

Kehidupan Berkelanjutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *