Dusun Tombolo Pate: Bincang-Bincang Produktif Langgam Keroncong

Sadaruddin Daeng Lawa sedang beraktivitas di kediamannya. Foto: Amhad Ishak Jundana/Maupa.co
Sadaruddin Daeng Lawa sedang beraktivitas di kediamannya. Foto: Amhad Ishak Jundana/Maupa.co

Maupa.co – Pada hari Rabu (11/11) saya menyempatkan diri menyusuri Kabupaten Gowa ke arah Barat, kemudian mampir di salah satu tempat bernama Dusun Tombolo Pate. Saat itu terlihat aktivitas masyarakat yang sedang meramu balok seolah seperti tiang. Nampak juga seorang musisi muda tengah memainkan alat musik gesek yang sengaja dimodifikasi berdasarkan kenyamanannya.

Saya kemudian menemui seorang tokoh langgam Makassar yang berada di Dusun Tombolo’ Pate, Kecamatan Pallangga, Kelurahan Je’ne Tallasa’ Kabupaten Gowa. Perlahan, tercipta sebuah interaksi di antara kita.

Saya ditanya “Battu kemaeko?” ungkap sosok yang sedang mengerjakan atau meramu tiang balok. Kalimat itu berasal dari bahasa Makassar yang berarti dari mana dirimu?. Secara spontan, saya langsung menjawab, “battu ri sandrangang (saya dari sandrangang). Sebuah wilayah yang terletak disebelah barat dari kediamannya.

Selang beberapa menit kemudian, saya pun kembali ingin tau tentang bidang yang selama ini ia geluti di musik tradisi Makassar. Saya menanyakan tentang bidangnya dalam bermain musik langgam yang menjadi tradisi Masyarakat setempat, umumnya di Kabupaten Gowa.

Beliau adalah Sadaruddin Daeng Lawa atau yang kerap disapa dengan sebutan Bapak Lawa. Bapak Lawa adalah putra Dusun Taeng yang saat ini berdomisili di Tombolo Pate Kabupaten Gowa. Beliau juga mendirikan Orkes Langgam Pelita Taeng.

Sadaruddin Daeng Lawa, Pendiri Orkes Langgam Pelita Taeng. Foto: Ahmad Ishak Jundana/Maupa.co
Sadaruddin Daeng Lawa, Pendiri Orkes Langgam Pelita Taeng. Foto: Ahmad Ishak Jundana/Maupa.co

Langgam diidentifikasi sebagai perkembangan musik keroncong yang berakulturasi dari musik modern ke alat musik gamelan yang identik dengan bass dan Cello dari fungsinya. Hal serupa diungkapkan oleh Daeng Lawa, “dalam permainan Cello, pukulan gendang berbeda beda di setiap daerah” ujarnya. Namun yang paling menonjol adalah cengkok pada irama lagu yang dimainkan.

Menurut Bapak Lawa, Langgam adalah ciri yang dibawakan oleh suara yang dilantunkan oleh penyanyi. Suara ini berkaitan dengan pembawaan penyanyi dalam mengolah cengkok pada saat bernyanyi. “Langgam bersifatkan daerah”, lanjutnya.

Langgam juga memiliki ciri dari bentuk sajian musiknya yang terdapat pada petikan gitar. “Petikan gitar pada Langgam Makassar identik dengan petikan Losquin”, tandasnya.  

Di Kabupaten Gowa, terdapat beberapa kelompok yang mengadopsi gaya ini pada sajian pertunjukan, diantaranya Pelita Taeng, Sanggar Seni Katangka, Pelantun Keroncong (Pelakor) dan Pelantun Langgam Takalar (Pelatar). Beberapa kali saya melihat sosok Bapak Lawa berkontribusi terhadap komunitas langgam, baik di Kabupaten Gowa maupun Takalar.

Pada pertunjukan langgam, sosok Bapak Lawa kerap dikenal dengan petikan Cellonya yang khas. Bapak Lawa banyak melakukan pentas kelompok Sanggar Seni Katangka. Selain sebagai pemain, beliau juga dikenal sebagai pembuat alat musik Langgam yakni Cello, dan Ukulele. Pertunjukan langgam dapat ditemui di acara pengantin dan khitanan dalam budaya Makassar.

Sementara itu, jika merujuk ke tulisan keroncong dulu dan kini karya Ririn Darini, istilah keroncong sudah ada sebelum bangsa portugis masuk yang ditandai dengan bunyi tertentu. Bunyi tertentu itu menjurus kepada bunyi yang dihasilkan dari bahan logam yang biasa dipergunakan untuk menari dan juga perhasan pada andong.

Berdasarkan data yang terdapat di beberapa media, keroncong mengalami sebuah dualitas identitas dari masa-kemasa. Menurut Ririn Darini, pada dasarnya keroncong dikatakan sebagai musik karena dalam pertunjukannya identik dengan petikan Ukulele.

Hal yang sama dikemukakan oleh Daeng Lawa, Keroncong dihasilkan dengan suara ukulele dan berganti nama cuk atau tenor secara umum. Beliau juga menganggap keroncong adalah identitas yang dimiliki oleh kebudayaan Jawa. “Jika sudah diluar kebudayaan jawa, maka musik tersebut disebut dengan istilah langgam karena langgam bernuansa kedaerahan”, Lanjutnya.

Musik Keroncong adalah jenis musik Indonesia. Musik keroncong dapat ditemukan berdasarkan lagu-lagu yang dibawakan. Lagu tersebut dibawakan berdasarkan dialek atau bahasa jawa dipengaruhi oleh prospel yang merupakan adaptasi komposisi musik barat (Prospel: Kemunculannya pada musik keroncong, Mohammad Tsaqibul Fikri dan Zulkarnain Mistortoify).

Namun, berdasarkan alat musik yang terdapat pada pertunjukannya tidak dapat dipungkiri bahwa musik keroncong adalah jenis musik dari hasil budaya cangkok. Hal tersebut juga dilontarkan oleh Bapak Lawa “Musik keroncong itu musik Indonesia, tapi jika dilihat dari alat musiknya, tidak dipungkiri musik ini juga bagian dari orang-orang barat” ujarnya.

Penulis: Ahmad Ishak Jundana
Editor: Azwar Radhif

Follow us
Ahmad Ishak Jundana

Ahmad Ishak Jundana

Menulis untuk sebuah realitas dengan ikhlas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *