Ekowisata Berbasis Konservasi Mangrove Desa Tongke-Tongke Sinjai

Pariwisata selalu menjadi ancaman bagi pelestarian lingkungan di Indonesia. Banyak kasus kawasan wisata yang menjual wisata alamnya rusak karena eksploitasi kunjungan. Untuk mengantisipasi kerusakan, digagaslah konsep wisata berbasis pelestarian lingkungan hidup yang kemudian disebut ekowisata. Salah satu contoh dari model ekowisata ini bisa dilihat di wisata mangrove Tongke-Tongke.

Maupa.co – Sejalan dengan namanya, kawasan wisata mangrove ini terletak di Desa Tongke-Tongke, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, berjarak 7 km dari pusat kota Sinjai. Kini, kawasan mangrove ini telah tersebar di 173,5 hektare pesisir Tongke-Tongke. Sekaligus menjadikannya sebagai salah satu kawasan magrove terbesar dan terpadat di Sulawesi Selatan.

Kawasan Mangrove Tongke-Tongke merupakan jenis kawasan ekosistem buatan manusia. Mulanya, kawasan wisata ini digunakan sebagai benteng pertahanan abrasi pantai yang melanda desa Tongke-Tongke.

Ide penanaman mangrove ini mulanya di gagas H. Taiyeb, seorang warga desa yang terinspirasi dari pengelolaan mangrove desa Samataring, sebelah desa Tongke-Tongke. Untuk itu, dirinya bersama beberapa warga kemudian mulai menanam mangrove sedikit demi sedikit untuk  mengurangi abrasi pantai.

Aktivitas pelestarian lingkungan ini menarik perhatian pemerintah pusat hingga kemudian pengelolan mangrove ini mendapat penghargaan Kalpataru dari Presiden Indonesia pada 1995 silam. Potensi wisata juga nampaknya telah difikirkan pemerintah setempat dengan membuka kawasan ekowisata ini.

Memasuki kawasan mangrove Tongke-Tongke, pengunjung mulanya dikenakan tarif retribusi senilai Rp 5.000. Tarif ini menurut pihak pengelola digunakan untuk pengelolaan kawasan wisata. Di depan pintu masuk terdapat stan penjualan merchandise biota laut berupa kerang, siput dan bebatuan koral berwarna yang disediakan untuk pengunjung yang hendak pulang membawa oleh-oleh.

Deretan Pohon Mangrove di Sepanjang Jalur Kunjungan

Setelah melewati gerbang masuk kawasan wisata, terdapat jembatan yang memanjang beberapa ratus meter menuju bibir pantai. Disepanjang kiri-kanannya pengunjung dimanjakan dengan pemandangan jajaran tanaman mangrove.

Meski begitu, selain sebagai destinasi wisata, mangrove juga berperan besar sebagai penangkal abrasi dan ekosistem alami bagi flora fauna yang hidup di sekitar mangrove.

Rahmat Januar Noor, dosen prodi ilmu kelautan Stitek Balik Diwa Makassar menjelaskan,” Secara ekologi, fungsi utama mangrove yaitu mencegah abrasi di kawasan pesisir sehingga masyarakat dapat bermukim dengan rasa aman di balik mangrove. Mangrove juga menjadi tempat bermukim biota-biota bernilai ekonomis sehingga dapat menambah mata pencaharian masyarakat selain jasa wisata” tuturnya.

Memandangi sela-sela pohon mangrove, biasanya terlihat ikan-ikan kecil dan kepiting bakau, yang sepenuhnya bergantung pada mangrove dari gangguan pemangsa yang berukuran besar. Sebab, ikan-ikan besar yang mencoba memasuki hutan bakau ini terhalang akar pohon mangrove.

Pengunjung Kawasan Wisata

Oleh karena itu juga, mangrove menjadi tempat berkembang biaknya ikan-ikan, “fungsi lain dari mangrove yaitu sebagai tempat ikan untuk memijah (spawning ground), mencari makan (feeding ground), dan tempat mengasuh (nursery ground). Jadi ibaratnya ekosistem mangrove itu menjadi sekolah pertama bagi ikan-ikan kecil jenis tertentu sebelum berenang ke laut”, tambah Rahmat.

Pohon-pohon mangrove yang menjulang tinggi menjadikan kawasan wisata ini begitu sejuk dan teduh. Banyak pengunjung yang sengaja beristirahat di sekitar jembatan untuk menikmati suasana berada di tengah hutan bakau dengan hembusan angin dari arah laut. Tak jarang pengunjung menyempatkan singgah berfoto untuk mengabadikan momen di kawasan wisata nan unik ini.

Momen beristirahatnya pengunjung juga dimanfaatkan penjual minuman dan makanan ringan di kawasan wisata. Ada beberapa penjual kecil-kecilan yang meraup keuntungan dari aktivitas berbelanja pengujung di kawasan wisata ini. Meski penjual harus sabar menantikan waktu-waktu ramainya pengunjung yang biasanya akan ramai pada sore hari atau di hari libur.

Kawasan wisata Tongke-Tongke juga menyediakan beberapa gazebo sebagai tempat beristirahatnya pengunjung, sembari menikmati pemandangan laut lepas di hadapan mereka. Gazebo-gazebo ini berada beberapa meter di depan hutan bakau, ditopang oleh penyangga kayu jembatan yang memanjang dari jalur masuk kawasan wisata.

Pengelolaan kawasan wisata tongke-tongke patut menjadi contoh dari pengelolaan kawasan wisata sumber daya alam berbasis hutan mangrove. Meski begitu, menurut Rahmat  masih perlu perbaikan kedepannya, untuk menambah daya tarik pengunjung tanpa menomorduakan ekosistem mangrove di kawasan tersebut.

“Kawasan wisata mangrove Tongke-Tongke Sinjai dan Lantebung Makassar dapat dijadikan rujukan untk pengelolaan wisata mangrove, meskipun pada beberapa titik masih perlu dibenahi”, ujar dosen kelautan STITEK Balik Diwa ini.

Follow us
Azwar Radhif

Azwar Radhif

Menulis untuk Cinta dan Keabadian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *