Festival Je’neberang 2020: Puisi, Tari dan Teater

Melalui Je’neberang River Festival 2020, para pelaku Seni Makassar berharap acara ini menjadi rutinitas di kalangan pegiat seni sekaligus sebagai upaya mempertahankan nilai budaya melalui seni.

Maupa.co – Je’neberang River Festival 2020 merupakan festival seni musik, tari dan teater yang digelar di jalan Daeng tata III, Kota Makassar. Festival ini mengandung unsur edukasi dengan menyajikan pemahaman dan pengalaman serta pertunjukan yang menjadi identitas setiap individu maupun kelompok. Festival ini selenggarakan selama tiga hari, dimulai pada tanggal 23-25 Oktober 2020.

Festival ini diinisiasi oleh salah seorang tokoh musik tradisi yakni Baharuddin Basri daeng Sila bekerja sama dengan direktorat jenderal kebudayaan. Baharuddin dikenal sebagai salah satu maestro musik tradisi yang berasal dari Sulawesi Selatan. Beliau juga dikenal sebagai salah satu tokoh sanggar Batara Gowa Sulawesi Selatan.

Sajian Puisi Pram

Penutup perhelatan ini menampilkan empat sajian, diantaranya, puisi Sukmaku di tanah Mangkasara’, tari kreasi I Sarampa, tari Pakarena Samboritta dan pertunjukkan tari dan teater kolosal.

Sajian pertama dibuka dengan kolaborasi Daeng Sila dan Prapanca Asia. Kolaborasi ini membawakan puisi tentang Sukmaku di tanah Mangkasara’. Pada pertunjukannya, Prapanca terlihat gagah dengan lantang membawakan sajak-sajak ciptaannya. Sesekali terdengar sentuhan dari Daeng Basri yang menyerupai keso’-keso’, dibantu tetabuh alat musik Makassar yakni Gendang Makassar, Beduq dan parappasa’.

Sajian kedua yakni pertunjukan tari kreasi yang berjudul “I Sarampa ”. Tarian ini bercerita tentang sosok perempuan yang selalu dihadapkan dengan benda bernama Balira. Menurut Sri Indrayanti selaku pimpinan sanggar Seni Pakarena Art, “Balira merupakan alat tenun yang dipakai untuk menenun sebuah kain sutra dikala senggang terhadap pekerjaan rumah tangga” ujarnya. Lebih lanjut menurutnya, “tarian ini memiliki makna ketegaran dan kegigihan, serta kekuatan”.

Tari Pakkarena Samboritta

Sajian ketiga menampilkan tari Pakarena Samboritta dari Sanggar Seni Siwalia Gowa. Sajian ini menunjukkan tari dengan gerak lamban yang diiringi oleh tetabuhan gendang Makassar. Pada sajiannya, gerak dilakukan oleh gadis remaja yang dihadapkan oleh posisi musikus dalam mengolah tetabuhan serta irama musik gendang Makassar. Berdasarkan sajian tersebut, dapat menjadi gambaran tentang Kelembutan sosok perempuan dalam menghadapi benturan dalam dinamika kehidupan.

Sajian terakhir adalah pertunjukan tari dan teater kolosal, sebagai penutup perhelatan je’neberang river festival 2020, sekaligus sebagai pertunjukan akbar di Malam 25 Oktober 2020. Pertunjukan ini diambil dari sebuah cerita legenda sungai je’neberang yang melibatkan beberapa mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi seni di Makassar. Sajian ini tergabung dalam kolaborasi sanggar seni Batara Gowa dan sanggar Kabupaten Gowa yang melibatkan kurang lebih dari 30 orang pelaku.

Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat menjadi rutinitas sekaligus upaya berkreasi dan mempertahankan tradisi lokal Makassar. “Semoga kegiatan ini dalam berjalan setiap tahunnya, agar dapat menjadi sebuah wadah untuk selalu berapresiasi melalui karya,” tutur Sri Indrayanti .

Penulis : Ahmad Ishak Jundana

Editor : Azwar Radhif

Fotografer : Ahmad Ishak Jundana

Follow us
Ahmad Ishak Jundana

Ahmad Ishak Jundana

Menulis untuk sebuah realitas dengan ikhlas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *