Firman Djamil: Hidup dalam Pandemi Covid19, Masyarakat Harus Berusaha Mandiri, Pemerintah Telah Lama Pergi

Kasus virus corona penyebab penyakit Covid19 terus bertambah. Sampai Jumat (26/6/20) situs covid19.go.id melaporkan, di Indonesia jumlah positif Covid19 sebanyak 51.427, sembuh 21.333 dan meninggal 2.683 orang. Sementara data covid19.sulselprov.go.id menunjukkan, total data positif di Sulawesi Selatan sebanyak 4304, dirawat 2788, sembuh 1361 dan meninggal 155. Apa yang seharusnya dilakukan ? Redaksi menyajikan pendapat Seniman Bereputasi Internasional, Firman Djamil.

Firman Djamil
Firman Djamil

maupa.co – Virus corona penyebab penyakit Covid19 benar ada dan berbahaya. Penyakit ini telah membunuh jutaan manusia di dunia sejak mulai mewabah di Wuhan Cina pada Desember 2019 kemudian menyebar ke seluruh dunia. Selandia Baru adalah negara yang telah melaporkan berhasil bebas dari wabah ini. Sementara Indonesia masih menunjukkan peningkatan jumlah kasus baru per hari.

“Kita tidak boleh pasrah terhadap virus corona ini meskipun kesannya, pemerintah telah meninggalkan kita,” demikian penilaian Firman Djamil, seniman lingkungan yang telah bereputasi internasional.

Baca Juga: Sosiolog Unhas: Mau Selamat dari Covid19? Informasi Harus Konsisten, Masyarakat Disiplin

Kondisi saat ini harus dihadapi masyarakat. Seniman yang telah memamerkan karyanya Fuel Flue pada Work of Sculpture installation in 2009 Drenthe Internationale Kunst-en natuurwandeling OverLeven, Belanda ini, menegaskan bahwa masyarakat harus melanjutkan hidup meskipun dalam keadaan tertekan secara ekonomi. Karena itu, masyarakat harus berinovasi.

“Salah satu caranya adalah melalui ma’balu’-balu’ dengan berbasis lokal, mengolah bahan lokal untuk dikomsumsi tetangga dan para pegawai, termasuk aparatur sipil negara,” jelas alumni Magister Seni ISI Yogyakarta ini.

Ma’balu’-balu’ adalah bahasa Bugis, dalam bahasa Idonesia, sinonim dengan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Dalam hal ini, Firman menegaskan agar masyarakat perlu melaksanakan nilai siamasei (saling membantu) sehingga pelaku UMKM tidak perlu mengharapkan bantuan pemerintah. Terbukti, kata Firman, pemerintah selalu lambat dalam merespon kebutuhan masyarakat, termasuk kebutuhan UMKM.

Burger Karaeeeng
Burger Karaeeeng

“Perlu ada seorang dirigen untuk menyadarkan kita tentang UMKM basis lokal. Kemarin ada masyarakat yang bikin kue kering dari bahan ubi kayu. Bahannya ini melimpah. Memang dibutuhkan kreatifitas,” jelas Firman yang juga telah memamerkan karyanya di Jepang dan Korea Selatan.

Firman, mengurai beberapa tips yang perlu dilakukan masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid19 ini. Hidup hemat, hindari belanja di toko besar seperti mall dan swalayan milik para pengusaha kakap. Mereka ini, nilai Firman, sudah mendapat berbagai keringanan dari pemerintah. Kebiasaan makan berbahan mie, pake mie lokal, bukan mie instan dan semacamnya.

“Jualannya online atau jualan bisik tetangga lebih oke. Contohnya ada teman saya jual siomai. Namanya Siomay Tokyo. Ada juga yang jual burger tapi ada nuansa lokalnya seperti Burger Karaeng dan lainnya. Ini semua enak dan bagus terus dikembangkan,” dukung Firman yang juga telah menunjukkan karyanya di Turki dan Eropa.

“Mengharap dari pemerintah? Apa yg bisa dilakukan pemerintah dengan rakyat saat ini? Lupakan, pemerintah telah lama meninggalkan anda. Lagian menurut Joko Edy, pemerintah sekarang sedang bangkrut. Ya, kita harus berdiri sekarang dan berjalan tanpa alas kaki. Mari sama menggalang kesadaran dan saling ketergantungan sesama. Kita masih memiliki kebersamaan dengan kerukunan sosial yang kuat dari tradisi lama kita. Mari saling mengisi di antara kita untuk mendapatkan buah dan berkah kreatifitas kita dalam masa-masa sulit ini. Semoga pandemi covid19 betul-betul berakhir. Sehingga kita ada jedah untuk merakit kembali kelangsungan hidup sesama,” kunci Firman Djamil.

Penulis: Syamsuddin Simmau
Editor: Muhammad Fauzy
Foto: maupa.co & Firman Djamil

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *