Hari Perempuan Internasional 2020: “Each for Equal”

Penulis: Kiki Susanty

Kesetaraan gender dalam Hari Perempuan Internasional. Ilustrasi by Unsplash
Kesetaraan gender dalam Hari Perempuan Internasional. Foto by Internasionalwomensday.com

Maupa.co – Hari Perempuan Sedunia atau dikenal dengan International Women’s Day (IWD) diperingati setiap 8 Maret. Hari Perempuan Internasional adalah hari global yang merayakan pencapaian sosial, ekonomi, budaya dan politik perempuan serta sambil menyerukan seruan untuk bertindak mempercepat kesetaraan gender.

Beberapa aktivis perempuan dan komunitas peduli perempuan merayakan peringatan ini di sebagian wilayah dunia.

Hari Perempuan Internasional pertama terjadi pada tahun 1911, yang didukung oleh lebih dari satu juta orang. Hari ini, IWD menjadi milik semua kelompok secara kolektif di mana saja. IWD tidak spesifik untuk Negara, kelompok atau organisasi.

Tema kampanye IWD 2020 diambil dari gagasan ‘Individualisme Kolektif’, yang mana hal ini berarti semua orang adalah bagian dari keseluruhan. Tindakan, percakapan, perilaku dan pola pikir individu  dapat berdampak pada masyarakat yang lebih luas. Dengan #EachforEqual Dunia yang setara adalah dunia yang memungkinkan untuk melakukan apapun, dikutip situs International Women’s Day.

Dalam situs tersebut, dijelaskan pula alasan dibalik terpilihnya tema kampanye tersebut

“Kesetaraan bukan masalah perempuan melainkan masalah bisnis, Kesetaraan gender sangat penting bagi ekonomi dan masyarakat untuk berkembang. Dunia yang sejajar gender dapat menjadi lebih sehat, lebih kaya, dan lebih harmonis” demikian penjelasan di situs resmi Hari Perempuan Internasional.

Di Indonesia, kesetaraan gender ini belum sepenuhnya terpenuhi. Masih banyak kasus kekerasan yang terjadi oleh perempuan dan anak. Secara kasat mata, masih ada yang menganggap bahwa derajat dan hak-hak wanita berada di bawah pria.

Menurut catahu komnas perempuan, sepanjang tahun 2019 komnas perempuan mencatat 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terdiri dari 421.752 kasus bersumber dari data kasus/perkara yang ditangani Pengadilan Agama, 14.719 kasus yang ditangani lembaga mitra pengadalayanan yang tersebar sepertiga provinsi di Indonesia dan 1419 kasus dari Unit Pelayanan dan Rujukan (UPR), unit yang yang sengaja dibentuk oleh Komnas Perempuan untuk menerima pengaduan korban yang datang langsung maupun menelepon ke Komnas Perempuan. Dari 1419 pengaduan tersebut, 1.277 merupakan kasus berbasis gender dan tidak berbasis gender 142 kasus. Data kekerasan yang dilaporkan mengalami peningkatan signifikan sepanjang lima tahun terakhir.

Bentuk kekerasan perempuan

  1. Dalam kurun waktu 12 tahun, kekerasan terhadap perempuan meningkat sebanyak 792% (hampir 800%) artinya kekerasan terhadap perempuan di Indonesia selama 12 tahun meningkat hampir 8 kali lipat. Diagram di atas masih merupakan fenomena gunung es, yang dapat diartikan bahwa dalam situasi yang sebenarnya, kondisi perempuan Indonesia jauh mengalami kehidupan yang tidak aman;
  2. Terdapat kekerasan terhadap Anak Perempuan (KTAP) melonjak sebanyak 2.341 kasus, tahun sebelumnya sebanyak 1.417. Kenaikan dari tahun sebelumnya terjadi sebanyak 65% dan paling banyak adalah kasus inses dan ditambahkan dengan kasus kekerasan seksual (571 kasus);
  3. Dalam data pengaduan yang langsung ke Komnas Perempuan, tercatat kenaikan yang cukup signifikan yakni pengaduan kasus cyber crime 281 kasus (2018 tercatat 97 kasus) atau naik sebanyak 300%. Kasus siber terbanyak berbentuk ancaman dan intimidasi penyebaran foto dan video porno korban;
  4. Kekerasan seksual terhadap perempuan disabilitas dibandingkan tahun lalu naik sebanyak 47% dan korban terbanyak adalah disabilitas intelektual.

Sementara di Sulawesi Selatan, menurut Aliansi Gerakan Rakyat Sulsel, dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia 2020 dengan menggelar panggung Ekspresi di Food Roa Café, Minggu, 7 Maret 2020 menyatakan pernyataan sikap “Politik Perempuan Untuk Keadilan Dan Kesetaraan”.

Aliansi Gerakan Rakyat mencatat sebanyak 538 perempuan di Sulawesi Selatan hingga hari ini mengalami berbagai macam bentuk kekerasan. Diantaranya, sebanyak 16 Kasus kekerasan dalam rumah tangga, 15 kasus kekerasan seksual, 407 kasus kekerasan terhadap perempuan akibat konflik agraria yang berkepanjangan, peraturan daerah dan budaya yang diskriminatif.

Beberapa identitas perempuan yang menjadi korban kekerasan, yakni: Ibu Rumah Tangga, Mahasiswa, Petani, Perempuan Pesisir, Buruh, orang dengan disabilitas dan kelompok rentan lainya. Adapun aktor kasus kekerasan terhadap perempuan banyak dilakukan oleh aparat negara; polisi, brimob, TNI.  

Aktor lainnya adalah negara/pemerintah melalui kebijakan dan program yang diskriminatif, perusahaan/pemilik modal yang merampas ruang kelolah perempuan, media melalui pemberitaan negatif yang menyerang seksualitas perempuan termasuk ekspresi dan identitas gendernya, penyerangan kelompok minoritas yang dilakukan oleh kelompok fundamentalisme yang mengatasnamakan agama dan moralitas, serta pembungkaman suara kritis dan ruang demokrasi mahasiswa yang dilakukan oleh pihak kampus.

Temuan khusus tersebut perlu mendapatkan perhatian serius dari negara sebagai tanggung jawabnya memberi perlindungan terhadap perempuan dan anak perempuan, terutama kebijakan yang menyangkut kekerasan seksual, baik dalam hal pencegahan, perlindungan, maupun penanganan, termasuk di ranah internet, untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan dan anak perempuan.

maupa

maupa

Kehidupan Berkelanjutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *