Hasan Daeng Ramma: Kerja Keras Kunci Keberhasilan

Hasan Daeng Ramma menjadi salah satu tokoh gendang Makassar yang mendedikasikan hidupnya pada seni musik tradisi Makassar, khususnya alat musik ganrang. Selain sebagai seorang seniman, beliau juga menjadi pembuat alat musik gendang tradisional Makassar ini.

Seniman ialah sebuah predikat yang dikenyam dengan kapasitas pembelajaran sebagai metode bertahan hidup berdasarkan kreatifitasnya. Adalah Hasan Daeng Ramma, salah seorang putra pesisir yang hidup dengan kreativitasnya sebagai seniman di Kota Makassar. Baginya, musik merupakan salah satu media yang dapat mewakili dirinya sebagai tokoh Musik tradisi Makassar.

Bagi Hasan Daeng Ramma, menjadi seniman musik tradisi Makassar khususnya ganrang (Gendang Makassar) adalah sebuah proses hidup dalam menghadapi kehidupan sehari-harinya. Hal ini tergambar pada sebuah jenis tabuhan yang disebut tunrung balli Sumanga’ atau yang dikenal Tunrung Pa’balle. Jenis tabuhan ini mengandung makna filosofis tentang proses kehidupan, dari kelahiran hingga kematian.

Aktivitasnya Membuat Gendang Makassar

Saat ini, Daeng Ramma menjadi salah satu tokoh Gendang Makassar yang mendedikasikan seni musik tradisi Makassar Ganrang sebagai suatu upaya bertahan hidup, khususnya di masa pandemi Covid-19. Seperti yang diketahui, virus Covid-19 menjadi wabah penyakit mematikan yang marak diperbincangkan di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan.

Berdasarkan data Pemerintah pertanggal 21/10/20, terjadi penambahan 4.267 kasus baru, sehingga telah mencapai 373.109 orang (Kompas.com). Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk meredam pandemi ini, salah satunya sosial distancing atau pembatasan sosial. Di Sulawesi selatan, pertanggal 20/10/2020, tercatat 17.593 orang yang terjangkit covid-19. Hari ini 21/10/2020 bertambah 97 kasus, sehingga secara keseluruhan mencapai 17.690 kasus (makassar.com).

Dampak pandemi covid-19 hingga kini menjadi kegelisahan bagi sebagian besar masyarakat. Salah satu kelompok masyarakat yang terdampak besar dari pandemi ini adalah kaum seniman dan pekerja seni. Sekitar 5 bulan terakhir, mereka tidak merasakan hasil dari kerja kerasnya, untuk bertahan hidup dihari esok.

Menurut Daeng Ramma “sejak pandemi terjadi, saya melibatkan keluarga besar untuk bertahan hidup”. Hal ini disebabkan pemberlakuan sosial distancing yang  berujung pada pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Makassar-Gowa menjadi sebuah proses berfikir panjang untuk bertahan hidup.

Lanjutnya, “hari ini menjadi sebuah proses sekaligus pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai sebuah keyakinan bahwa hidup ini ditentukan oleh seberapa jauh kita berusaha dengan tekun”. Diusianya yang menginjak 55 tahun, kondisinya terlihat masih bugar, bahkan melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh generasi penerusnya.

Penulis : Ahmad Ishak Jundana

Editor : Azwar Radhif

Follow us
Ahmad Ishak Jundana

Ahmad Ishak Jundana

Menulis untuk sebuah realitas dengan ikhlas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *