Hutan Indonesia, Korban Keserakahan Manusia dalam Hari Hutan Internasional

Penulis: Muhammad Fauzy Ramadhan

Deforestasi. Ilustrasi by Unsplash
Deforestasi. Ilustrasi by Unsplash

Maupa.co – Hari Hutan Internasional yang jatuh pada tanggal 21 maret adalah hari untuk memperingati hutan sebagai sumber kehidupan, habitat flora dan fauna yang beragam dan masih banyak lagi.  Namun sayangnya sampai saat ini hutan tidak menjadi perhatian utama dalam aspek kehidupan berkelanjutan. Contohnya saja seperti kasus karhutla, pembalakan liar dan industrialisasi yang sedang marak terjadi.

Berdasarkan data yang dirangkum  Sistem Monitoring Karhutla oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, total kasus karhutla tahun 2019 lalu seluas 1.592.010,00 hectare. Muncul beberapa indikasi bahwa penyebab karhutla secara umum ialah kelalain pihak yang membuang puntung rokok dengan sembarangan. Teknik pembakaran lahan juga memang diyakini adalah teknik yang murah dan efisien dalam melakukan pembukaan lahan.  

Sebut saja kasus alih fungsi lahan yang terjadi pada bulan januari tahun 2020 di Hutan Sendiki Malang. Dalam kasus tersebut ditemukan usaha pertanian dengan beberapa komoditi. Lembaga independen non profit Protection of Forest & Fauna (Profauna) Indonesia menelusuri Hutan Lindung Sindiki dan hasilnya terlihat beberapa pohon yang telah hilang.

Baca juga: “Suaka Laut Terancam!” Greenpeace Dorong Pemerintah Aktif Dalam Perjanjian Laut Internasional”

Koordinator lapangan Profauna Indonesia wilayah Malang, Erik Yunira mengatakan bahwa “hutan lindung ini sendiri tidak boleh dialihfungsikan bahkan untuk kegiatan berladang sekalipun, karena itu sudah diatur dalam Undang Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang kehutanan. Itu (berladang) dilarang,” ujar Erik dikutip Tagar.Id.

Kebijakan Pemerintah dan Laju Deforestasi

Menurut (Simon, 1993) Untuk menjaga terpenuhinya keseimbangan manfaat lingkungan, manfaat sosial budaya dan ekonomi, pemerintah menetapkan dan mempertahankan kecukupan luas kawasan hutan dalam daerah aliran sungai dan atau pulau dengan sebaran yang proporsional. Namun masih ada saja yang mencoba untuk melakukan pembalakan liar untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah.

Dalam Lembar Fakta yang berjudul “Angka Deforestasi Sebagai Alarm: yang dipublikasi oleh Forest Watch Indonesia (FWI) tahun 2019, sektor industri pertambangan berada pada posisi pertama penyumbang deforestasi terbesar dan kemudian disusul oleh sektor perkebunan. Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sangat berpengaruh pada laju deforestasi, belum lagi RUU yang sedang kontroversi saat ini yaitu Omnibus Law atau yang lebih dikenal dengan UU sapu jagad. Omnibus Law dinilai dapat memperlebar peluang pengrusakan ekosistem dengan memudahkan investor asing menanamkan modalnya tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekologi.

Organisasi Jaringan Pemantau Hutan Independen, Forest Watch Indonesia menyatakan bahwa angka laju deforestasi atau penebangan hutan selama 2013 hingga 2017 saja mencapai 1,47 juta hektare per tahunnya. Forest Watch Indonesia juga memproyeksikan pada tahun 2013-2034 Pulau Papua akan menjadi daerah deforestasi tertinggi yaitu sekitar 245 ribu Ha/tahun. Kemudian berjalan lebih jauh pada tahun 2034-2068, daerah yang memiliki deforestasi tertinggi adalah pulau Sumatera yaitu sekitar 57 ribu Ha/tahun.

Proyeksi deforestasi di Indonesia tahun 2034-2068. Foto by Screenshot Lembar Fakta Angka Deforestasi Sebagai “Alarm” oleh Forest Watch Indonesia 2019
Proyeksi deforestasi di Indonesia tahun 2034-2068. Foto by Screenshot Lembar Fakta Angka Deforestasi Sebagai “Alarm” oleh Forest Watch Indonesia 2019

Dampak Deforestasi Terhadap Manusia

Kerusakan hutan sangatlah berdampak buruk terhadap kehidupan manusia. FWI dan BPS membuktikan hal tersebut dengan melakukan analisis  dan mengembangkan keterhubungan antara rasio tutupan hutan alam dengan indeks kebahagiaan sebagai parameternya. Hasil yang didapatkan ternyata apabila terjadi kehilangan hutan alam sebesar 10% dari kondisi semula, maka tingkat kebahagiaan akan menurun sebesar 1%. Ini menandakan bahwa masyarakat setempat sadar akan pentingnya keberlangsungan hutan yang terjaga demi kebutuhan hidupnya, baik secara sosial maupun ekonomi.

Menurut peneliti asal Bogor, Lisnawati pada tahun 2012 memperlihatkan bahwa hutan alam yang belum terusik memiliki neraca hidrologi yang lebih baik jika dibandingkan hutan yang sudah diusik oleh tangan manusia. Hutan alam yang tidak terganggu dikatakan dapat mampu menyerap air dari curah hujan dalam jumlah yang besar jika dibandingkan dengan hutan yang telah terganggu. Hal ini terlihat jelas berpengaruh pada kehidupan manusia dan bencana alam menjawab itu semua. Seperti longor yang baru-baru ini terjadi dipulau jawa dan juga banjir yang tiap tahunnya merendam beberapa kota di Indonesia.

Berdasarkan analisis National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), data suhu udara umumnya memiliki peningkatan berkisar antara 0,01-0,06 derajat tiap tahun. Kenaikan tertinggi tercatat berada di sebagian besar wilayah pulau Jawa, Papua Bagian Selatan, Sulawesi Utara, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Tenggara dan sebagian Kamilantan Tengah.

Tidak mengherankan lagi mengapa bencana terus menimpa masyarakat Indonesia, sebab hutan yang harusnya menjadi tonggak kehidupan dijadikan alat penghasil rupiah secara besar-besaran. Sudah saatnya manusia memprioritaskan aspek keseimbangan ekologi, salah satunya adalah kelestarian hutan.

Selamat Hari Hutan Internasional, Hutan Penyangga Kehidupan Manusia

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *