Ibu-Ibu Bara-baraya Terus Perjuangkan Hak Atas Tanah

Penulis: Azwar Radhif

Kehadiran Ibu-ibu dalam demonstrasi bersama Mahasiswa. Fotoo by Azwar Radhif/maupa.co
Kehadiran Ibu-ibu dalam demonstrasi bersama Mahasiswa. Foto by Azwar Radhif/maupa.co

Maupa.co – Beberapa hari yang lalu, tepatnya selasa (10/3), ratusan mahasiswa Unhas yang tergabung dalam Aliansi Unhas bersatu menggelar aksi demonstrasi di depan Pintu masuk Universitas Hasanuddin Makassar. Dalam aksi tersebut, mahasiswa mengangkat isu Omnibus Law.

Massa aksi yang menggenakan almamater merah ini mulai bertemu di titik kumpul pada pukul 16.00 Wita, kemudian dilanjutkan dengan berjalan menuju titik aksi yang berada di pintu 1 Unhas. Setibanya di titik aksi, massa aksi kemudian membentuk lingkaran, dilanjutkan dengan penyampaian orasi.

Namun ada yang berbeda dari aksi kali ini, nampak puluhan ibu-ibu memegang spanduk bertuliskan ‘Bara-barayya tergusur, Makassar lautan api’. Puluhan ibu-ibu ini merupakan perwakilan dari aliansi Bara-barayya bersatu yang turut serta dalam aksi demonstrasi tadi. Mereka turut mengabarkan informasi terkait sidang sengketa tanah yang akan berlangsung di pengadilan negeri Makassar pada tanggal 12 Maret.  

Dalam aksi demonstrasi ini, terlihat ekspresi dukungan yang diberikan ibu-ibu, yang rumahnya berjarak kurang lebih 10 km dari kampus 1 Unhas, Tamalanrea. Tak jarang ibu-ibu ini meneriakkan jargon-jargon perjuangan, untuk menambah semangat massa aksi. Salah satu warga perwakilan dari Bara-barayya bersatu juga turut memberikan orasinya dihadapan massa aksi. Sementara beberapa lainnya terlihat memegang spanduk sembari mendengarkan arahan korlap aksi.

Ibu Rahima, salah seorang warga Bara-barayya menjelaskan, “Saya datang kesini mewakili Bara-barayya bersatu nak, ada sekitar 20 orang, maklum sekarang kan ibu-ibu pada umumnya punya kesibukan masing-masing makanya ibu-ibu tertentu ji datang. Karena memang dominan di Bara-barayya bersatu itu ibu-ibu, karena kita akan melawan siapapun yang mencoba melawan, saya akan melawan hingga titik darah penghabisan karena kita diatas kebenaran,” ujarnya.

Kehadiran ibu-ibu dalam aksi demonstrasi ini memperlihatkan hubungan yang erat antara mahasiswa dengan masyarakat setempat yang tanahnya terancam tergusur. Sengketa tanah ini telah terjadi sejak 2017 silam, diawali dengan penggusuran puluhan kepala keluarga di bagian Bara-barayya dalam.

Kemudian, penggusuran kembali mengancam 28 kepala keluarga di daerah tersebut. Sengketa tanah ini melibatkan masyarakat yang bermukim diatas tanah tersebut berhadapan dengan ahli waris pemilik tanah.

Baca juga: Hari Perempuan Internasional 2020: “Each for Equal”

Lebih lanjut Rahima menjelaskan,“kita minta keadilannya kepada hakim-hakim bahwa kita berada diatas kebenaran nak, karena memang kita tinggal di Bara-barayya sudah 50 tahun, kita dasar hanya itu surat sah. Kita punya surat, kita punya AJB (akta jual beli).

Penolakan tegas warga Bara-baraya atas persengketan tanah. Foto by Azwar Radhif/maupa.co
Penolakan tegas warga Bara-baraya atas persengketan tanah. Foto by Azwar Radhif/maupa.co

Ibu-Ibu Bara-Barayya Bersama Mahasiswa

Beberapa waktu terakhir terlihat gelombang demonstrasi masyarakat sipil menyikapi beberapa regulasi yang dianggap menyimpang, diantaranya Omnibus law RUU Cipta Kerja dan RUU ketahanan keluarga. Kehadiran dua regulasi oleh pemerintah dianggap sebagai langkah untuk memperbaiki perekonomian negara. Namun ada beberapa poin yang nampaknya masih belum disepakati oleh masyarakat, termasuk persoalan perburuhan dan izin lingkungan.

Selain isu ini, beberapa isu lainnya juga dijadikan fokus permasalahan yang diangkat dalam aksi-aksi demonstrasi, diantaranya isu kekerasan seksual dan perampasan ruang hidup, seperti yang digaungkan oleh Aliansi Bara-barayya bersatu yang diorganisir oleh masyarakat sekitar dan mahasiswa.

Aliansi Bara-barayya bersatu merupakan kelompok gerakan yang berkonsentrasi pada isu penggusuran yang mengancam kehidupan puluhan masyarakat yang tinggal di Jalan Abu Bakar Lambogo. Dalam kelompok ini, mahasiswa juga terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang berjalan “dari awal kasus bergulir, sudah 3 tahun memang anak mahasiswa sering yang membantu kita, dia membantu kita secara fikiran dan tenaga juga, tapi yang lain-lain kita, karena intinya kita bersatu,” ujar Ibu Rahima.

Melihat lamanya hubungan ini terbangun, rasanya sah-sah saja ibu-ibu dari daerah Bara-barayya ini membersamai mahasiswa. Di sekitar daerah yang terancam tergusur ini terdapat rumah warga yang dijadikan posko perjuangan. Posko ini seringkali ditempati oleh mahasiswa dan masyarakat lain, untuk sekedar berbincang dan menginap di tempat ini.

Ibu-ibu di sekitar posko memberikan perlakuan istimewa kepada mahasiswa dan masyarakat lain yang berkunjung ke tempat ini. Biasanya kopi, kue dan rokok sengaja disediakan kepada mereka yang menempati posko ini. Tak kalah pula ketika memasuki waktu makan siang, biasanya ibu-ibu telah menyediakan hidangan untuk disantap bersama.

Perayaan kemenangan warga Bara-baraya dan mahasiswa atas hasil sidang. Foto by Azwar Radhif/maupa.co
Perayaan kemenangan warga Bara-baraya dan mahasiswa atas hasil sidang. Foto by Azwar Radhif/maupa.co-baraya

Pagi tadi pasca sidang putusan dibacakan, warga bersama pendamping kembali ke posko untuk merayakan kemenangan. Setibanya di lokasi, situasi mendadak bergemuruh, oleh teriakan diiringi lantunan musik-musik keras, untuk mengekpresikan suasana hati mereka. Di sisi yang lain, warga nampak berkumpul,bersalam-salaman diselingi tawa bahagia. Ibu-ibu juga nampak tengah memeluk mahasiswa yang telah berjuang bersama mereka.

Hari ini sidang putusan kembali bergulir untuk kedua kalinya. Suatu kesyukuran tersendiri bagi masyarakat Bara-barayya dan kelompok yang mengawal isu ini, karena hakim pengadilan negeri Kota Makassar memutuskan untuk membatalkan gugatan penggugat dalam hal ini ahli waris sehingga tanah tersebut tetap menjadi milik warga sekitar. Satu lagi bukti bahwa rakyat kecil juga punya kekuatan selama berada di sisi kebenaran.

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *