Ibu-ibu Pulau Buhung Pitue Sinjai Produksi Rumput Laut

Sebagian besar perempuan di Pulau Buhung Pitue bekerja sebagai pengikat bibit rumput laut. Aktivitas ini selain untuk kebutuhan ekonomi keluarga, juga sebagai pengisi waktu luang mereka

Maupa.co – Pulau Buhung Pitue merupakan salah satu dari sembilan jajaran pulau yang terletak di kawasan Pulau Sembilan, Kabupaten Sinjai. Sebagaimana masyarakat pesisir pada umumnya, sebagian besar penduduk laki-laki usia dewasa berprofesi sebagai nelayan. Berbeda dengan suaminya, ibu-ibu pulau Buhung Pitue memilih bekerja sebagai buruh pengikat bibit rumput laut.

Aktivitas ini dilakukan nyaris setiap hari, mulai dari pagi hingga menjelang sore hari. Sekumpulan ibu-ibu ini nampak duduk melingkari bibit rumput yang disimpan di tengah lingkaran mereka, kemudian diikat menggunakan tali kapal. Proses mengikat ini yang menjadi pekerjaan utama. Bibit rumput laut yang ukurannya kira-kira sebesar telapak tangan orang dewasa ini diikat memanjang satu-persatu di tali kapal, hingga mencapai panjang kurang lebih 2 meter.

Aktivitas Ibu-ibu mengikat rumput laut ke tali

Bibit rumput laut ini merupakan milik pengusaha rumput laut dari Pulau Kambuno, sebelah pulau Buhung Pitue. Dari penuturan warga yang bertugas melepas bibit di laut, ada beberapa warga Pulau Kambuno yang menjadi pemilik usaha. Sebagian besar tenaga pekerjanya merupakan masyarakat pulau sebelahnya.

Untuk setiap satu ikat bibit rumput laut dihargai Rp. 3.500. Biasanya ibu-ibu ini bisa menyelesaikan hingga 10 ikat perharinya, atau setara dengan Rp. 35.000. Hasil kerja keras harian mereka akan dikumpulkan untuk nantinya dibayar sekaligus jika mencapai diatas satu juta rupiah.

Upah hasil kerjanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Pekerjaan ini menjadi pengisi waktu luang mereka yang sebagian besarnya ditinggal suaminya melaut. Salah seorang ibu-ibu menjelaskan, “ini untuk dipakai makan sehari-hari. Apalagi suamiku belum pulang beberapa bulan, jadi nelayan pattongkolo’,” ujarnya.

Banyak laki-laki dewasa di pulau ini bekerja sebagai nelayan penangkap ikan tongkol. Aktivitas ini cukup menguras waktu, karena sawi (pekerja penangkap ikan) biasanya akan cukup lama mengelilingi lautan, “paling cepat 17 hari kalau yang lama bisa 9 bulan di laut”, kata seorang nelayan. Karena lamanya suami mereka melaut, para ibu-ibu ini memilih menjadi pengikat rumput laut.

Seorang ibu memegang satu ikat rumput laut

Saat ditanya apakah tidak rindu dengan suaminya, serentak ibu-ibu ini menjawab sangat rindu, sambil tertawa terbahak-bahak melepas penatnya. Namun kerinduan ini katanya akan terbayarkan saat suami mereka kembali dari melautnya.

Setelah ikatan bibit rumput laut ini terkumpul, bibit-bibit ini nantinya akan disimpan sementara di bibir pantai, menunggu datangnya nelayan dari pulau sebelah untuk menjemputnya. Bibit rumput laut ini akan disimpan di satu tempat di lautan yang berada dekat dari Pulau Kambuno.  Jika telah siap panen, rumput laut ini akan dijemur beberapa hari di tempat pengeringan.

Rumput laut ini nantinya akan dijual kepada pengusaha asal Makassar untuk diproduksi menjadi agar-agar. Setiap kilonya, rumput laut kering ini dihargai 10.000 rupiah. Meski sederhana, komoditas rumput laut telah begitu menghidupi masyarakat pulau sembilan, selain aktivitas menangkap ikan dan jualan kecil-kecilan.

 

Penulis : Azwar Radhif

Editor : Muhammad Fauzy Ramadhan

Fotografer  : Azwar Radhif

Follow us
Azwar Radhif

Azwar Radhif

Menulis untuk Cinta dan Keabadian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *