Ibu-ibu Pulau Sangkarrang Tolak Tambang Pasir

Protes Ibu-ibu Nelayan Makassar di Kantor Gubernur Sulsel (13/8)

Pengerukan pasir laut di pesisir Makassar sampai hari ini masih mendapatkan penolakan dari masyarakat. Selain ancaman kerusakan lingkungan yang ditimbulkan, aktivitas tambang ini juga berdampak besar bagi permasalahan ekonomi keluarga nelayan. Menurut pengakuan keluarga nelayan, aktivitas tambang ini menyebabkan perairan laut tempat nelayan menangkap ikan menjadi keruh, sehingga hasil tangkapan menurun drastis.

Maupa.co – Sejak pagi (13/8), puluhan ibu-ibu yang membawa anak-anak mereka memadati pekarangan kantor Gubernur Sulawesi Selatan. Ibu-ibu yang mayoritasnya merupakan para istri nelayan ini menggelar aksi demonstrasi, berharap dapat bertemu dengan Gubernur Sulsel, Prof Nurdin Abdullah.

Kehadiran ibu-ibu ini bermaksud agar Pak Gubernur Sulsel mencabut izin tambang pasir Boskalis yang dirasa merugikan nelayan Pulau Sangkarrang. Kehadiran kapal-kapal besar pengeruk pasir di wilayah tangkap nelayan telah memperkeruh perairan sehingga nelayan kesulitan mencari ikan. Berkurangnya hasil tangkap berdampak pada kondisi ekonomi keluarga nelayan.

Salah seorang istri nelayan menjelaskan, “Kami para istri nelayan merasa menderita, karena suami kami selama melaut selalu tidak mendapat hasil.  Dampak dari penambangan pasir boskalis banyak, gelombang tinggi, air laut keruh, pesisir laut dangkal dan rusaknya terumbu karang” tutur Zakia.

Perempuan Nelayan Berorasi Memprotes Tambang Pasir (13/8)

Para ibu-ibu ini silih berganti menyampaikan orasinya. Mereka menyampaikan keluhan demi keluhan menyangkut kehidupan keluarga nelayan, yang tengah mengalami kesulitan, “kalau suami tidak dapat uang dari mencari ikan, apa yang akan diberikan ke anak-anak?, menangis anak kami, beli beras satu liter saja susah” keluhnya.

Masalah dari pengerukan pasir ini adalah lokasi tambang yang berada tepat di wilayah tangkap nelayan, yang juga dekat dengan tempat tinggal mereka. “Masalahnya ini lokasi pengerukan pasir di tempat nelayan memancing, jadi bagaimana bisa dapat ikan? Makanya kita tidak terima. Kenapa harus disitu, lautan itu luas, lanjut Zakia.

Hingga hari ini, para warga yang didominasi ibu-ibu istri nelayan masih bertahan di depan pintu masuk kantor Gubernur Sulsel. “Kami tidak akan pulang sampai Pak Gubernur keluar dari kantornya dari bertemu kami”, teriak salah seorang massa aksi.

 

Penulis : Azwar Radhif
Editor : Muhammad Fauzy

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *