Inilah Pesan Rektor Unismuh Makasar Prof. Rahman Rahim di Acara Wisuda 2 November 2019

Penulis: Muh. Ma’ruf

Susasana prosesi wisuda Unismuh Makassar. Foto: Muh Ma’ruf.

maupa.coMAKASSAR. Unismuh Makassar kembali menggelar wisuda ke 69 pada 2 November 2019 di Balai Sidang Unismuh Makassar.

Wisudawan yang tercatat pada prosesi ini sebanyak 1.710 alumni dari 32 program studi dengan 7 fakultas.

Rektor Unismuh Makassar, Prof . Dr. H. Abd Rahman Rahim SE MM, dalam sambutan acara wisuda menegaskan, “selaku sarjana baru alumni memiliki tantangan tidak ringan. Karena akan memasuki dunia yang benar-benar membutuhkan kemampuan beradaptasi dengan cepat” tegas doktor ekonomi Islam PPs-Unair Surabaya ini.

“Kondisi kekinian ada lima keterampilan yang dibutuhkan yakni: keterampilan pemecahan masalah, kemampuan bekerja dalam tim, keterampilan komunikasi melalui tulisan, kepemimpinan dan etika kerja kuat” tutur Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unismuh Makassar pada masanya ini.

“Gelar sarjana ini jangan dilihat sebagai akhir dari proses tetapi harus disadari sedang memulai tanggung jawab yang lebih besar. Jangan puas dengan apa yang dicapai, tetapi teruslah belajar, berlatih dan menimba pengalaman” katanya.

“Semua ini bertujuan meningkatkan personal skill, interpersonal skill, leadership skill, learning skill, presentation skill, writing skill, numeracy skill maupun parenting skill” tandas Ketua Umum Kesatuan Masyarakat Wajo (Kemawa) ini.

“Dunia saat ini berubah dan mengalami lompatan tak terduga. Kompetisi tidak lagi skala lokal maupun nasional, tetapi kompetisi bersifat global. Para alumni yang akan memasuki dunia kerja harus pahami apa yang dikuasai dan potensi diri yang bisa unggul dalam bidang karir pilihan,” ungkapnya.

Susasana prosesi wisuda Unismuh Makassar. Foto: Muh Ma’ruf.

“Mengetahui kekuaran diri tidak hanya sukses mengantar pada pasar kerja tetapi juga membuat para alumni akan tangguh menghadapi tantangan masa depan.”

Namun, motivasi Rektor Unismuh di atas tidak diberengi dengan keadilan pada dunia kerja. Ada streotip yang melekat pada dunia kerja di Indonesia. Streotip itu adalah lulusan Perguruan Tinggi Negeri (PTS) lebih baik dibanding lulusan Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

Pertimbangan utama menerima seseorang bekerja ialah apakah ia lulusan PTN atau PTS. Padahal, persaingan tenaga kerja seharusnya berfokus pada pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki pelamar kerja, bukan tempat pelamar menimba ilmu.

Turut hadir dalam acara wisuda, Wakil Ketua PP Majelis Dikti Muhammadiyah, Prof Dr Safri Sairin, Ketua BPH Unismuh Makassar, Dr. Ir Saiful Saleh M.Si.

Sekretaris LLDIKTI IX Sulawesi, Drs. Andi Lukman, M.Si serta para anggota senat Unismuh Makassar. (Ulla/Yahya).

Fotografer : Muh. Ma’ruf
Editor : Ilham Alfais

Follow us
maupa

maupa

Kehidupan Berkelanjutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *