Petani Lokal Berinovasi, Sayangnya Dicegat Belenggu Legalitas

Penulis: Muhammad Fauzy Ramadhan

Petani kangkung dan buncis diamankan petugas. Property by poskotanews.com
Petani kangkung dan buncis Kabupaten Gresik dan Lamongan diamankan petugas. Foto by poskotanews.com

Penangkapan petani hortikultura di Kabupaten Gresik dan Lamongan yang lalu, menjadi bukti kekejaman kebijakan pemerintah atas dasar legalitas dan fomalitas.

maupa.co – Baru saja Dunia pertanian khususnya bidang hortikultura dikejutkan dengan penangkapan petani kangkung dan buncis di Pulau Jawa, yang diduga melakukan pelanggaran terkait legalitas. Petani di Kabupaten Gresik dan Kabupaten Lamongan tersebut diringkus aparat, karena melakukan praktik usaha budidaya ilegal tanpa label atau sertifikasi pemerintah.

Petani yang menanam jenis kangkung dan buncis di Gresik dan Lamongan tersebut, diindikasi menyalahi aturan dengan memasarkan bibit kepada masyarakat sekitar tanpa melewai proses sertifikasi. Varietas kangkung petani tersebut ternyata banyak diminati oleh masyarakat. Omset pertahunnya yang fantastis senilai  kurang lebih 3 M, menjadi bukti tingginya permintaan pasar bibit petani tersebut.

Petani kangkung dan temuannya. Foto by Fauzy
Petani kangkung dan temuannya. Foto by Fauzy

Fakta tersebut baru diketahui oleh pihak berwenang setelah 9 tahun lamanya. Bayangkan telah berapa keuntungan yang mereka raup dari hasil penjualan bibitnya.  Dilansir dari suryamalang.com, Mereka diamankan dengan barang bukti 15 ton benih kangkung dan 1,7 ton benih buncis.

Baca juga: MASYARAKAT ADAT BERTAHAN DARI BAYANG-BAYANG PENGGUSURAN

Mereka memasarkan benih dan bibitnya ke toko-toko kecil, namun kebiasaan masyarakat juga sering mendatangi langsung ke lokasi budidaya petani tersebut.

Ada fakta yang mengejutkan dari kasus ini. Terungkap bahwa bibit dan benih yang diproduki, ternyata bukan merupakan benih ataupun bibit yang berasal dari luar negeri. Mereka mengungkapkan bahwa benih dan bibit yang diproduksi ini adalah hasil temuan mereka sendiri, atau bisa disebut eksperimen mereka terhadap pengembangan varietas baru yang lebih unggul.

Kangkung. Property by Tribunlampung.co.id
Kangkung. Foto by Tribunlampung.co.id

Disisi lain, ini bahkan menjadi kemajuan ekonomi rakyat. Jika ingin ditelaah lebih lanjut, ini adalah hal yang sangat menakjubkan dari segi ilmu pengetahuan dan ekonomi. Secara tidak sadar petani yang memproduksi benih secara otodidak tersebut memiliki pemahaman dan kreatifitas, serta kemauan yang tinggi dalam mengembangkan sektor pertanian.

Dari segi ekonomi, jika difikir-fikir sudah banyak produsen benih impor yang masuk  ke pasar lokal. Memang mereka memiliki label dan telah lolos tahap sertifikasi, namun ingat mereka adalah pihak asing. Bayangkan petani lokal yang membeli diprodusen impor,  sudah berapa banyak omset perusahaan asing raup dari petani lokal kita? Kita telah melihat bagaimana perusahaan-perusahaan asing mengeruk hasil bumi Nusantara dan meraup untuk yang melimpah. Bagaimana nasib petani, yang berusaha meningkatkan nilai ekonomi lokal dan kreatifitas pemahaman terhadap tanamannya sendiri? Apakah wajar mereka ditangkap begitu saja?

Belum lagi permasalahan agraria lainnya seperti penurunan pekerja pertanian tiap tahunnya, UU tentang Agraria yang kontroversial, pengalihan lahan pertanian meniadi lahan industri perusahaan besar, hingga hak-hak masyakakat adat terhadap tanah mereka.

Baca juga: DILEMA “PENGUSAHAAN” LAHAN PERTANIAN MENYONGSONG REFORMA AGRARIA

Harusnya pemerintah mengapresiasi langkah petani tersebut, karena mereka telah menghasilkan varietas tanaman baru yang lebih unggul. Bahkan sebuah prestasi juga dimana petani tersebut bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan asing, yang telah ada sejak lama di Indonesia. Alangkah baiknya lagi, pihak pemerintah memberikan fasilitas dan perhatian penuh kepada petani yang ingin meningkatkan ekonomi di sektor pertanian.

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *