Kehidupan di Bawah Patung B.J Habibie Kota Parepare

Penulis: Azwar Radhif

Monumen B.J Habibie
Monumen B.J Habibie. Foto by Azwar Radhif/maupa.co

Monumen B.J Habibie berdampak luar biasa bagi pelaku bisnis di Kota Parepare. Disulap menjadi sedemikian rupa, hingga dapat menjadi ladang penghasilan bagi masyarakat setempat. Meskipun B.J Habibie telah wafat, namun hingga kini memberikan banyak manfaat bagi orang lain.

maupa.co – Monumen B.J Habibie yang terletak di Pusat Kota Parepare menjadi ikon tersendiri bagi pengunjung, terutama wisatawan yang berasal dari luar daerah. Sayang rasanya bila tak mengabadikan momen saat berada di monumen tersebut. Hal ini lah yang menginspirasi Gunawan Bahtiar, pemuda kelahiran Parepare ini untuk membuat inovasi melalui usaha pemotretan. Pemotretan ini tentu saja sangat membantu pengunjung untuk mengenang jejak kunjungannya ke tanah kelahiran Presiden RI ke 3, Bapak Ir. B.J Habibie.

Berbekal pengalaman kunjungan ke beberapa daerah dan keahlian fotografinya, Gunawan mampu membangun usahanya sendiri. Usaha jasa pemotretan dan cetak foto ini telah dirintisnya sejak 2016 silam.

Awalnya hanya bermodalkan kamera dan skill fotografinya, Kini ia telah mampu memperkerjakan 3 orang karyawan yang juga berstatus pelajar. Namun tak hanya memberi gaji kepada karyawannya. Menurutnya akan sangat sia-sia jika karyawan tak diberi edukasi untuk nanti dapat diamalkannya. Kini karyawannya telah dipercayakan memotret pengunjung.

Suasana tempat kerja fotografer Monumen B.J Habibie
Suasana tempat kerja fotografer Monumen B.J Habibie

Aktivitas pemotretan dimulainya pada sore hari. Tak ingin pelanggan hanya berfoto dengan patung, ia menawarkan fitur patung boneka disebelah pengunjung saat hendak berfoto. Karakter patungnya diambil dari animasi anak-anak yang digemari hingga kalangan dewasa. Penambahan ikon animasi ini lahir setelah analisis pemasukan perusahaan, hingga dirasa dengan berdirinya patung ini menambah minat foto pengunjung.

Pengunjung bebas memilih patung boneka yang  hendak mereka temani berfoto, tarifnya pun bervariasi. Untuk foto normal dengan 2 patung dipatok dengan harga 25.000. Biaya ini juga termasuk 1 lembar foto 10 R dan soft copy foto yang diberi ke ponsel pelanggan. Selebihnya, setiap boneka bertambah Rp. 5000, termasuk juga pengunjung yang memakai ponsel pribadinya.

Baca juga: KISAH ARUM MANIS, JAJANAN TRADISIONAL DI TENGAH DOMINASI SNACK INDUSTRI

Titik tekan dari usaha ini adalah pelayan dan kualitas. Gunawan menuturkan “Semua keberhasilan tergantung kualitas yang konsumen rasakan. Ketika kualitasnya bagus, semua akan mendengar itu dari mulut konsumen tadi. Akhirnya akan tersebar ke banyak orang,” ucap wirausahawan ini.

Namun, untuk dapat menarik pengunjung, hal yang perlu diperhatikan adalah marketing. Lebih lanjut ia menjelaskan “Strategis dari produk penjualan adalah marketing. Walaupun manajernya bagus, tapi kalau marketingnya tidak dibekali maka akan berkurang omzetnya. Makanya inti dari usaha ini adalah karyawan, karena mereka yang bersentuhan langsung dengan karyawan, sedang saya hanya mencetak hasil karya mereka,” bebernya.

Baca juga: HARI SANTRI NASIONAL, MENGENANG RESOLUSI JIHAD

Pengunjung Monumen B.J Habibie menikmati suasana kota Parepare

Penghasilan yang diperolehnya sangat bergantung pada jumlah pengunjung yang hendak berfoto di monumen cinta ini. Jika hari libur, biasanya tingkat pengunjung akan bertambah dan akan berpengaruh pada pendapatan usahanya. Sebaliknya di waktu kerja, jumlah pengunjung yang berfoto lebih sedikit dari hari libur.

Saat tingginya permintaan foto, mereka bisa mendapat puluhan hingga ratusan foto. Kadang ada konsumen yang mencetak beberapa foto, dikarenakan gaya dan aktor foto yang berbeda. Jika demikian, harganya akan dikurangi. Semakin banyak permintaan oleh satu konsumen maka biayanya berkurang.

Baca juga: PERTANIAN “ORGANIK”, PERTANIAN MASA DEPAN

Sadar akan kedudukan patung Habibie&Ainun adalah ruang publik, mereka tak mau mendominasi ruang tersebut. Ketika ada tamu dalam jumlah besar berkunjung ke tempat ini, patung badut akan dipinggirkan. Agar pengunjung tak merasa terganggu dengan kehadiran badut saat hendak mengambil gambar. Penempatan patung badut diletakkan di sudut patung. Jika disimpan ditengah patung, itu dapat menganggu spot foto pengunjung yang lain.

Hingga kini usaha tersebut telah memasuki tahun ketiga. Gunawan adalah satu dari sekian anak muda yang mencoba memanfaatkan peluang dengan kreatifitas. Terakhir, ia berpesan “ untuk pemuda milenial, jangan takut berkreasi. Apalagi ada media internet yang mudah diakses. Manfaatkan itu jadi peluang untuk menghidupi orang banyak,” quotes nya.

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *