Konflik Kekerasan Antar Mahasiswa; Begini Menurut Sosiolog Unhas

Reporter: Azwar Radhif
Editor: Ilham Alfais

Dr. Buchari Mengge, M.A. Foto by maupa.co

Institusi Pendidikan seharusnya menjadi garda terdepan dalam membangun dan memelihara peradaban. Namun, konflik kekerasan antar mahasiswa seolah meruntuhkan pencapaian atas nilai itu. Identitas kolektif yang ditanggapi secara fanatik menjadi sebab utama.

maupa.co-Karakteristik masyarakat perkotaan adalah heterogen atau beragam. Baik itu pekerjaan, tingkat pendidikan, agama, bahkan beragam pada hal paling kecil sekalipun. Misalnya keberagaman selera musik. Keragaman ini dapat memicu keseimbangan atau integritas masyarakat. Kesimbangan yang dimaksud adalah saling mengisi satu sama lain. Namun, sebaliknya keragaman ini juga dapat rentan terhadap konflik karena tingginya tingkat perbedaan.

Konflik pada wilayah perkotaan tak jarang pula terjadi di kalangan mahasiswa. Konflik antar mahasiswa, dalam hal ini konflik kekerasan, hampir setiap tahunnya terjadi di Kota Makassar. Awal tahun ini saja terjadi konflik antar mahasiswa di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, beberapa bulan sebelumnya juga terjadi konflik kekerasan antar mahasiswa di Universitas Negeri Makassar (UNM). Dapat dikatakan bahwa hampir setiap kampus-kampus ternama di Kota Makassar punya tradisi konflik antar mahasiswa. Sebut saja Unismuh, UNM, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar dll.

Hal ini tentu saja memunculkan sebuah pertanyaan, mengapa terdapat gejala yang sama pada setiap institusi pendidikan tinggi yang disebutkan di atas?. Menurut sosiolog Unhas, Buchari Mengge, bahwa “itu (konflik kekerasan antar mahasiswa) di Indonesia Timur ini khususnya di Kota Makassar punya sejarah yang Panjang. Masa saya (masih mahasiswa) juga banyak terjadi konflik kekerasan termasuk di Unhas”.

Baca Juga: Polemik RUU dalam Spiral Kekerasan

Lebih lanjut ia menjelaskan “biasanya konflik terjadi itu karena adanya identitas yang begitu kuat di setiap kelompok-kelompok mahasiswa itu. Identitas itu dapat bermakna ada persaingan di antara mereka, bisa juga bermakna ada perbedaan yang kuat antara mereka. Perbedaan-perbedaan itu bisa jadi dibungkus oleh perbedaan lain katakanlah perbedaan agama, etnik dan seterusnya.”

“ada kecendrungan ketika identitas kolektif yang sudah melembaga dan mandarah daging dalam diri mahasiswa sebagai sebuah kolektivitas, kalau itu diganggu oleh kelompok lain itu akan mudah melahirkan suatu konflik.” Pungkas Magister Universitas Atteneo Filipina ini.

Konflik kekerasan antar mahasiswa. Foto by Kompasiana.com

Namun, menurutnya penting untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang konflik kekerasan antar mahasiswa ini sebelum melakukan langkah resolusi terhadap konflik. Karena banyak hal yang bisa berpengaruh dalam hal konflik kekerasan antar mahasiswa. “(hal yang berpengaruh itu) bisa jadi pada pola pendidikan yang ada. Bisa pada pendikan formal, bisa juga pada Pendidikan nonformalnya. Konflik itu juga dapat dimaknai sebagai ekspresi kekecewaan mahasiswa terhadap institusi pendidikan” Tambahnya.

Baca juga: Reklamasi, “Petaka” Nelayan dan Ekosistem Laut Takalar-Makassar 

Keberagaman pada masyarakat perkotaan memang suatu niscaya. Namun, apabila keberagaman itu justru diiringi oleh fanatisme kelompok yang akut, akan berakibat fatal. Konflik kekerasan antar mahasiswa ini selain mengakibatkan korban luka, juga tidak jarang menimbulkan korban jiwa. Sehingga perlu penanganan serius bagi pihak-pihak yang berwenang dan mempunyai kapasitas dalam melakukan resolusi konflik.

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *