Bangun Gerakan Sosial Melalui Literasi

“Tapi kau Nak, paling sedikit harus bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari”.

maupa.co – Nasihat Nyai Ontosoroh selalu bergeliang di kepala Minke, memberinya kekuatan untuk istiqomah berjihad melawan penindasan kolonial. Statement Nyai kepada Minke dalam Anak Semua Bangsa (1980) karya Pramoedya Ananta Toer menjelaskan faedah menulis sebagai bentuk keaktifan sosial. Disambung dengan quotesnya di Jejak Langkah (1985) “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah” .

Sebagai seorang penulis, Pram sangat menekankan pentingnya literasi menulis sebagai bentuk keabadian. Gagasan yang lahir dari buah tulisan akan senantiasa hidup meski tubuh telah bersemayam. Menulis mampu menjelaskan gagasan yang tak tersampaikan melalui media lisan. Tulisan mampu mempengaruhi psikologi pembacanya, terutama jika dikaitkan dengan gerakan sosial merespon isu sosial.

Seperti yang dilakukan oleh Aliansi Lapakan kolektif di Unhas pada Kamis, 19 September 2019. Lapakan kolektif diinisiasi oleh 11 komunitas yang tergabung di dalamnya, bertempat di Taman Sospol, Universitas Hasanuddin. 11 Komunitas ini terdiri dari Lapak Kamisan, UKMM, Ibookita, Resist Sospol, Insersium, Komnok, Rumah Nomena, Sisyphus Muda, Pustaka Merdeka, Dialektika dan Zeitgeist.

Lapakan kolektif sederhananya adalah sekumpulan lapak baca yang diiniasi atas dasar perjuangan dan diorganisir secara bersama. Biasanya pelapak akan memajang karya tulis maupun barang lain yang kegunaannya dinikmati bersama oleh setiap pengunjung yang singgah di lapakan tersebut. Esensi dari lapakan adalah penciptaan ruang literasi dimana di dalamnya terdapat proses membaca, menulis dan diskusi.

Kegiatan lapakan ini menggagas konsep lapakan 1000 buku dan bedah artikel. Masing-masing komunitas mengikutsertakan 100 bukunya untuk dilapakkan sembari menyediakan lapakan produk lain. Di tengah lapakan, menjelang senja kegiatan dilanjutkan dengan diskusi pamflet Mustapha Khayati yang berjudul “Kemiskinan Hidup Mahasiswa”. Karya tulis kritis inilah yang kemudian dibedah dalam konteks gerakan sosial pelajar hari ini.

Lapak 1000 BukuKarya Mustapha Khayati ini fenomenal di kalangan pelajar, terutama pegiat gerakan sosial. Jika ditinjau dari aspek historis, pamflet ini cukup memberi sumbangsih dalam protes besar Paris di tahun 1968 yang hampir menggoyahkan Pemerintahan de Gaulle di Prancis. Mustapha yang dulunya tergabung dalam Situasionist Internasional memiliki visi gerakan yang senada dengan seniman avant-garde lainnya, mempercayai seni sebagai instrumen gerakan sosial.

Kemiskinan hidup mahasiswa merupakan refleksi Mustapha dan beberapa mahasiswa Strasbourg di tahun 1966 terhadap gerakan mahasiswa Perancis pada pertengahan abad-20. Mustapha mencoba menggambarkan bagaimana kondisi mahasiswa yang miskin dalam berbagai aspek dengan ketidaksadarannya akan status dan posisi yang diemban. Ditengah embel-embel heroik mahasiswa yang sedikit banyak dipengaruhi oleh romansa ’98, berujung pada egoisme dan sektarianisme memandang gerakan sosial. Alhasil, ketidakmampuan membagi peran di tengah kesibukan di lembaga dan aktifitas akademik, mengurung mahasiswa dalam tembok tinggi universitas dari realitas sosial disekitarnya.

Dalam Pamflet tersebut, Mustapha (1966:1) menjelaskan “Kemiskinan mahasiswa adalah ekspresi terjelas dari kolonisasi segala aspek praktik-praktik sosial. Merupakan proyeksi dari segala rasa bersalah masyarakat, yang kemudian menopengi mahasiswa dari kenyataan kemiskinan dan penghambaan yang dialami setiap orang. Tetapi kejijikan kami terhadap mahasiswa berdasarkan pada alasan-alasan yang cukup berbeda. Mahasiswa menjadi menjijikan bukan hanya karena kemiskinan mereka, tetapi juga karena kepuasan diri mereka sendiri atas segala bentuk kemiskinan, kecenderungan mereka yang tak sehat untuk berkubang dalam alienasi diri mereka sendiri, berharap hal tersebut akan menjadi menarik di tengah ketidak-menarikkan mereka”.

Diskusi Aktivisme Pelajar
Diskusi Aktivisme Pelajar

Ryan Akmal Suryadi selaku partisipan ibookita berusaha mengaitkan literasi dan gerakan sosial. Menurutnya “Literasi adalah proses, muaranya ada gerakan sosial. Jadi tidak hanya sekedar membaca tapi bagaimana sikap politik dan partisipasi nya dalam gerakan sosial, salah satunya aksi massa. Tujuan dari literasi adalah penyadaran masalah melalui bacaan dan diskusi. Literasi tidak hanya berhenti di pengetahuan saja, dia harus punya sikap politik terutama inisiatif untuk bertindak,” tutur mahasiswa Unhas ini.

Jika dikaitkan dengan kondisi gerakan mahasiswa hari ini, rasanya pamflet ini masih cukup kontekstual melihat posisi pelajar sebagai aktor dan elemen dalam masyarakat. Diskusi gerakan kolektif ini kemudian berusaha merefleksikan kembali makna mahasiswa dan bagaimana pola aktivisme pelajar di Makassar secara khusus. Di tengah dentuman masalah yang kian kompleks dan menyasar basis gerakan sosial dari berbagai elemen masyarakat. Di fase yang sama saat Indonesia masih berada di tingkat minat baca yang rendah, dititik inilah peran penyadaran itu dibutuhkan.

 

  • Laporan : Azwar Radhif
Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *