LBH MAK: Alfamart Diduga Lakukan Kriminalisasi terhadap Salah Seorang Karyawannya

LBH MAK Gugat Alfamart

Lembaga Bantuan Hukum Mata Air Keadilan (LBH MAK) menduga terjadi kriminalisasi terhadap seorang karyawan PT.Sumber Alfaria Trijaya, Tbk.DC Makassar (Alfamart) yang bernama Jumadil Ikhsan (JI). Penilaian ini berdasarkan analisis kasus JI yang mengadu ke LBH MAK. Lembaga Bantuan Hukum ini teah resmi menjadi kuasa hukum JI. Demikian pernyataan Direktur LBH MAK, Moch.Suryawan, SH kepada maupa.co (10/11/21).

maupa.co-Makassar. Moch.Suryawan, menjelaskan, jabatan terakhir kliennya adalah Branch General Affair Administrator (Bagian Pengantaran Barang Toko) dan sudah berkarir selama 11 tahun di Alfamart yang beralamat di KIMA Makassar. Salah seorang karyawan atas nama Wa Ode Yarmawati bertindak atas nama perusahaan Alfamart melaporkan kliennya ke Polres Takalar dengan nomor: LP/126/X/2021/SPKT/Polres Takalar/Polda Sulawesi Selatan tertanggal 15 Oktober 2021.

Direktur LBH MAK, Moch. Suryawan, SH

“Kami, selaku kuasa hukum Jumadil Ikhsan menyayangkan dan menilai pelaporan tersebut adalah upaya kriminalisasi,” tegas Suryawan.

Lebih jauh, Suryawan menjelaskan bahwa terdapat proses yang ganjil dalam kasus ini. Karena, kliennya dilaporkan ke Polres Takalar atas tuduhan melalaikan tanggung jawab terhadap barang bekas berupa 2 (dua) buah stabilizer yang dibawah dari Takalar ke gudang penyimpanan perusahaan di KIMA Makassar. Namun ternyata barang itu diketahui hilang. Padahal klien kami telah mengantar barang tersebut ke gudang perusahaan di KIMA. Namun, karena ketika tiba, gudang perusahaan telah terkunci karena sudah sekitar jam 10 malam (22.00 WITA). Ini terjadi pada tanggal 18 Juni 2021.  Sebagai catatan, barang tersebut dibawah ke Makassar atas permintaan Wa Ode Yarmawati.

“Karena gudang sudah terkunci maka klien kami menyimpan dua barang stabilizer bekas itu di depan pintu gudang dan menghadap ke CCTV. Sehingga jika ada yang memindahkan barang tersebut dapat terekam CCTV. Di sini perlu diketahui juga bahwa gudang perusahaan cepat tutup karena ada pembatasan jam malam sebagai akibat dari pemberlakuan PPKM Pandemi Covid 19,” urai Suryawan.

Setelah menyimpan dua barang bekas tersebut, jelas Suryawan lebih jauh, kliennya bergegas pulang ke rumahnya di Galesong karena waktu sudah larut, sudah lewat pukul 10 malam.

“Hal yang ganjil lainnya, karena klien kami dipanggil menghadap oleh atasannya nanti pada tanggal 7 Oktober 2021 untuk mengklarifikasi barang dianggap hilang tersebut. Pada saat itu juga, klien kami didesak agar barang tersebut harus ditemukan paling lambat 3 hari. Jika tidak ditemukan maka klien kami diberi dua pilihan yaitu mengundurkan diri atau dilaporkan ke polisi. Klien kami jelas tidak mau mengundurkan diri. Sehingga dia dilaporkan ke polisi. Padahal klien kami sudah menyampaikan kepada atasannya bahwa dia siap bertanggung jawab untuk mengganti dua barang bekas tersebut jika itu dianggap kelalaian. Tapi kenapa justru klien kami diminta mengundurkan diri atau dilapor polisi. Ini jelas mencurigakan. Seperti ada upaya menyingkirkan klien kami dari pekerjaanya,” tegas Suryawan.

Nasrum, SH, Advokat

Sementara itu, kuasa hukum JI lainnya, Nasrum, SH, menegaskan bahwa berdasarkan analisis kasus maka pimpinan klien kami di PT.Sumber Alfaria atau Alfamart telah merampas hak karyawan sebagaimana diatur dalam ketentuan perundang-undangan, peraturan perusahaan.

“Seharusnya, klien kami tidak dilapor karena dia bersedia bertanggung jawab atas hilangnya barang bekas tersebut. Ini sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 tahun 2021. Dalam PP tersebut juga diatur tentang denda dan ganti rugi. Hal ini juga diatur dalam Peraturan Perusahaan bahwa kelalaian karyawan akan diberikan Surat Peringatan atau SP serta wajib untuk mengganti kerugian yang dialami perusahaan. Ini kok, aneh dan ganjil karena klien kami justru dilapor polisi atau disuruh mengundurkan diri. Ini bertentangan dengan perundang-undangan. Maka kami menilai ini bentuk kriminalisasi terhadap klien kami,” tandas Nasrum, pengacara yang telah banyak bergelut mendampingi kelompok masyarakat tertindas.(*)

Syamsuddin Simmau

Syamsuddin Simmau

Ingatan adalah monumen sesungguhnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *