Mahasiswa Pascasarjana Unhas Harap Keringanan UKT

 

 

Foto Diolah dari https://www.facebook.com/hasanuddin.university/photos
Kampus Unhas

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Hasanuddin juga mengharapkan keringanan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT). Harapan ini mengacu pada Surat Edaran Rektor Unhas tertanggal 24 Juni 2020 yang memberikan keringanan UKT kepada mahasiswa S1.

maupa.co – Persoalan uang kuliah hingga hari ini masih menjadi perhatian mahasiswa di kota Makassar, tak terkecuali Universitas Hasanuddin. Penerapan uang kuliah tunggal yang diberlakukan sesuai rujukan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) nomor 25 tahun 2020 dianggap masih belum mengayomi kepentingan mahasiswa Pascasarjana. Apalagi di tengah masa pandemi, pembayaran uang kuliah mahasiswa Pascasarjana tak mengalami pengurangan.

Sejauh ini Unhas telah memberikan dua kali kebijakan untuk keringanan pembiayaan UKT. Bantuan pertama dilaksanakan dengan memberikan bantuan kuota sebesar Rp. 100.000 kepada mahasiswa, yang nantinya akan digunakan dalam pelaksanaan kuliah daring. Meski begitu, tak sedikit pula mahasiswa mengeluh karena bantuan kuota dinilai masih terhitung sedikit dibanding uang kuliah yang dibayarkan secara penuh.

Bantuan kuota ini hanya diberikan kepada mahasiswa S1. Surat Edaran Rektor pada 24 Juni lalu tidak diperuntukkan bagi mahasiswa Pasca Sarjana. Jika demikian, artinya mahasiswa Pascasarjana harus membayar sesuai dengan biaya yang berlaku sebelumnya.

Salah seorang mahasiswa Pascasarjana FISIP yang tidak disebutkan identitasnya, menjelaskan, “Pasca tidak ada, edaran itu hanya untuk mahasiswa S1. Padahal kami dari mahasiswa pasca sangat mengharapkan adanya bantuan serupa. Karena terkesan yang terkena bantuan itu hanya mahasiswa S1 saja. Padahal jika dipikir mahasiswa S2 juga terkena dampak pandemi, apalagi bagi kami yang bekerja. Mungkin jika mahasiswa S1 yg terkena itu orang tuanya, tapi kami yang pasca juga terdampak langsung karena kami bekerja, apalagi yang terkena PHK,” tutur pria berinisial ‘L’ ini.

Lebih lanjut menurut ‘L’, perkuliahan di ruang kampus hanya berjalan selama 1 bulan. “Sejak awal Januari hingga pertengahan Februari kami kuliah dalam ruangan. Setelah itu, dilanjutkan dengan perkuliahan virtual. Mahasiswa pasca yang menanggung biaya fasilitas perkuliahan. Sejak itu juga, mahasiswa pasca juga tak lagi menikmati fasilitas kampus, seperti mahasiswa program strata-1. Sebab, kampus turut melakukan lockdown, seperti kondisi sekarang. Namun, tak ada pengurangan uang kuliah yang mereka bayar, juga bantuan seperti yang diterima mahasiswa sarjana,” keluhnya.

Tidak adanya bantuan pengurangan uang kuliah dinilai karena adanya anggapan, mahasiswa Pascasarjana sudah mampu secara ekonomi meski juga dihantam pandemi Covid19. Hal ini diakui Fahmi, mahasiswa pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya.

“Mungkin karena kampus dan birokrasi merasa bahwa mahasiswa pascasarjana sudah lebih mapan. Ditambah lagi sebelum masuk di kampus sudah diberikan surat pernyataan bersedia cuti dari pekerjaan selama berkuliah. Artinya memang dianggap para mahasiswa pascasarjana sudah punya pekerjaan tetap dan lain sebagainya,” ujar Fahmi.

Fahmi dan L menilai mahasiswa Pascasarjana yang statusnya pekerja, terlebih lagi di masa pandemi Covid19, banyak tenaga kerja yang terpaksa dirumahkan. Pada 20 juli mendatang, mahasiswa Pasca akan melakukan pembayaran uang kuliah semester genap 2020/2021. “Seharusnya Unhas juga memberikan keringanan yang sama seperti kebijakan untuk mahasiswa S1,” harap Fahmi.

Penulis: Azwar Radif
Editor: Muhammad Fauzy Ramadhan
Foto: Azwar Radif

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *