Maros Krisis Air, “Bukan Saatnya Janji-Janji”

Sungai Kering dalam Area Situs Leang-Leang
Sungai Kering dalam Area Situs Leang-Leang

Maros, maupa.co. Sore menjelang malam di salah satu kafe di Kota Maros. Aroma kopi begitu terasa di hidung. Terlihat, di setiap sudut ruangan para pengunjung menikmati kopi masing-masing. Hari itu, 23 September 2019. Di Salah satu sudut ruangan, Direktur Lembaha Swadaya Masyarakat (LSM) Brigade Anti Korupsi (BAKI) Maros, Andi Ramir Syam tampak berbicang serius dengan salah seorang politisi Partai Hanura, Amran Yusuf. Tampaknya mereka sedang mendiskusikan kekeringan yang menimpa empat kecamatan pesisir Kabupaten Maros, yaitu; Kecamatan Marusu, Maros Baru, Lau dan Bontoa. Kekeringan sudah menjadi musiba tahunan di daerah ini. Anehnya, sampai sekarang belum ada solusi.

Journalis maupa.co kemudian turut bergabung dalam perbincangan itu. Pada kesempatan itu, Amran Yusuf menegaskan permasalahan air di Maros harus mendpat perhatian serius dari pemerintah dan DPRD Kabupaten Maros. Karena air merupakan kebutuhan pokok masyarakat.

Amran Yusuf
Amran Yusuf

“Kita tidak bisa berdiam diri menunggu janji datangnya air yang sudah lama, mulai dari nenek kita. Sudah saatnya kita berusaha dan bekerja untuk masyarakat Maros agar kekeringan ini tidak lagi menjadi musibah masyarakat yang datang setiap tahunnya,” tegas Amran.

Sementara itu, Andi Ramir Syam, mengemukakan pentingnya pembahasan krisis air di Maros.  Bahwa krisis air bersih di Maros tidak lagi menjadi isu lokal yang hanya dikonsumsi di kecamatan, menjadi masalah urgen yang harus dibahas pada tingkat kabupaten oleh pemerintah daerah.

Andi Ramir
Andi Ramir

“Dalam waktu dekat DPRD akan merampungkan perangkat DPRD. Setelah itu akan melaksanakan penetapan APBD 2020. Seharusnya, sebelum APBD ditetapkan, anggota DPRD turun melakukan reses di masyarakat. Sehingga, masalah ketersediaan ari menjadi program prioritas dalam APBD 2020 mendatang,” tegas Ramir.

Senada dengan Ramir, Amran menegaskan bahwa sudah saatnya anggota DPRD turun ke masyarakat merasakan panas terik matahari untuk mencarikan solusi kekeringan yang berlangsung setiap tahun pada musim kemarau. Menurutnya, bukan lagi saatnya anggota dewan duduk di kantor menikmati dinginnya AC. Baca juga: https://maupa.co/2019/09/22/kebakaran-tpa-antang-bencana-alam-atau-bencana-manusia/

“Kita butuh kesepakatan yang lahir dari masukan masyarakat supaya kita bisa mengetahui apa yang menjadi pokok persoalan susahnya air dialirkan ke daerah yang dilanda kekeringan di Maros,”tambah Amran.

Tim maupa.co merespon masalah kekeringan yang melanda di Kabupaten Maros. Ternyata, kekeringan tidak hanya melanda empat kecamatan di kabupaten ini, tapi sebagian wilayah Kecamatan Bantimurung juga merasakan sulitnya ketersediaan air bersih untuk kebutuhan sehari hari dan kebutuhan pertanian. Perlu diketahui bahwa Bantimurung adalah salah satu sumber air potensial di daerah ini. Namun, di kelurahan Leang-Leang, khsusunya di Dusun Leang-Leang, kekeringan sangat terasa.

Eksotisme Batuan Maros
Eksotisme Batuan Maros

Eksotisme bebatuan granit yang unik dan artistik menjadi saksi kekeringan di sekitar Gowa Leang-Leang yang merupakan situs purbakala warisan dunia. Kekeringan yang melanda Dusun Leang-Leang juga terjadi dalam objek wisata purbakala Leang-Leang. Sungai bebatuan kecil yang melintas di dalam area situs purbakala ini juga mengalami kekeringan. Baca juga:https://maupa.co/2019/09/16/ironi-ruang-terbuka-hijau-di-kota-makassar/

Dengan demikian, jelaslah bahwa masyarakat Maros, khusunya di daerah; Kecamatan Marusu, Maros Baru, Lau, Bontoa dan sebagian Bantimurung tidak lagi membutuhkan janji pemerintah dan anggota DPRD. Tapi mereka membutuhkan solusi konkrit agar kesulitan memperoleh air bersih tidak lagi terulang pada tahun-tahun mendatang.

  • Penulis: Abustan Dj
  • Editor: Tim Maupa
  • Fotografer: Imran Herman, Saipul, Syamsuddin Simmau
Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *