Mati Suri Kebenaran: Potret Fenomena Destructive Fishing

Oleh: Fajar

Aktifitas penangkapan ikan dengan bom masih terjadi di Pulau Sembilan Kabupaten Sinjai. Dibutuhkan komitmen tegas penegak hukum dan para punggawa (pemodal) untuk menghentikan aktifitas ini karena menimbulkan kerusakan lingkungan laut dan lingkungan sosial nelayan secara berkepanjangan.

Makassar, Maupa.co – Aktifitas penangkapan ikan secara melawan hukum (Destructive Fishing) kini kembali ‘massive’ di Pulau Sembilan Sinjai. Bukan hanya menyebabkan kerusakan lingkungan akibat tergerusnya sumber daya alam di laut tapi juga berdampak pada rusaknya norma masyarakat. Pasalnya, pada tanggal 29 September 2019 masyarakat masih membeli hasil tangkapan ikan illegal tersebut meskipun mereka mengetahui bahwa ikan tersebut merupakan hasil penggunaan Bom ikan. Sumber peraturan kebijakan peraturan menteri kelautan dan perikanan republik indonesia

Menurut SR salah seorang nelayan yang dinilai ramah lingkungan asal Desa Pulau Buhung Pitue, dirinya bekerja sebagai pemancing ikan. Penurunan jumlah hasil tangkap kini sangat terasa di wilayah perairan Pulau Sembilan. Bahkan, sangat sering ia pulang dengan tangan kosong. Anehnya, saat ada aksi pengeboman ikan mereka yang bekerja sebagai pemancing juga seringkali menikmati hasil pengeboman itu. Mereka terlibat memungut ikan-ikan yang mati akibat ledakan bom. Kadang juga di antara mereka ada yang resisten sehingga mengakibatkan konflik horizontal (28/09/2019).

Menurut Munsi Lampe (2005, Jurnal Humaniora, 17, 312-325.),  Dosen Antropologi Universitas Hasanuddin. Destructive fishing di Pulau Sembilan telah ada sejak masa kolonial. Akan tetapi mulai massive pada tahun 1970-an. Saat pengusaha kebangsaan Tionghoa memperkenalkan scuba diving dan teknik penggunaan potasium ceanyda (bius). Hal itu dibenarkan oleh SY salah satu masyarakat Pulau Sembilan yang waktu itu turut terlibat mendampingi orang Kebangsaan Tionghoa, menurutnya pengusaha tersebut datang dari Kota Makassar.

Lebih jauh menurut temuan Munsi Lampe, destructive fishing yang dilakukan sebagian masyarakat dari Pulau Sembilan selain didukung oleh sarana teknologi modern berupa alat selam, juga didukukung oleh tersedianya pasar nasional dan internasional yang semakin tinggi permintaannya. Selain itu, destructive fishing di Pulau Sembilan juga didukung oleh jaminan dari pihak keamanan yang membangun hubungan kerja sama dengan nelayan pelaku.

Baca juga: LEANG TIMPUSENG, EKSOTISME GUA KARS MAROS

Penggunaan scuba diving mengalami perubahan pada tahun 1990-an dengan metode Kompressor. Menurut AL warga Pulau Sembilan yang pernah terlibat aktifitas tersebut, perubahan itu diakibatkan semakin mahalnya biaya operasional sementara hasil tangkapan mengalami penurunan di daerah sekitar (23/03/2019).

Menanggapi fenomena detructive fishing yang telah berlangsung setengah abad tersebut nelayan pelaku kini melangsungkan proses adaptasi mereka untuk tetap mempertahankan kehidupannya. sebagian diantara mereka melakukan penganekaragaman sumber pendapatan, menekan biaya pengeluaran rumah tangga, mempertahankan status quo keamanan serta mencari daerah tangkapan yang masih subur dengan mengunjungi beberapa perairan yang masih memiliki ketersediaan sumber daya seperti; perairan selayar, kendari, Halmahera hingga ke perbatasan Austaralia Indonesia.

Keberadaan fenomena destructive fishing yang telah ada sejak masa kolonial tersebut memberikan makna bahwa hal tersebut sedikit banyaknya telah menggerus ekosistem laut dan moral masyarakat yang telah sampai pada kerentanan mempercepat kehancuran hidup dan kehdupan. Sebagai konsekuensi logis, akibat dampak lain yang ditimbulkan berupa kecacatan fisik akibat dekompresi hingga kematian terakhir terjadi pada bulan Agustus dan Desember 2018 memakan 2 korban akibat dekompresi dan ledakan Bom. Padahal dalam UU Perikanan No. 45 tahun 2009 telah ditegaskan bahwa aktifitas tersebut dapat dipidana dengan hukuman penjara yang bisa sampai 5 tahundan denda  hingga sampai miliaran rupiah.

Selain itu, UU tersebut juga telah melarang penggunaan kompressor oleh nelayan. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan upaya penegakan hukum untuk mempercepat proses adaptasi masyarakat. sebagaimana yang telah pernah terjadi di Takabonerate Kepulauan Selayar, pelarangan aktvitas destructive fishing dan penggunaan kompressor tanpa toleransi berhasil mengobati potensi kematian akibat destructive fishing yang telah sempat massive.

Baca juga: Dilema Lubang Tambang Marmer di Leang-Leang Maros

Follow us

maupa

6 thoughts on “Mati Suri Kebenaran: Potret Fenomena Destructive Fishing

  1. Terimakasih atas masukannya. Semoga artikel ini bisa menjadi bahan masukan semua pihak bahwa pentingnya kita semua menjaga biota laut dari tindakan ilegal fishing. Kami sebagai pembina keamanan masyarakat pesisir pulau sembilan juga telah berusaha memberikan penyuluhan akan dampak yg ditimbulkan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak dan bahan lainya yg bisa merusak ekosistem laut. Karena penindakan hukum saja tidak cukup tanpa diikuti kesadaran masyarakat akan resiko dan akibat yg ditimbulkan. Semoga kedepannya akan semakin baik.

    1. Terima kasih juga pak, kami mengapresiasi usaha pembina keamanan masyarakat untuk melakukan penyuluhan terakit dampat penangkapan ikan menggunakan bahan peledak. semoga kedepannya lingkungan bisa lebih terjaga lagi

  2. Koreksi “kematian terakhir terjadi pada bulan Agustus dan Desember 2019”
    Mungkin penulisan bulan atau tahunnya yg salah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *