Melejitnya Sektor Pertanian di Tengah Pandemi Virus Corona, Anak Muda Harus Tahu!

Penulis: Muhammad Fauzy

Pertanian di tengah wabah pandemi semakin melejit. Foto by Fauzy/maupa.co
Pertanian di tengah wabah pandemi semakin melejit. Foto by Fauzy/maupa.co

Maupa.co – Pandemi virus corona yang mewabah sampai ke nusantara ternyata memiliki efek positif bagi sektor pertanian. Mulai dari obat-obatan hingga hand sanitizer yang mengandung komposisi bahan alami adalah bukti melejitnya sektor yang sering dikesampingkan.

Penelitian yang dilakukan antara Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) terhadap pencegahan pandemi virus corona, menemukan bahwa jambu biji adalah kandidat kuat penangkal corona.

Menurut Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam mengemukakan bahwa jambu biji memiliki kandungan senyawa yang cukup lengkap untuk menangkal penyebaran Covid-19.

“Dari riset bioinformatika, kandungan dalam jambu biji mampu mencegah atau paling tidak mengurangi virus tersebut,”Ujar Ari dilansir situs resmi Universitas Indonesia.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam. Foto by ui.ac.id
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam. Foto by ui.ac.id

Hasil penelitian tersebut menemukan setidaknya ada beberapa golongan senyawa pada jambu biji yang berpotensi untuk menghambat dan mencegah Covid-19. Senyawa tersebut antara lain adalah hesperida, rhamnetin, kaempferol, kuersetin dan myricetin. Saat ini harga jual jambu biji di pasar online mencapai kisaran Rp. 14.000 hingga Rp. 20.000 per kilo nya.

Jambu biji kandidat kuat tangkal corona oleh Universitas Indonesia. Foto by instagram @Tabulampot
Jambu biji kandidat kuat tangkal corona oleh Universitas Indonesia. Foto by instagram @Tabulampot

Sementara itu komoditi pertanian lainnya yang juga tak kalah menjanjikan yaitu tanaman rimpang seperti lengkuas, temulawak, kencur, jahe dan masih banyak lagi. Tanaman tersebut dipercaya dapat menguatkan imunitas tubuh agar tak mudah terserang penyakit. Dalam Journal of Ethnopharmacology Volume 145 yang diterbitkan oleh ScienceDirect, menemukan bahwa jahe segar dengan konsentrasi tinggi efektif melawan pembentukan plak yang diinduksi oleh HRSV pada epitel saluran pernafasan dengan menghalangi pelekatan dan internalisasi virus.

Dari berbagai penelitian dan berita yang tersebar tentang jahe sebagai penguat sistem imun, masyarakat kemudian menganggap jahe dapat memperkuat tubuh dan menangkal berbagai macam penyakit. Alhasil harga jahe di pasaran pun meroket, seperti di pasar pusat Kota Kabupaten Gowa dengan harga Rp. 50.000 per kilonya. Sudah terlihat sangat jelas bagaimana pertanian sangat memiliki potensi yang besar dan sangat menjanjikan di tengah wabah pandemi virus corona.

Beberapa hand sanitizer yang sedang diburu masyarakat juga mengandung bahan alami mulai dari lidah buaya, sereh, atsiri dan masih banyak lagi. Dalam Jurnal Cerebellum. Vol. 2 No 3. Agustus 2016, membuktikan bahwa lidah buaya dapat mengurangi jumlah koloni kuman. Kenyataan ini harusnya membuat masyarakat berfikir, bahwa pekerjaan di sektor pertanian terutama profesi petani sangat menjanjikan ditengah wabah pandemi corona yang melanda Indonesia.  

Nyatanya, penduduk yang bekerja pada bidang pertanian tahun demi tahun terus mengalami penurunan. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik tentang keadaan ketenagakerjaan Indonesia pada Agustus 2019, ada penurunan pekerja di sektor pertanian setidaknya sebanyak 1,46 persen.

Sementara itu Kepala Badan Pusat Statistik juga menyampaikan dari Agustus 2018 hingga Agustus 2019 tren pekerja formal meningkat sebesar 1,12 persen. Kemudian Peneliti center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Muhammad Diheim mengatakan bahwa jumlah petani saat ini hanya sekitar 4 juta orang dari total jumlah seluruh penduduk di Indonesia sekitar 262 juta. Angka tersebut ia dapatkan dari rilis Badan pusat Statistik (BPS) 2018. Jumlah tersebut menjadi level terendah dalam waktu sepuluh tahun terakhir.

Baca juga: Mengapa Mahasiswa Pertanian Enggan Lagi Menjadi Petani? Ini Alasannya

Urbanisasi menjadi salah satu faktor yang menimbulkan angka penurunan pekerja sektor pertanian. Menurut Diheim dalam KBR.id, tren penurunan itu disebabkan karena generasi muda di pedesaan lebih menginginkan pekerjaan formal yang lebih berpotensi besar memberikan penghasilan yang banyak.

Ironi yang sangat jelas ini membuat Indonesia tidak bisa terlepas dari aktifitas impor. Hal tersebut akan mempengaruhi pada kualitas dan ketersediaan pangan. Kalau semua orang ingin menjadi pekerja formal, lantas siapa yang menjadi petani?

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *