Membaca Nalar Kebudayaan Walikota Makassar

Wahyuddin Junus
Founder Jurnal Warung Kopi

Hari Budaya Makassar
Wahyuddin Junus Founder Jurnal Warung Kopi

Hari ini (1/4) Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar kembali memperingati ‘Hari Kebudayaan’. Peringatan yang rutin digelar sejak pencanangan 1 April 2019 sebagai Hari Kebudayaan Kota Makassar.

Berbagai pagelaran mewarnai peringatan kali ini. Seluruh Pegawai Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar dihimbau untuk menggunakan pakaian adat.

Tidak hanya pegawai, tapi juga melibatkan pelaku sanggar seni, guru, dan pelajar di Kota Makassar. Tidak sampai di sini,  warga juga diminta untuk mengenakan pakaian adat. Dengan pesan sebagai simbol perayaan dalam warna-warni budaya Makassar.

Lewat peringatan Hari Kebudayaan, Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan “Danny” Pomanto, meminta partisipasi masyarakat agar bisa terlibat aktif sekaligus mengenang kembali permainan adat yang menjadi history dari Kota Makassar.

Pedoman Kota Besar Makassar
Sampul Buku Pedoman Kota Besar Makassar, M.J. Ibrahum

Jika kita kembali membaca proses hari kebudayaan kota Makassar diinisiasi, dapat dirunut dari peristiwa tiga tahun lalu. Proses ini berlangsung dari seminar kebudayaan yang diadakan untuk mewujudkannya.

Saat itu, tiga hari secara beruntun (30-31/3/2019 dan 1/4/2019) media Tribun Timur menyajikan narasi ‘Makassar Kota Kebudayaan Nusantara’, sebagai respon atas keinginan Walikota Makassar, Moh. Ramdhan Pomanto, agar Makassar memiliki Hari Kebudayaan Kota Makassar.

Gagasan ini sebagai langkah lanjut dari Seminar Kebudayaan Makassar di Museum Kota Makassar (30/1/2019) dan disepakati 1 April 2019 sebagai Hari Kebudayaan Kota Makassar.

Walikota Makassar, Moh. Ramdhan ‘Danny’ Pomanto sejak lama telah menginisiasi terlaksananya perayaan Hari Kebudayaan di Makassar.  Ingatan peristiwa (1/4/2019) itu secara resmi menjadi kegiatan rutin kota Makassar dengan penetapan Bulan April sebagai Bulan Kebudayaan Kota Makassar dan 1 April sebagai Hari Kebudayaan Kota Makassar.

Bicara kebudayaan Kota Makassar tentu saja tak bisa dilepaskan dari Sejarah Kota Makassar itu sendiri. Saya coba mengambil kepingan sejarah Kota Makassar dari Buku ‘Pedoman Kota Besar, Makassar, terbit tahun 1954 dan menuliskannya kembali (5 paragraf berikut).

Pada waktu membaca buku-buku tua banyak kita menemui kata-kata Mangkasar, Macassar, Macasser, Makassar, atau Makasser, yang kadang-kadang mengandung arti suku-bangsa, Kerajaan atau tempat. Suku Bangsa yang pernah memegang suatu Kerajaan yang gilang-gemilang serta termasyur sampai ke Benua Eropa, ialah pada zamannya Raja Goa, Sultan Hasanuddin.

Disamping itu nama Makassar itu seperti dikatakan diatas menunjukkan nama suatu tempat, yang tidak dapat dipisahkan dengan menyebut nama Ujung Pandang. Kalau kita mengatakan Makassar, maka bagi sebahagian besar penduduk pedalaman jang disebut Ujung Pandang atau Djumpandang itulah Makassar.

Namun Ujung Pandang itu disebabkan karena pada tempat itu banyak tumbuh rumpun pandan, sehingga nama benteng Fort Rotterdam yang tadinya adalah Benteng Ujung Pandang terjadi pada tanggal 18 Nopember 1667, ialah pada waktu peperangan antara Raja Goa dan Admiraal Speelman dan berhasil menduduki benteng Ujung Pandang itu.

Tiga abad lamanya nama Ujung Pandang tenggelam, yang sebahagian besar disebabkan oleh perpecahan antara kita dengan kita, akan tetapi berkat persatuan kita kini Fort Rotterdam itu kembali pula menjadi Benteng Ujung Pandang.

Mengenai pertanyaan manakah sebutan yang resmi antara Mangkasar, Makassar, Macasser, Makasser, atau Macassar, sepanjang yang dapat diselidiki dan diketemukan diantara surat menyurat tua, menurut surat Gubernur Celebes dan Daerah Taklutnya tertanggal 28 Maret 1895 No. 764/47, sebagai balasan atas surat dari Majelis Perniagaan dan Kerajinan (Kamer van Koophandhel en Nijverheid) tertanggal 26 Maret 1895 No. 244 adalah sebutan “MAKASSAR” yang resmi.

Membaca alas penetapan Hari Kebudayaan Kota Makassar sebagai mana dilansir Tribun Timur (1/4/2019), Makassar sudah menjadi tempat persemaian budaya dan adat dunia sejak abad ke-7. Sejarahwan Unhas Dr. Dias Pradadimara mengatakan Makassar menjadi kota Dunia dan menjadi tempat persemaian kebudayaan  memuncak pada 1 April 1906.

“Kota Makassar itu kota baru yang muncul dari kemajuan peradaban. Maka saya usulkan 1 April dijadikan Hari Kebudayaan itu. Saya lebih sreg kalau 1 April karena 1 Appril 1906 adalah hari lahirnya Gameente Makassar, sehingga saya pikir tepat menjadikan sebagai Hari Budaya Makassar.” Jelas Dias dalam Seminar Kebudayaan Makassar, (Tribun Timur, 1/4/2019).

Wahyuddin Junus
Wahyuddin Junus

Gemeente Makassar tak dapat dilepaskan juga dari sejarah Kota Makassar. Dikutip dari Buku Pedoman Buku “Pedoman Kota Besar Makassar’. Pada waktu diadakan pembentukan wilayah-wilayah dari daerah-daerah otonom, sebagai pelaksanaan dari pada Decentralisatiewer 1903 yang disusun oleh Idenburg, yang mana merupakan pula permulaan pecahnya cara pemerintahan Sentral, dibentuklah dengan ordonansi yang dimuat dalam Stbld. 1906 No. 17 dan mulai berlaku pada tanggal 1 April 1906, Gemeente Makassar (GM).

GM suatu daerah otonom yang akan mengatur rumah tangganya sendiri, yang diberikan hak Memerintah dan Mengatur (Bestuurs- en Regelingsbevoegdheid). Kepala Daerah Otonom yang baru ini diberikan beberapa tugas yang berjalan bersama-sama dengan pemberian sumbangan berupa uang yang tertentu jumlahnya serta hak untuk memungut uang dari rakyat penduduk wilayahnya untuk membiayai perongkosannya (mungkin maknanya biaya pembangunan ?).

Manuskrip di atas menjadi jelas, Hari kelahiran Gemeente Makassar menjadi dasar penetapan waktu Hari Kebudayaan. Namun penetapan Hari Kebudayaan Kota Makassar, sejatinya tidak berdasarkan pembentukan pemerintahan kota atau Gemeente saja. Karena Pembentukan Gemeente yang secara umum didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda bermuatan politik dan alasan keamanan.

maupa

maupa

Kehidupan Berkelanjutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *