Mendukung Pelestarian Lingkungan dengan Tinggal di Rumah

Penulis: Azwar Radhif

#DiRumahAja. Foto by Unsplash
#diRumahAja. Foto by Unsplash

Maupa.co – Virus Covid-19 nampaknya tengah menjadi ancaman serius bagi kehidupan manusia. Tak tanggung-tanggung, dalam dua bulan terakhir sebnyak 353.331 manusia terdampak dari kasus ini, dimana 15.408 diantaranya meninggal dunia. Ini menjadi wabah yang cukup mengerikan dalam beberapa waktu terakhir. Penyebarannya nyaris menjangkit seluruh negara di dunia.

Di Indonesia sendiri, sebagai bentuk respon dari penyebaran virus ini, pemerintah memberikan imbauan untuk mengurangi aktivitas yang berpotensi tersebarnya virus ini, seperti aktivitas yang dilakukan di tempat umum. Seluruh aktivitas berkelompok dibatasi, termasuk sekolah, tempat hiburan, dan kantor-kantor instansi.

Sementara itu, Pemkot Makassar juga telah mengeluarkan himbauan untuk melakukan kegiatan belajar-mengajar di rumah, melalui surat edaran yang dirilis pada 16 Maret 2020. Selain itu, aktivitas yang melibatkan orang banyak di tempat umum juga mulai ditindaki, satu persatu warung kopi ditertibkan dari pengunjung.

Dampaknya beberapa hari ini dapat secara langsung terlihat, jalan-jalan mulai sepi pengendara, beberapa warung makan juga mulai tutup, pertamina tak lagi ramai antrian. Melalui hastag #dirumahaja, masyarakat berbondong-bondong tengah memindahkan aktivitas fisiknya ke dunia virtual, yang dapat dioperasikan dengan gawai. Namun apa yang lebih menarik daripada perubahan mode komunikasi ini?

Dalam beberapa waktu terakhir, tampak berkurangnya volume kendaraan yang melintasi beberapa ruas jalan di Kota Makassar. Antrian pengendara yang hendak mengisi bahan bakar di  pertamina juga semakin berkurang. Alhasil, pendapatan pertamina juga menurun. Di DKI Jakarta  dalam sepekan terakhir terjadi penurunan pendapatan sebesar 25% di seluruh SPBU (otosport). Harga minyak dunia juga dikabarkan akan mengalami penurunan, akibat menurunnya permintaan.

Pencegahan penyebaran virus corona dengan beraktivitas di rumah memaksa pertamina untuk berfikir kembali ketika melakukan pengeboran minyak. Dengan berkurangnya aktivitas diluar rumah membuat ketergantungan manusia dengan energi fosil perlahan berkurang.

Seperti yang kita ketahui bahwa bahan bakar minyak yang digunakan untuk menghidupkan sebagian besar kendaraan bermotor adalah energi fosil, yang notabenenya berasal dari sisa-sisa mahluk hidup yang telah mati jutaan tahun silam. Ini artinya energi fosil apabila digunakan secara berlebih akan mencapai titik tertingginya, yaitu kelangkaan. Ketika kelangkaan ini terjadi ditengah ketergantungan manusia pada BBM, dapat menyebabkan kenaikan harga bahan pangan sehingga akan terjadi krisis ekonomi.

Baca juga: Virus Corona Memaksa Manusia “Melek” Ekologi

Bukan berarti dengan beraktivitas di rumah juga tidak menggunakan energi fosil. Energi telah menjadi kebutuhan primer kehidupan manusia. Kehadiran teknologi, seperti gawai untuk memudahkan komunikasi juga dioperasikan dengan menggunakan energi listrik. Titik tekan yang mungkin bisa diperhatikan adalah bagaimana tingkat pemakaian listrik dan darimana listrik ini berasal.

Khusus untuk listrik sendiri, ada beberapa jenis pembangkit listrik, jika ditinjau dari bahan baku yang dapat dikonversi menjadi listrik. Salah satu sumber energi yang digunakan kebanyakan pembangkit listrik adalah batubara, yang digunakan untuk pembangkit listrik tenaga uap.

Selain itu, ada pula beberapa sumber energi terbarukan lainnya yang menjadi sumber energi alternatif, seperti pembangkit listrik tenaga bayu yang kini tengah beroperasi di Kabupaten Sidrap. Dengan hadirnya pembangkit listrik lain selain batubara (energi fosil), cukup membantu mencegah kerusakan lingkungan.

Melihat Alam Memperbaiki Dirinya

Ditengah kekhawatiran masyarakat untuk keluar dari ruang privatnya, tanpa sadar tengah berlangsung aktivitas alamiah pada bumi kita. Manusia telah memberikan waktu sejenak kepada bumi untuk melaksanakan mekanisme perbaikan diri, dengan sendirinya. Dibalik tempat-tempat yang sepi pengunjung, hewan dan tumbuhan kembali menjalankan kehidupan alamiahnya tanpa campur tangan manusia.

Sebagai contoh dari mekanisme alam ini adalah kanal-kanal di Venesia, Italia yang nampak jernih dan tenang. Dari atas jembatan kanal, pandangan dapat melihat sampai ke dasar kanal. Berbeda dengan kondisi sebagian kanal di Makassar yang bewarna pekat dan mengeluarkan bau tidak sedap.

Kehadiran manusia dengan gaya hidup popnya tampak menjadi masalah bagi keseimbangan ekologi. Dalam sistem ekonomi kapitalisme, barang diproduksi sebanyak mungkin untuk memuaskan hasrat konsumtif manusia-manusia, guna memperoleh untung sebesar-besarnya.

Ini bukan masalah apabila yang dikonsumsinya berbahan baku ramah lingkungan, atau paling tidak dapat didaur ulang dengan cepat. Tapi manusia perlu menaruh perhatian pada persoalan limbah, sampah plastik dan kertas, serta pembukaan lahan atau deforestasi. Berbagai perilaku destruktif tanpa sadar turut membantu perubahan iklim suhu bumi.  

Perubahan iklim atau disebut climate change adalah keadaan dimana terjadi perubahan suhu bumi, yang berdampak pada keseimbangan kehidupan. Ada beberapa dampak dari perubahan iklim ini, yaitu lelehnya es di Samudra Arktik yang berdampak pada kenaikan permukaan air laut sehingga menjadikan banjir sebagai ancaman nyata kehidupan manusia; pemanasan global yang berdampak pada matinya hewan-hewan laut seperti plankton yang menjadi sumber makanan utama serta terumbu karang sebagai rumah hewan laut; dan tidak stabilnya cuaca yang berdampak pada keseimbangan pangan dan kehidupan lainnya.

Melalui berbagai bencana manusia yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, kiranya manusia perlu memetik berbagai pelajaran berharga, untuk memperhatikan kembali relasinya dengan alam. Berbagai bencana yang terjadi nampaknya mencoba memperlihatkan bahwa ada sesuatu hal yang keliru dari perilaku manusia terhadap lingkungannya.

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *