Mengapa Mahasiswa Pertanian Enggan Lagi Menjadi Petani? Ini Alasannya

Penulis: Azwar Radhif

Ilustrasi profesi petani di kalangan mahasiswa. Foto by unsplash.
Ilustrasi profesi petani di kalangan mahasiswa. Foto by unsplash.

Maupa.co – Mengapa mahasiswa pertanian tak lagi mau bertani di kampung? Pertanyaan sederhana ini yang mendasari munculnya pendiskusikan panjang mengenai perubahan sosial budaya pertanian, dimana terlihat tren anak muda yang sangat jarang mau melakukan aktivitas bertani.

Pertanyaan sekaligus analisis ini dilontarkan oleh Andi Achmad Hertasnin, selaku pembicara dalam Seminar Buku “Petani dan Seni Bertani”. Buku ini merupakan sebuah mahakarya besar dalam melihat agronomi sosial (sebuah istilah yang menjelaskan relasi sosial dalam budaya pertanian) yang dituliskan oleh Alexander Chayanov, seorang ekonom agraria dari Uni Soviet.

Pendiskusian dalam seminar ini menjadi cukup menarik, pasalnya pengisi materi merupakan orang-orang yang cukup dekat dengan aktivitas pertanian. Selain Andi Achmad Hertasnin, turut diundang pula selaku pembicara yaitu Prof. Dr. Ir. Darmawan Salman, M.Si selaku guru besar Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin dan Nurhady Sirimorok, seorang penulis dan penerjemah buku petani dan seni bertani yang diseminarkan pada kesempatan itu.

Kegiatan yang diadakan oleh BEM Pertanian Unhas ini dihadiri oleh puluhan pasang mata, yang bermaksud mendengarkan pandangan tiap-tiap pembicara mengenai buku ini. Bertempat di Aula Pertanian Unhas, kegiatan ini juga berlangsung berkat kerjasama dengan Insist Press dan Dialektika Coffee dan Bookshop.

Pendiskusian ini diawali dengan pertanyaan sederhana yang sekaligus dijawab langsung dengan analisis oleh Andi Achmad Hertasnin, “Saya bertanya-tanya mengapa mahasiswa pertanian tak lagi mau bertani?” tanyanya kepada hadirin.

Seminar Buku "Petani dan Seni Bertani" yang dihadiri oleh Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Ir. Darmawan Salman, M.S di Aula Fakultas Pertanian(02/3). Foto by Fauzy/Maupa.co
Seminar Buku “Petani dan Seni Bertani” yang dihadiri oleh Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Ir. Darmawan Salman, M.S di Aula Fakultas Pertanian(02/3). Foto by Fauzy/Maupa.co

Kemudian dilanjutkan, “Tingkat kesejahteraan petani Indonesia sangat rendah. Ada gap yang sangat jauh antara kesejahteraan petani dengan yang lainnya, Mungkin ini salah satu alasan mengapa mahasiswa pertanian tak mau bertani. Kedua, adanya stigma bahwa pertanian itu pekerjaan yang tidak elitis, karena pertanian belum berkembang dalam teknologi, belum berbasis pada penggunaan internet. Ketiga, tuntutan zaman modernisasi, di zaman sekarang mahasiswa harus bisa multitasking, berbeda dengan pertanian sekarang yang masih satu arah,” ujar ketua Komisariat Lisan Agro ini.

Faktor lain yang menurutnya berperan besar dalam perubahan paradigma mahasiswa ini menurutnya adalah perubahan orientasi kampus yang lebih berorientasi pada industri pasar kerja, diistilahkan dengan pertanian kapitalis, “konstruk pendidikan, karena sistem pendidikan kita menuntun kita untuk jadi pekerja di ranah pasar industri saja,” tegas mahasiswa teknologi pertanian ini.

Baca  juga: Mengagumkan, Ada Kebun di Dasar Laut?

Sementara, Nurhady Sirimorok menjelaskan sebuah analisis kritis tentang kekeliruan tanggap masalah yang dilakukan pemuda hari ini, “Selama ribuan tahun petani hidup dalam ketidakpastian, dan ketika kau datang untuk menceramahi mereka, itu tak menyelesaikan masalah, karena petani lah yang akan merasakan dampak langsungnya,”.

Dalam proses pendiskusian ini, terdapat sebuah benang merah yang dapat ditarik sebagai kesepakatan keseluruh pembicara diatas, bahwa masalah pertanian tak dapat diselesaikan hanya dengan membaca dan berceloteh dikampus saja, mahasiswa harus berkunjung ke desa-desa, membantu petani dalam menyelesaikan permasalahan yang mereka alami.

Gelombang Petani baru, sebuah optimisme

Ada tren yang menurut beberapa pembicara menjalar di seluruh dunia, tren kemunculan gelombang petani baru. Penggunaan istilah gelombang petani baru merujuk pada fenomena pergerakan masyarakat kota yang kembali ke desa untuk bertani. Kejadian seperti ini merupakan sebuah optimisme, bahwa aktivitas pertanian tak akan surut, masih ada kelompok-kelompok masyarakat yang masih memahami perlunya melestarikan aktivitas bertani.

Fenomena ini dijelaskan Nurhady, “Itu yang terjadi di Brazil, Gerakan MST. Jadi orang-orang kota yang kembali hidup di kampung mereka, membuka lahan-lahan baru di Hutan Amazon, menciptakan 400.000 unit usaha,”. Ujar Dandi, sapaan akrab beliau.

Kemunculan fenomena yang terjadi di Brazil ini menurutnya merupakan sebab dari kehidupan mereka di kota yang tak lagi dapat menjamin keberlangsungan hidupnya. “Sampai kapan kota mampu menampung mereka, akan ada masa saat kota tak lagi mampu menghidupi mereka, apalagi akibat climate change, orang-orang dari desa (yang hidup di kota) akan berfikir untuk kembali ke desanya, kembali bertani”, tambahnya.

Optimisme ini juga dijelaskan dengan rinci oleh Prof Darmawan, “Saya percaya bahwa dibalik penggerusan jumlah petani, akan ada arus balik kemunculan petani-petani baru. Fenomena ini seperti terjadi di Swiss, Eropa Barat, juga diinspirasi oleh gerakan La Via Campesina.

Baca juga: Kebijakan Kampus Merdeka, “Merdeka yang Sebenarnya”

La Via Campesina merupakan sebuah aliansi global petani-petani di dunia yang bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kedaulatan petani dengan membangun sebuah budaya tanding terhadap tren globalisasi dan industrialisasi pertanian yang dianggap melemahkan petani lokal.

Spirit gerakan ini adalah untuk mendefinisikan ulang kata pembangunan dan membangun model pertanian alternatif yang didasarkan atas prinsip-prinsip keadilan sosial, keberlangsungan ekologis dan penghormatan atas budaya serta ekonomi para petani kecil (sumber:SPI.or.id).

Merekonstruksi Paradigma Pertanian Modern

Dalam paradigma pertanian modern, corak pertanian sangat didominasi oleh pola unit usaha kapitalistik. Ciri utamanya adalah penguasaan lahan oleh segelintir elit yang memonopoli pasar sehingga menciptakan keterasingan bagi petani-petanii lokal.

Bagi Prof. Darmawan, permasalahan ini merupakan dampak dari pola fikir yang gagal memahami konsep agrikultur, jadi sekiranya mahasiswa sebelum terlalu jauh mendiskusikan permasalahan pertanian, harus dulu memahami seperti apa yang dimaksud budaya pertanian.

 “Yang paling penting bagi kita mahasiswa pertanian adalah memahami filosofi agrikultur. Ada seorang Profesor di salah satu kampus di Pulau Jawa menyinggung fakultas Pertanian, yang menggunakan kata agrikultur tapi melupakan kulturnya yang lebih didominasi pada konsep agribisnis,” jelas Guru Besar Fakultas Pertanian Unhas ini.

Di sesi terakhir seminar, ada seorang mahasiswa fakultas pertanian yang bertanya sekaligus meminta saran kepada Prof Darmawan, “apa yang harus dilakukan?,” tanyanya. Kemudian dijawab dengan padat dan jelas oleh beliau, “wacanakanlah, seni bertani wacanakan kembali. Karena pada dasarnya realitas sosial adalah hasil dari pertarungan atau kontestasi wacana. Langkah pertama sederhana, fahami dahulu buku ini, fahami orang yang segenerasi dengannya, seperti Kautsky, tokoh yang sangat jarang dibahas mahasiswa pertanian. Setelah itu wacanakan, libatkan diri anda dalam kontestasi wacana. Wacana harus diikuti dengan tindakan, beranikah anda melangkah ke arah itu. Mengorganisir diri untuk.mengubah keadaan”, penjelasan terakhir beliau sebelum meninggalkan ruang seminar.

Kegiatan seminar ini ditutup dengan penyerahan sertifikat oleh perwakilan BEM Fakultas Pertanian Unhas, Muhammad Ikram selaku Presiden BEM Faperta Unhas kepada masing-masing pembicara. Adapun harapannya selaku petinggi organisasi adalah “dengan adanya pemantik diskusi lewat penyajian buku ini bisa menghidupkan diskursus yang lebih massif lagi mengenai kajian pertanian dan wacana agraris kritis, membaca strtuktur dan dinamika kelas petani juga membaca peta kerja dan unit produksi didalam usaha tani. Tidak hanya merespon soal konflik agraria tetapi mempelajari mengapa konflik itu bisa hadir,” tutur presiden BEM yang sebentar lagi akan di demisioner ini.

“Yang peling penting bagi kita mahasiswa pertanian adalah memahami filosofi agrikultur

Follow us
maupa

maupa

Kehidupan Berkelanjutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *