“Mengutui” Bahasa Indonesia

Penulis: Darnas Darwin, S.H,  M.H

Ilustrasi by kincet.com

Bahasa resmi Indonesia sama artinya dengan bahasa kekuasaan atau bahasa penguasa kepada masyarakatnya.

maupa.co – Secara konstitusional, secara radiks bisa dikatakan consensus institusi, atau kesepahaman institusi. Institusi yang dimaksud adalah Negara.  Bahasa Indonesia disebut sebagai bahasa resmi bangsa Indonesia. Dengan demikian maka semua perkataan resmi harus menggunakan bahasa Indonesia. Resmi dalam diksi hukum disebut formal, dalam diksi sosial disebut terstruktur. Terstruktur yang dimaksud bukan hanya susunan bahasanya melainkan yang mengucapkan. Dengan demikian bahasa resmi Indonesia sama artinya dengan bahasa kekuasaan atau bahasa penguasa kepada masyarakatnya.

Bahasa sebagai produk cultural manusia, penting untuk membangun kesepahaman. Karena salah satu fungsi bahasa adalah membangun kesepahaman, bukan sebaliknya menciptakan ruang hampa yang dihidupi oleh pemikiran subjektif masing-masing orang. Manusia memproduksi bahasa karena manusia berada dalam dunia tidak hanya dengan memahami, melainkan sebagai memahami, kata Martin Heidegger (1889-1976).

Kenyataan yang kita lihat sekarang-sekarang ini, manusia ada hanya dengan memahami, bukan sebagai memahami. Dalam dialog-dialog komunitas-komunitas pelajar, cendekia atau politikus, “dengan memahami”  ini  selalu menjadi identitas diri masing –masing pembicara sehigga sulit menemukan titik temu pembicaraan.

Baca juga: PENDIDIKAN DI TANGAN MENTERI MILENIAL, PUTAR HALUAN BENAHI BIROKRASI EDUKASI DENGAN TEKNOLOGI

Penggunaan bahasa dikalangan elit negara Ilustrasi by: ef.co.id
Penggunaan bahasa dikalangan elit negara Ilustrasi by: ef.co.id

Terlepas dari konten yang ruwet, dialog-dialog “dengan memahami”, ini acapkali menjadi pemicu skeptisisme dikalangan pendengar atau partisan yang notabene ingin mengetahui jalan keluar dari permasalahan yang dibicarakan. Gaya“ dengan memahami” ini sering disebut dengan sensasi atau politik  viral. Viral (virtual alternatif), diharapkan mampu menjadi jalan keluar kesepahaman melalui ide-ide maya, tak heran jika kita temukan banyak sekali potensi-potensi yang tak bisa didayagunakan oleh karena adanya ketidaksepahaman.

Bahasa Indonesia yang  disebut akhir-akhir ini banyak menggunakan istilah peyorasi, yang kemudian menjadi meliorasi, yang dikenal dengan istilah bahasa tradisi dengan halus disebutkan juga oleh ahli linguistik sebagai ragam bahasa. “Dilema, eksistensi, substansi, dst” , Ragam bahasa ini kerap ditempatkan pada tempat yang tidak tepat sehingga kata yang memiliki makna tersendiri akhirnya tak bermakna, padahal bahasa itu “Yang disampaikan ialah kegiatan-kegiatan pikiran, ditujukan kepada pikiran, dan harus pula ditangkap dengan pikiran ” Poerwadarminta (1979).

Baca juga: Inilah Pesan Rektor Unismuh Makasar Prof. Rahman Rahim di Acara Wisuda 2 November 2019

Bahasa Indonesia sebagai kebudayaan bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari konteks kemasyarakatan Indonesia. Akhir-akhir ini bahasa sebagai kebudayaan sudah banyak ditinggalkan, khususnya oleh elit yang menyandang identitas “resmi”. Demikian halnya dengan penulisan karya ilmiah, berita, opini, atau karya-karya lainnya. Yang dikejar dalam penulisan akhir-akhir ini hanya keindahan tampakan. Jauh dari prasyarat estetika. Sebab estetika artinya, keindahan karena makna.

Trend bahasa mengubah makna dikalangan pemuda
Trend bahasa mengubah makna dikalangan pemuda. Llustrasi by: popbela.com

Bahasa hanya akan ber-estetika jikalau kita  menempatkannya didalam konteks kehidupan masyarakat, kebudayaan dan sejarah, F. D. Schleiermacher (1768-1834), bukan karena trend kekinian yang justru hanya menguji kecocok-cocokan.

Kebudayaan selalu dinamis, karena itu kita perlu “mengutui” perkembangan kebudayaan yang selalu berlari berdampingan dengan kita, yang bahkan melampaui kita didepan. Mengutui artinya, kita melihat secara teliti sub-sub kebudayaan yang menjadi benalu. Kita tidak membiarkan skeptisisme bercokol, “ sudah itu berlepasan dengan sedikit heran. Hembus kau aku tak peduli”….. ” Chaeril Anwar (1943).

Bahasa Indonesia sebagai produk kebudayaan bangsa Indonesia harus kita jaga, jangan sampai bahasa itu terlihat melangkah dengan gaya, namun berteriak dengan suara patah, dan mati terus bertanya “aku dimana?”.

Editor: Muhammad Subhan

 

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *