Merawat Demokrasi dari Warung Kopi Ala Deskopidi

Diskusi Anti Korupsi Jurnal Warung Kopi

Berbeda pendapat dan menyuburkan pikiran-pikiran kritis adalah ciri demokrasi. Namun, bagimana jika perbedaan pendapat dan pikiran kritis mulai dikekang ? Warung Kopi Deskopidi punya solusinya. Caranya ? Founder Jurnal Warung Kopi, Wahyuddin Yunus alias Didin Wahyu menjawab bahwa salah satu cara merawat demokrasi adalah menyuburkan diskusi berkualitas di warung kopi. Hadirkan nara sumber dari berbgai kalangan seperti akademisi, aktifis demokrasi, mahasiswa dan masyarakat. Didin Wahyu mengemukakan pandangan ini kepada maupa.co.

Pernyataan Didin Wahyu bukan isapan jempol semata. Terbukti, pada 28 Mei dan 11 Juni 2021 lalu, Deskopidi, salah satu Warung Kopi (Coffee) di Jl. Kabila Barat Kompleks Bukti Baruga Makassar telah menggelar seri diskusi yang diberi nama “Jurnal Warung Kopi”. Diskusi ini menghadirkan nara sumber berkompeten dari berbagai kalangan, seperti akademisi, mahasiswa, aktifis dan masyarakat umum. Beruntung, wartawan maupa.co menyaksikan langsung peristiwa menarik ini.

“Deskopidi adalah penyelenggara kegiatan berkat dukungan dari kawan-kawan prodemokrasi. Nama kegiatannya sendiri adalah Jurnal Warung Kopi. Jadi Jurnal Warung Kopi itu sendiri adalah nama kegiatannya. Sementara, Deskopidi adalah tempat penyelenggaraan diskusinya. Diskusi ini terbuka untuk umum,” jelas Didin.

Seri diskusi 1 berlangsung pada Jumat 28 Mei 2021 mengusung tema,”Menagih

Founder Jurnal Warung Kopi, Wahyuddin Yunus

Janji Reformasi, Tepatkah KPK Dilumpuhkan?” Hadir sebagai nara sumber, Dr. Arqam Azikin S.sos, M.Si (Analisis Politik dan Kebangsaan), Fajlurrahman Jurdi (Pakar Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Unhas) dan Haerul Karim (Kordinator Divisi Sosial Politik LBH Makassar). Sementara moderator seri diskusi ini, Dhiyauddin El Syamil Djasari (Staf Penelitian dan Pengembangan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Unhas).

Pada kesempatan itu, Arqam Azikin, memaparkan bahwa jika anggota KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), berarti KPK berada di bawah pengaruh eksekutif. Pada hakikatnya, KPK itu independen. Sementara kasus-kasus korupsi yang diketahui publik selama ini dilakukan oleh sebagian ASN atau eksekutif, politisi dan pejabat negara. “Jadi independesi KPK diragukan jika pagawai KPK adalah ASN,” tandas Arkam.

Arkam juga menegaskan bahwa penegakan hukum ternyata hanya dekoratif saja. “Saya ragu, KPK membawa perubahan. Pembunuhan KPK secara sistematis semakin kelihatan,” tegasnya.

Lebih tegas lagi, narasumber lainnya, Fajlurrahman Jurdi menegaskan bahwa sebaiknya KPK yang ada saat ini dibubarkan saja baru diganti dengan KPK yang baru. “Harapan kita dalam pemberantasan KPK hanya satu, yaitu di KPK,” tandasnya.

Nara sumber lainnya, Haerul Karim, menilai bahwa KPK saat ini seperti mayat hidup. KPK punya wujud tapi tidak bernyawa lagi. “Dahulu sangat susah menjelaskan kepada masyarakat siapa sebenarnya menjadi korban korupsi. Tapi semakin ke sini, lambat laun, korupsi sangat dirasakan masyarakat, misalnya, kasus bantuan sosial dan korupsi E-KTP,” kunci Haerul.

Sementara itu, seri 2 Jurnal Warung Kopi mengangkat tema, “Jerussalem: Kesucian, Konflik dan Keadilan.” Hadir sebagai pembicara; Dr. Maskun, SH, MH, Akademisi Hukum Internasional Unhas dan Agussalim Burhanuddin, SIP, MIRAP, Akademisi Hubungan Internasional Unhas.

Diskusi Jurnal Warung Kopi, Palestina

Pada intinya, dari diskusi ini, Palestina sulit memperoleh keadilan karena Palestina belum diakui sebagai negara yang berdaulat penuh. Dukungan dari 149 negara-negara anggota PBB, termasuk Indonesia, belum kuat mewujudkan Palestina merdeka.

“Hukum internasional belum kuat mendukung Palestina merdeka,” jelas Dr. Maskun.

Sementara itu, Agussalim Burhanuddin mengemukakan bahwa terdapat beberapa alasan utama sehingga Palestina memperoleh kemerdekaan penuh, yaitu; masih tingginya konflik internal antar faksi-faksi di dalam Palestina sendiri, dukungan negera-negara pendukung Palestina kalah kuat dari hak veto Dewan Keamanan PBB yang masih memihak pada Israel dan negera-negara Arab serta Oranisasi Konferensi Islam (OKI) belum menyatu dalam menyuarakan kemerdekaan Palestina.

Oleh karena itu, dukungan masyarakat internasional dari berbagai negera penting untuk terus menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Tidak hanya dari Umat Islam tapi masyarakat internasional secara umum. Karena persoalan Palestina adalah persoalan kemanusiaan. “Tidak harus menjadi muslim untuk mendukung kemanusiaan di Palestina.” Demikian salah satu tulisan mendukung penghentian kekerasan di Palestina yang beredar di media sosial menjelang gencatan senjata antara Israel dan Palestina.

Kata kuncinya, internal faksi-faksi di Palestina, seperti Hamas, Fatah, PLO, PA dan lainnya, harus bersatu terlebih dahulu barulah Palestina kuat untuk menyuarakan kemerdekaannya.  

Diksusi Jurnal Warung Kopi sesi 2 dihadiri berbagai kalangan, yaitu akademiisi, mahasiswa, aktifis media dan aktifis pemberdaya masyarakat.

Seri Diskusi Jurnal Warung Kopi ini diharapkan terus berlanjut. “Setidaknya, kita bisa adakan dua seri diskusi dalam sebulan,” kunci Wahyuddin Yunus (Didin Wahyu).

maupa

maupa

Kehidupan Berkelanjutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *