Mesin Pemakan Batu

Minggu malam pukul 19:05, saya duduk bersama dengan dua orang teman sambil menatap bintang-bintang pada musim kemarau di Dusun Leang-Leang Maros. Rio, Ibe dan saya sungguh menikmati malam itu. Kami berbicang berbagai hal, mulai dari urusan pribadi antar sesama anak muda sampai pada persoalan masa depan umat manusia. Ah, kami seperti politisi saja, ya.

Malam yang indah membuat saya bertanya  kepada Rio, “Bagaiamana perasaanmu melihat bintang-bintang malam ini ?”

“Bintang-bintang itu sangat indah dipandang tapi tak seperti yang dulu lagi, Jar.”

Saya penasaran dengan pernyataan Rio dan akhirnya saya bertanya lagi, “Kenapa bisa, Rio ?”

“Banyak kabut asap yang menutupi keindahanya pada malam hari, Jar.”

Saya penasaran, kok ada kabut asap dan saya pun bertanya lagi,”Asap itu dari mana ?”

“Asap itu keluar dari mesin yang sangat besar pada malam hari. Mesin itu sangat suka makan batu-batu gunung pada saat pagi, siang, sore dan malamnya. Mesin itu bersendawa dengan mengeluarkan asap.

Perkataan Rio membuat saya sedih. Saya pun menimpali, “Sungguh kasihan ya, Rio. Bintang-bintang ditutup kabut asap. Batu-batu mulai berkurang.  Seandainya kamu punya kesempatan bicara, apa yang ingin kamu katakan tentang ini semua ?”

Fajar Umma
Fajar Umma Penulis cerpen Mesin Pemakan Batu

Rio menghela napas panjang. “Saya akan berkata, saya sedih melihat kampung halaman karena alamnya sudah rusak. Masyarakat di sini tidak sadar bahwa ada mesin jahat penghancur gunung-gunung yang merupakan paku alam di Kampungku Leang-Leang. Hem, yang paling lucu, banyak masyarakat yang membantu mesin itu menghancurkan kampungku ini. Ada yang membersihkan mesin, ada yang mengangkat batu, ada yang mendorong gerobak dan ada juga yang bawa mobil. Mereka tidak sadar bahwa mesin itu sedang menartawakan mereka.

Pernyataan Rio sungguh membuat saya semakin sedih. Saya mencoba bertanya kepada Ibe mengenai pendapatnya tentang mesin besar itu. “Apa pendapatmu tentang mesin besar itu, Be ?”

“Saya kasihan melihat mama dan bapak karena setiap hari debu di rumah harus dibersihkan. Sedangkan bapak harus menjaga adek di rumah sakit karena terinfeksi debu di lingkungan sekitar.

Setelah mendengar pernyataan Ibe saya pun berusaha menasehati Ibe, “Astaghfirullah, sabar ya, Be. Semoga saja ada jalan keluarnya,” ucapku seraya berdoa.

Setelah mendengar curahan hati Rio dan Ibe membuat saya sadar bahwa Leang-Leang bukan lagi menjadi pusat wisata bagi saya dan masyarakat tapi menjadi sasaran empuk bagi mesin besar. Dampak dari itu adalah kerusakan linkungan, kerusakan alam dan banyak masyarakat sekitar yang menderita penyakit. Perbicangan kami malam itu bisa berakhir. Tapi cerita ini terus mengalir bagai sungai yang mengalirkan rasa sakit dari kerusakan lingkungan kami. Rasa sakit yang timbul dari mesin besar pemangsa batu.

Penulis: Fajar Umma
Fajar adalah Alumni Workshop Penulisan Reportase dan Fiksi Galeri Kampung Bambu bersama maupa.co dan Maupa TV

Follow us

maupa

3 thoughts on “Mesin Pemakan Batu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *