Nelayan di Sudut Kota Metropolitan

Sore hari, menjelang petang daeng Haeruddin beserta temannya sedang asyik bercerita disudut tembok kanal Rajawali. Tongkrongannya bukan karena kekurangan aktivitas, mereka sedang menunggu air pasang untuk kembali melaut. Sebabnya jika air sedang surut, kapal mereka akan tersangkut disela bebatuan karang. Penimbunan laut di tepi Pantai Losari menyebabkan pendangkalan di jalan keluar kapal menuju laut lepas, akibatnya banyak kapal nelayan yang rusak dan terpaksa menunggu air pasang untuk kembali berlayar. “Kalau kapal tersangkut, itu bisa merusak baling-baling kapal. Belum lagi biaya yang dikeluarkan untuk menggunakan kapal kecil menjemput nelayan yang kapalnya tersangkut”, cemoohannya.

Hal ini dialami oleh sebagian besar nelayan di Kecamatan Mariso, Kota Makassar. Proyek Reklamasi Centre Point of Indonesia memaksa mereka untuk lebih survive ditengah megahnya perumahan elit dan bangunan menjulang, yang dibangun diatas laut tempat mereka menggantungkan hidupnya. Dg Haeruddin menuturkan “Semua nelayan mengeluh, terlalu jauh untuk mencari ikan. Dulu bisa langsung keluar melaut, sekarang harus mutar. Belum lagi rute yang dilewati bisa merugikan nelayan,’ sambung purnawirawan ini. Meskipun dirinya hanya memancing karena hobbi, ia tetap mendengungkan keluh kesah nelayan disekitar pelelangan Ikan Rajawali.

Kini setelah penimbunan laut dihadapan mereka, hanya ada satu rute yang harus mereka lewati untuk keluar ke laut lepas, yaitu bawah jembatan tongkonan Citra land. Dibawah jembatan terdapat dua ruas yang bisa dilewati masing-masing 1 kapal. Namun jika terdapat dua kapal berlawanan arah yang bersamaan masuk di lorong itu, maka akan bertabrakan. Kejadian ini menurut beberapa nelayan sering terjadi di bawah jembatan tersebut. Akibatnya nelayan harus menanggung biaya perbaikan kapal yang rusak. Daeng Uccank, nelayan yang berdomisili di sekitaran kanal Nuri Baru menyebutkan bahwa dulu nelayan sempat dilarang melewati bawah jembatan karena pernah ada perahu nelayan yang menabrak tiang jembatan. Hal ini terjadi karena sisi bawah jembatan yang sempit dan gelap, menuntut kehati-hatian yang besar ketika hendak dilewati.
Baca juga : Pentingnya Sekolah Desa

Namun sebelum melewati jembatan keluar, ada bahaya yang mengintai nelayan ketika hendak membelokkan kapalnya dari bawah jembatan sebelah Celebes Convention Centre (CCC). Di titik ini seringkali terjadi tabrakan kapal nelayan, ketika hendak masuk ke bibir kanal dan satunya lagi hendak keluar ke laut lepas. Kecelakaan ini disebut terjadi karena ruas jalan kapal yang terlalu sempit karena timbunan pasir reklamasi. Kondisi ini dapat diperhatikan dari daratan, dibawah jembatan tanjung melihat ke arah laut lepas. Kapal nelayan rentan bertabrakan ketika berbelok dan bertemu kapal lain yang hendak ke arah sebaliknya. Oleh karenanya masyarakat nelayan mendesak agar panel timbunan pasir dimundurkan beberapa meter, agar nelayan lebih leluasa bergerak.

Daeng Tata selaku pembina kelompok Nelayan Rajawali menjelaskan tuntutan nelayan disana. “Kami minta panelnya dimundurkan sedikit agar perahu lebih leluasa masuk keluar melewati tikungan sebelum jembatan toraja. Kalau ditanya ini timbunan milik pribadi saya tidak tau, tapi setidaknya nelayan lebih duluan lahir dan hidup dari laut”, ujarnya.

Namun permasalahan tak sampai disitu saja. Sempitnya kanal akibat penimbunan di muara sungai sangat dirasakan dampaknya masyarakat nelayan di musim penghujan. Lokasi kanal rajawali yang berada di tepi pantai memberinya banyak kiriman air dari aliran anak sungai di Kota Makassar. Akibatnya kapal nelayan yang tak mampu menyeimbangi volume air yang melewatinya akan terserat, tak jarang pula kapal nelayan menabrak pagar beton diseberang kanal Rajawali.

Daeng Tata menjelaskan kondisi yang terjadi di Rajawali ketika musim penghujan datang. “Kalau musim hujan disini, air itu deras sekali mengalir, karena mulut sungai disana kecil. Sedangkan volume air yang datang dari sana cukup besar. Bayangkan dari jonggaya hantam kesini, tapi mulut muaranya hanya selebar 30 meter, apakah bisa menampung air dari sana. Untuk kapasitas perahu dan mesin seperti ini tidak mampu menghalangi kencangnya arus ini. Jadi mereka terbawa arus, menabrak beton jadi hancur kapalnya. Sudah pernah terjadi seperti itu, ada dokumentasinya. Saya pernah foto dan kirimkan ke perusahaan dan mereka ganti rugi, tapi kita tidak mau hal ini terus berlanjut. Kita mau solusi. Solusinya adalah kompensasi mesin nelayan dari sebelumnya 6,5 PK menjadi 13 PK biar lebih stabil. Ini jalan tengahnya,”.
Baca Juga : Bangun Gerakan Sosial Melalui Literasi

Pihak Ciputra angkat bicara terkait kondisi ini. Dalam demonstrasi yang dilakukan Aliansi Selamatkan Pesisir (ASP) bulan kemarin, pihak ciputra melalui kuasa hukumnya mencoba mencari penengah dari masalah ini. Dikutip dari Antaranews.com, Syarif selaku legal hukum Ciputra Land menjelaskan “Kalau terkait pembuatan jembatan baru itu tidak bisa ditekan-tekan. Terkait pembangunan kanal untuk akses jalur kita masih menunggu instruksi dari pemerintah setempat,” jelasnya.

Sebelumnya Ciputra Land merupakan pihak JO (join operation) dengan PT Yasmin Bumi Asri selaku pemenang tender megaproyek CPI. Dibangun diatas timbunan laut seluas 157,23 Ha, Centre Point of Indonesia diharapkan mampu menjadi kawasan sentral ekonomi di Indonesia bagian timur. Ini tentu juga akan berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat, jika pola pembangunannya bersifat partisipatif dan berkerakyatan.

Penulis: Azwar Radhif

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *