Pameran Batin dalam Rally #3 MAIM

Pakarena Balla Buloa, Karya Amrullah Syam di rally MAIM ketiga. Foto: Muhammad Fauzy Ramadhan/maupa.co
Pakarena Balla Buloa, Karya Amrullah Syam di rally MAIM ketiga. Foto: Muhammad Fauzy Ramadhan/maupa.co

Judul ‘Pameran Batin Dalam Rally #3 MAIM’ sengaja dikutip dari peryataan Pegiat komunitas dan literasi Wahyudin Yunus terkait pameran seni rupa yang digelar Makassar Art Inittiative Movement (MAIM) ketiga di Artmosphere Jalan Abdesir Lr.8 Makassar. Pameran berlangsung dari tanggal 23-25 November 2020. Pameran ini mengusung tema Inner. Berikut reportase jurnalis maupa.co, Ahmad Ishak Jundana dan Muhammad Fauzy Ramadhan.

Maupa.co – Bertepatan tanggal dibentuknya MAIM yang jatuh pada 23 November 2018. Hari ini Senin 23 November 2020, Kegiatan Rally 3 berlangsung di tempat salah seorang seniman rupa Makassar, yakni Jenry Passasan. Tempat tersebut berada di Jalan Abdullah Daeng Sirua Lr. 8 atau yang kerap disebut Artmosphere. Pemilihan lokasi ini menjadi alternatif kegiatan Makassar Art Initiatif Movement (MAIM).

Faizal Syarif yang akrab disapa Ical mengungkapkan, “awalnya kegiatan ini akan dilangsungkan di Jalan Beruang Makassar, namun pada kesempatan kali ini, lokasi itu terlalu sempit dan lebih ketat terhadap pandemi yang terjadi, maka kita alihkan di tempat ini” ujar Ical.

Pada Rally ke 3 ini, MAIM mengangkat tema Inner yang berarti batin. Pada kesempatan kali ini kami disuguhkan dengan empat titik Mata Angin yakni utara, timur, barat dan selatan.

Memasuki ruang tersebut ketika menghadap ke timur, terlihat sebuah karya yang mendulang tinggi. Saya tafsirkan sebagai sebuah realitas kehidupan manusia yang memiliki ambisi dengan kelebihan yang dimiliki. Juga dengan bentuk “love” sebagai hati yang memerah, terkadang redup. Kali ini saya menafsirkan sebuah ambisi yang penuh dengan kehati-hatian. Sehingga menjadi stigma dinamika kehidupan dengan tanggap.

Faisal Syarif, penanggung jawab rally ketiga MAIM. Foto: Muhammad Fauzy Ramadhan/maupa.co
Faisal Syarif, penanggung jawab rally ketiga MAIM. Foto: Muhammad Fauzy Ramadhan/maupa.co

Saya kembali melihat sebuah sajadah yang berada di sebelah barat. Rupanya karya ini adalah karya Faizal (Ical). Ical memaparkan bahwa pada kesempatan ini karya disajikan dengan judul Khalifah. Sajian Khalifah dianggap sebagai jalan spiritualitas akan dirinya terhadap sebuah realitas yang membuat sosok Ical selaku seniman rupa tidak memiliki waktu kepada keluarga besarnya. “ini sebagai aktualisasi realitas saya yang memiliki yang hampir tidak punya waktu untuk keluarga”, tuturnya.

"Khalifah", Karya Faizal Syarif di rally MAIM ketiga (23/11). Foto: Muhammad Fauzy Ramadhan/maupa.co
“Khalifah”, Karya Faizal Syarif di rally MAIM ketiga (23/11). Foto: Muhammad Fauzy Ramadhan/maupa.co

Rally ke-tiga kali ini menurut Ical lebih melankolis. Hal ini dianggap sebagai proses perenungan secara internal, agar lebih mawas diri dengan keadaan. Pada kesempatan kali ini karya-karya yang dihasilkan berdasarkan perenungan dan diantara kami. “Rally tiga ini menjadi sebuah spirit untuk menyatukan frekuensi, makanya kami sengaja tidak terlalu publish, kami ingin melihat apakah dengan kegiatan ini mereka yang satu frekuensi dengan kita ikut merasakan hal yang sama dengan kami”, jelas Perupa ini.

MAIM bergerak dengan independen. Terlihat dari antusias mereka dalam membuat karya-karya baru dengan rentan waktu kurang dari tiga minggu. Faizal menuturkan “pertama, ketika teman-teman sepakat untuk memfokuskan secara mandiri dengan tujuan sebagai tempaan dengan segala konsekuensi, agar kita mengetahui sejauh mana perjuangan kita membangun spirit” ujarnya.

Melalui Rally ini menjadi spirit bagi para perupa lintas generasi di Kota Makassar. Hingga akhirnya mata saya tertuju kepada salah seorang seniman rupa yang berusia kurang lebih 78 tahun. Ia adalah Amrullah Syam, perupa tiga generasi yang melibatkan diri pada Rally ini dengan penuh semangat. Kak Am, sapaan akrab Amrullah Syam, menyajikan satu karya rupa yang diberi nama Pakarena Balla Buloa. Menurut Faizal, beliau adalah cermin bagi kami yang penuh dengan spirit dalam berkarya.

Tujuan dari Rally ini bukan hanya untuk mencapai kesuksesan materiil, tetapi berhasil melampaui eksistensi materi itu sendiri. Hal ini dianggap sebagai sebuah pencapaian tentang penghayatan dalam berkarya khususnya di rupa.

Diskusi informal di hari pertama masih mewarnai rally ketiga MAIM sebagaimana juga terjadi pada rally pertama dan kedua. Beragam perspektif merespon kegiatan ini. Direktur Biennale Makassar, Anwar Jimpe Rahman salah satunya. Menurut Jimpe, sapaan akrab Anwar Jimpe Rahman pameran ini melampaui pameran itu sendiri. Ia memperkuat ikatan sosial antara perupa, pegiat budaya, pegiat sastra, pemberdaya komunitas, ilmuwan, media dan entitas lainnya untuk terus berkarya secara berkelanjutan. Jimpe mengandaikan ikatan sosial ini seperti ikatan keluarga yang masih berlangsung di masyarakat desa.

“Kalau di kota, ikatan kekeluargaan kita ada dalam fikiran dan gagasan. Meskipun rumah kita berjauhan tapi karena kita memiliki kedekatan gagasan maka kita tetap saling mengunjungi. Sementara di desa, ikatan bertetangga masih sangat kental. Di dalam ikatan itu, kita berbagi dengan tetangga kita, berbagi tentang berbagi hal. Demikian pula dengan kegiatan teman-teman perupa di sini”terang jimpe.

Perspektif lainnya datang dari pegiat komunitas dan literasi, Wahyuddin Yunus, inisiator komunitas Republik Bambu Maros ini mengatakan, “pameran ini ibarat kohesi zat-zat kimia yang menyatu dalam sebuah wadah” ujarnya. Kak Didin, demikian ia disapa, sebagai orang yang berlatar belakang disiplin ilmu kimia, kohesi (percampuran zat) antara materi berupa penikmat seni, seniman dan karya seni melahirkan makna-makna untuk penguatan kesadaran mendalam setiap individu terhadap makna kehidupan. Ia bisa bermakna perlawanan terhadap hegemoni, kekuasaan yang otoriter dan ketidakadilan. Oleh karena itu, pameran ini dipandang penting sebagai transformasi materi dari karya seni menjadi pembelajaran untuk penguatan kemanusiaan, baik secara individu maupun dalam konteks masyarakat.

“Ibarat zat-zat kimia atau materi, pameran ini menyatukan kita dalam wujud kohesi atau percampuran materi yang berbeda menjadi sebuah materi baru dalam wujud spiritualitas, atau saling mengingatkan kesadaran kemanusiaan kita”, kunci Didin.

Seniman yang menggelar karyanya pada rally 3 ini yaitu Amrullah Syam, Achmad Fauzi, Achmad Anzul, Budi Haryawan, Faisal Syarif, Gunawan Monoharto, Haroen P Mas’ud, Jenry Pasassan dan Muhammad Suyudi. Pameran rally MAIM ketiga bagai oase di tengah kegersangan kehidupan kebangsaan kita akhir-akhir ini.

Penulis: Ahmad Ishak Jundana dan Muhammad Fauzy Ramadhan
Editor: Azwar Radhif

maupa

maupa

Kehidupan Berkelanjutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *