Pameran Mini Project, Menyongsong Revolusi Pertanian

Penulis: Muhammad Fauzy

Meriahnya pameran mini projek Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin. Foto by Fauzy
Meriahnya pameran mini projek Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin. Foto by Fauzy

Mahasiswa adalah tokoh yang sangat berperan dalam pergerakan pembangunan peradaban yang lebih baik untuk suatu bangsa, terutama mahasiswa pertanian. Pameran mini project pertanian menjadi salah satu wadah penyalur gagasan untuk pertanian yang lebih maju.

maupa.co –  Pameran mini projek pertanian yang diadakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Makassar, adalah salah satu uji kompetensi bagi para Mahasiswanya. Mini projek menjadi media penyalur gagasan serta uji kreatifitas mahasiswa dalam mengembangkan kualitas pembelajaranya di Kampus.

Pameran mini projek tersebut diadakan oleh Program Studi Budidaya Pertanian, mata kuliah fisiologi tumbuhan di Aula Fakultas Pertanian pada tanggal 19-20 November 2019.  Pameran tersebut dihadiri oleh ratusan mahasiswa & mahasiswi pertanian dari seluruh program studi. Lampu yang berkelap-kelip menghiasi meja tempat mini projek mahasiswa. Banner yang berisikan informasi gagasan mahasiswa juga menghiasi pameran.

Ada sangat banyak ide yang dituangkan mahasiswa dalam bentuk mini projek yang dipamerkan. Mulai dari alat, fungsi setiap tanaman hingga konsep pertanian berkelanjutan. Sangat menarik tentunya, ketika melihat ratusan mahasiswa beradu ide kreatif yang dibutuhkan petani untuk meningkatkan tingkat produktifitasnya. Dihadiri beberapa dosen, serta pegawai yang menyempatkan diri untuk melihat pameran tersebut.

Baca juga: PERTANIAN “ORGANIK”, PERTANIAN MASA DEPAN

Water Alarm karya Mahasiswa Pertanian Universitas Hasanuddin. Foto by Fauzy
Water Alarm karya Mahasiswa Pertanian Universitas Hasanuddin. Foto by Fauzy

Disela pameran, salah seorang mahasiswi dari kelompok mata kuliah fisiologi tumbuhan Yusnira dan Nur Ashary menuturkan bahwa pameran yang diadakan ini tentunya sangat baik. Dimana mahasiswa & mahasiswi diajak saling bekerja dalam suatu kelompok untuk memberikan inovasi dibidang pertanian. “Ya, tentunya kami sebagai mahasiswa sangat antusias dengan kegiatan pameran ini.  Kegiatan ini dilakukan untuk mengasah kemampuan bekerja dalam kelompok. Kami harap kedepannya inovasi dari kalangan mahasiswa dapat banyak digunakan oleh petani” Ucap Nur Ashary.

Yusnira dan Nur Ashary menjadi pemenang lomba pameran mini projek terbaik, dengan membuat alat Water Alarm. Mini projeknya tersebut dinilai sangat kreatif dan sangat dibutuhkan para petani untuk mengetahui waktu pemberian air bagi tanaman. Water Alarm milik kelompok Yusnira  akan memberikan tanda dengan lampu yang menyala apabila tanah yang dideteksi kekurangan air. Jika air di tanah sangat jenuh, maka lampu water alarmnya akan redup secara otomatis karena dilengkapi dengan sensor kelembaban.

Namun pertanyaan selanjutnya, apakah ide mahasiswa ini dapat dimanfaatkan petani ? ataukah ini hanya sekedar ide saja? Menurut anda, apakah penting melakukan revolusi petani atau revolusi penyuluh? Kita tau bahwa, petani saat ini tidak akrab dengan penggunaan teknologi yang semakin canggih. Petani hanya mengandalkan insting dan pengalamannya saja.

Pameran mini projek mahasiswa di Aula pertanian. Foto by Fauzy
Pameran mini projek Mahasiswa di Aula pertanian. Foto by Fauzy

Baca juga: DILEMA “PENGUSAHAAN” LAHAN PERTANIAN MENYONGSONG REFORMA AGRARIA

Fakta menunjukkan, penyuluh yang terjun belum tentu dapat mengubah pola pikir para petani hingga saat ini. Bagaimana dengan revolusi petani? Bayangkan jika mahasiswa nan kreatif menjadi petani yang memanfaatkan kecanggihan teknologi dan tak mulu berbicara soal kotor? Bukan tidak mungkin mereka dapat mengentaskan permasalahan pangan dan ekonomi di sektor pertanian serta mengubah paradigma masyarakat, bahwa dengan menjadi petani itu adalah suatu kebanggaan.

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *