Pawai Iklim, Gerakan Kampanye Kreatif Bahaya Krisis Iklim

Gerakan Pawai Iklim di Kota Makassar (27/11). Foto: Azwar Radhif/maupa.co
Gerakan Pawai Iklim di Kota Makassar (27/11). Foto: Azwar Radhif/maupa.co

Maupa.co – Krisis iklim menjadi isu yang hangat diperbincangkan di berbagai belahan dunia. Dampak dari perubahan iklim yang mulai dirasakan masyarakat dunia memunculkan perhatian besar publik pada permasalahan ini, termasuk gerakan Pawai Iklim.

Puluhan pemuda Makassar menggelar kegiatan pawai iklim. Kegiatan ini merupakan bentuk kampanye kreatif guna memperlihatkan kepada publik Makassar akan bahaya perubahan iklim yang akan berdampak besar apabila tak segera ditindaklanjuti.

Pawai iklim atau climate rally diadakan sore tadi (27/11), dimulai pada pukul 16.00 WITA bertempat di Taman Macan Makassar. Beberapa partisipan yang ikut turut serta dalam kegiatan ini juga merupakan bagian dari jeda iklim Makassar, gerakan penyadaran krisis iklim yang semarak gerakannya sejak tahu lalu.

Seruan pesan oleh peserta aksi Pawai Iklim Kota Makassar (27/11). Foto: Azwar Radhif/maupa.co
Seruan pesan oleh peserta aksi Pawai Iklim Kota Makassar (27/11). Foto: Azwar Radhif/maupa.co

Andi Buldi Saisar, salah seorang yang tergabung dalam gerakan ini menjelaskan, “Ini gerakannya jeda iklim karena tahun lalu ada jeda iklim di Makassar, nah ini yang dilawan sebenarnya, karena ada semangat peduli terhadap krisis iklim,” tutur pemuda yang akrab disapa Cecal ini.

Kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki mengelilingi taman macan melewati rute tertentu. Berjalan kaki dimulai dari Taman Macan, kemudian melewati Jalan Kajaolalido, Jalan Ahmad Yani, Karebosi dan berakhir di Tugu Bumi Losari.

Pawai iklim menjadi kegiatan nasional yang diadakan serentak di 4 kota di Indonesia, termasuk Kota Makassar. “Ada agenda yang dikonsolidasikan skala nasional dengan aksi climate rally, karena dibeberapa negara juga melakukan ini, sedangkan Indonesia hanya ada 4 Kota, Jakarta, Bandung, Serang sama Makassar,” tambahnya.

Gerakan ini muncul atas keresahan sekelompok pemuda yang mengkhawatirkan perubahan iklim di bumi. Perubahan ini muncul dari aktivitas sosial-ekonomi manusia yang berdampak buruk bagi kelestarian alam. “Teman-teman melihat bahwa saat ini kenaikan suhu bumi 2 derajat, ini yang harus kita turunkan.  Supaya es di kutub tidak mencair dan membuat permukaan air laut naik,” tegasnya.

Selain itu, gerakan pawai iklim berharap dapat menjadi pemicu gerakan penolakan UU Cipta Kerja di Makassar, yang dinilai semangat gerakannya mulai melemah pasca demonstrasi besar beberapa waktu lalu. UU Cipta kerja dianggap dapat berdampak buruk bagi kelangsungan sumber daya alam, sehingga menjadi perhatian dari gerakan ini.

“Alasan kita tetap turun karena melihat gerakan di Makassar yang awalnya serius menolak omnibus law toh nyatanya sekarang sudah mulai redup. Nah mungkin kehadiran jeda untuk iklim Makassar ini kembali membangkitkan semangat teman-teman yang menolak omnibus Law,” tambah Cecal.

Atribut seorang anak dalam aksi Pawai Iklim di Kota Makassar (27/11). Foto: Azwar Radhif/maupa.co
Atribut seorang anak dalam aksi Pawai Iklim di Kota Makassar (27/11). Foto: Azwar Radhif/maupa.co

Pada pawai iklim tadi, terlihat spanduk besar berwarna merah bertuliskan Kami Ingin Hidup. Makna dari spanduk besar ini sebagai pengingat akan kerusakan alam dan juga untuk kehidupan generasi mendatang yang terdampak karena generasi sebelumnya.

“Dalam pawai iklim kali ini kita berusaha menyampaikan bahwa kita harus menjaga kehidupan untuk generasi berikutnya. Makanya dihadirkan juga anak-anak sebagai simbol generasi selanjutnya” tuturnya.

Pawai iklim juga memuat 6 tuntutan nasional yang diharapkan dapat menjadi perhatian pemerintah pusat, “Dalam skala nasional kita punya 6 tuntutan bersama, yaitu mendesak pemimpin dunia segera mendeklarasikan darurat iklim, tingkatkan emisi NDC, hentikan investasi di sektor energi kotor, investasi berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi sehat pasca pandemi covid-19, menjamin keadilan untuk masyarakat adat dan cabut semua kebijakan yang merusak lingkungan,” tegas Cecal.

Editor: Muhammad Fauzy Ramadhan

Azwar Radhif

Azwar Radhif

Menulis untuk Cinta dan Keabadian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *