Pemuda dan Usaha; Bonus Atau Bencana Demografi

Penulis: Ilham Alfais
Reporter: Muh. Fauzy Ramadhan

Proyeksi Bonus Demografi Indonesia. Foto by kompasiana
Proyeksi Bonus Demografi Indonesia. Foto by kompasiana

Maupa.co – Indonesia telah dijanjikan bonus demografi pada Tahun 2030-2040 yaitu jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibanding jumlah penduduk usia tanggungan (Siaran Pers Bonus Demografi 2030-2040 Strategi Indonesia Terkait Ketenagakerjaan Dan Pendidikan. Bappenas 2016). Hal ini dapat menjadi pisau bermata dua.

Disatu sisi ketika penduduk usia produktif betul-betul produktif maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Namun apabila penduduk di usia produktif didominasi pengangguran maka akan memperburuk perekonomian Indonesia. Salah satu langkah pemerintah dalam menyambut bonus demografi adalah mendorong pemuda untuk berwirausaha.

Salah seorang pemuda yang tertarik menjadi pengusaha ialah Ahyar Hamzah Djanni. Seorang pemuda kelahiran Tabbaja, Luwu-Sulawesi Selatan yang saat ini berdomisili di kota Makassar. Ahyar saat ini sedang mendirikan usahanya yang ia beri nama Barcode Studio. Barcode sendiri bergerak di bidang jasa yaitu jasa desain grafis dan percetakan. Saat ditemui oleh tim Maupa.co (15/09/2019) di kantor sekaligus rumah kostnya ia bercerita kenapa tertarik menjadi seorang pengusaha. Ia mengatakan bahwa dengan bekerja di milik usaha orang lain, waktunya akan bajak terbuang dengan sia-sia.

“kalau bekerja sama orang saya rasa banyak waktu terbuang” ujar pemuda 26 tahun ini.

Ia merasa dapat lebih berkembang dan lebih menggali potensi dirinya jika memulai usaha. Ahyar tersadar bahwa ia memiliki potensi yang sangat besar pada dirinya dan berfikir untuk mencoba mengolah diri.

“saya kepikiran kenapa saya tidak mengolah diri saya sendiri daripada harus terikat dengan orang lain” tambahnya. Sebagai seorang pengusaha ia belum memiliki karyawan atau masuk kategori berusaha sendiri.

Baca juga: Pencabutan Subsidi Gas 3 Kg Wujud Inkonsistensi Pemerintah Terhadap Usaha Mikro

Pengusaha muda, Ahyar Hamzah. tentang bonus demografi dan usaha pemuda indonesia. Foto by facebook Ahyar Hamzah
Pengusaha muda, Ahyar Hamzah. Tentang bonus demografi dan usaha pemuda indonesia. Foto by facebook Ahyar Hamzah

Alasan Ahyar memilih berusaha diwilayah desain karena merasa passionnya adalah desain. Ia kemudian bercerita tentang bagaimana ia mengenali dirinya dan menemukan bahwa ia senang bekerja diwilayah visual.

“saya menggali diri saya lebih dalam, akhirnya sepertinya saya merasa saya lebih senang bekerja dengan hal-hal yang berhubungan dengan visual” ungkap mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar itu. Kita mungkin sering mendengar slogan millennial bahwa pekerjaan yang paling baik adalah hobi yang dibayar. Ahyar Hamzah telah melakukan itu.

Hal menarik lainnya adalah kantor tempat usahanya. Tempat usahanya adalah kamar kost berukuran empat (4) kali empat (4) meter. Walaupun terkesan sempit tapi dari situlah ia menghasilkan pundi-pundi rupiah. Zaman digitalisasi memungkinkan ia bekerja tanpa bertemu dengan kliennya. Ia mengatakan bahwa zaman ini memungkinkan kita terhubung dengan klien tanpa harus bertatap muka.

“saya tidak menemukan tempat-tempat kreatif di Makassar yang nyaman…kamar kost ini menjadi alternatif karena beberapa pekerjaan tidak perlu saya selesaikan di luar. Karena kita terkomunikasi dengan seluruh orang di dunia tanpa harus bertatap muka” tuturnya..

Pola kerja minimalis ala millennial ini memang terbukti effisien. Pola kerja yang meanfaatkan teknologi digital dan internet. Namun kensekuensi dari pola kerja ini ialah harus memiliki basis kepercayaan tinggi antara pengusaha dan klien.

Menurut Ahyar kensekuensi menjadi pengusaha adalah siap menghadapi kendala. “kalau kendala, hal ini pasti dihadapi setiap pengusaha” ungkapnya. Adapun kendala yang ia hadapi seperti manajemen klien, bagaimana mendapatkan vendor, bagaimana melakukan finishing dan sebagainya. Namun menurutnya kendala itu harus dilalui agar dapat naik pada level selanjutnya.

Baca juga: Kehidupan di Bawah Patung B.J Habibie Kota Parepare

Banyak diantara orang-orang yang ingin memulai usaha tapi terkendala pada modal. Namun menariknya, Ahyar sama sekali tidak memasukkan modal sebagai kendala dalam usahanya. Ia mengungkapkan “modal itu bukan hal yang tiba-tiba langsung datang”. Menurutnya banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengumpulkan modal awal. Ahyar dengan usahanya telah berhasil memenuhi kebutuhan hidupnya. Bukan hanya kebutuhan priemer tapi juga kebutuhan sekunder bahkan kebutuhan lux (mewah), misalnya alat-alat penunjang desain miliknya yang bernilai puluhan juta rupiah. Ahyar kemudian berpesan kepada para pemuda di Indonesia bahwa waktu terlalu cepat bejalan. Pemuda harus bergerak untuk tidak menyia-nyiakan waktunya, seperti menghabiskan banyak waktu hanya untuk bermain game.  

“untuk teman-teman pemuda jangan hanya menjadi pengikut, kau bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan lain dan tidak berharap ke orang (lain)”.

Pemuda seperti Ahyarlah yang dapat menjadikan Indonesia mampu memanfaatkan bonus demografi. Walaupun usahanya belum menyerap tenaga kerja namun setidaknya ia telah meringankan beban Negara. Bayangkan jika banyak pemuda seperti Ahyar dengan menjadi pengusaha. Hal itu akan secara signifikan mengurangi beban Negara sekaligus mengubah perekonomian Indonesia. Peningkatan jumlah pengusaha dapat menekan angka pengangguran sekaligus memberi dampak terhadap pengurangan kemiskinan. Bertambahnya jumlah pengusaha juga bertambah pula jumlah lapangan kerja, sehingga dapat menyerap tenaga kerja. Namun, berrtambahnya jumlah pengusaha harus juga seimbang dengan jenis usaha. Jenis usaha yang dikembangkan diusahakan ramah terhadap keberlanjutan, tidak merusak ekosistem dan sebagainya.

Nah bagaimana tanggapanmu, apakah kamu tertarik juga menjadi pengusaha?

“saya kepikiran kenapa saya tidak mengolah diri saya sendiri daripada harus terikat dengan orang lain”

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *