Pendidikan, “Barang” Mahal Bagi Nelayan

Oleh : Azwar Radhif

Himpitan ekonomi menjadi masalah yang berlarut-larut bagi nelayan di Indonesia. Salah satu contoh dampak himpitan ekonomi anak nelayan di pesisir Kota Makassar adalah masalah putus sekolah.

maupa.co – Sore menjelang malam, disaat air laut tengah meninggi, Fajar terlihat sibuk mempersiapkan peralatannya untuk melaut. Ia mengambil satu persatu barang dan umpan, kemudian menaikkannya ke kapal. Aktivitas ini menjadi rutinitas Fajar setiap sore hari. Karena setiap sore air akan pasang, saat itu juga laut dangkal di bawah jembatan Citraland dapat dilewati oleh kapal nelayan.

Bersama bapaknya, Fajar melewati malam dengan harapan mendapatkan banyak cumi. Hasil tangkapan itu akan dijual ke pasar keesokan harinya. Tak seperti anak muda pada umumnya, ia memilih untuk membantu menopang kehidupan keluarga, demi memberikan uang jajan untuk adik perempuannya yang masih duduk di bangku SMP.

Fajar adalah salah seorang anak dari 2,7 juta jiwa jumlah nelayan (data kompas.com). Pikirkan jumlah anak nelayan yang putus sekolah di negeri ini. Fajar terpaksa berhenti sekolah sejak kelas 4 SD. Saat ditanya apa cita-citanya, ia berhenti sejenak berfikir beberapa detik, mungkin ia sudah lupa apa yang dia inginkan sejak kecil. Dengan tegas ia menyebut “pilot”.

Tak seperti Fajar, adiknya bernama resmi yang duduk di kelas 1 SMP masih bisa mengenyam pendidikan hingga kini. Meski menurut Bapaknya, “kadang masuk kadang tidak”, tetapi ia  masih berniat bersekolah. Beruntung Resmi mendapatkan beasiswa sejak SD, Bapak dan Kakaknya tak terlalu memikirkan biaya sekolahnya, kecuali Pakaian, Buku dan uang jajannya. Harapannya sangat besar untuk berkuliah nantinya, ingin seperti kakak katanya.

Fajar dan Resmi merupakan gambaran tentang kehidupan anak nelayan di Makassar secara khusus. Permasalahan yang sangat jarang diintervensi oleh akademisi dan pengambil kebijakan. Mereka adalah konsekuensi dari masalah sistemik yang menimpa nelayan ditengah ancaman eksistensi yang disebabkan oleh pembangunan. Kemiskinan struktural dan upaya mempertahankan pola menjadi sebabnya.

Baca Juga: PERANGKAP KEMISKINAN NELAYAN MAKASSAR

Keterlibatan anak nelayan dalam aktivitas melaut merupakan salah satu strategi adaptasi nelayan. Adaptasi menurut Bennet (1976) merupakan sebuah tingkah laku yang merujuk pada strategi bertahan hidup. Adaptasi ini dianggap sebagai sebuah respon manusia dalam menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya. Ditengah kehidupan perkotaan yang kompleks dengan berbagai permasalahannya, nelayan akan berupaya untuk tetap menjaga kebiasaan ekonominya dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan melibatkan anaknya untuk membantunya mencari nafkah. Terlebih jika pelaku utama dalam ekonomi yaitu si Ayah tengah memasuki usia rentanya dan konsistensi nelayan untuk tetap bergantung pada corak produksinya.

Jika ditarik dalam kerangka adaptasi, keterlibatan Fajar dalam aktivitas  ini tak lepas dari perubahan lingkungan yang dihadapi nelayan pasca reklamasi. Penimbunan laut menyebabkan nelayan harus melaut lebih jauh untuk mencari ikan dan cumi, membutuhkan biaya dan energi lebih. Namun faktor utama dalam keterlibatan ini adalah permasalahan ekonomi yang dihadapi keluarga nelayan pasca penggusuran dan reklamasi. Untuk dapat memenuhi kebutuhan pokoknya, nelayan akan menekan biaya pengeluaran, salah satunya dengan terpaksa tidak menyekolahkan anaknya. Konsekuensi yang muncul adalah Anak Nelayan akan mengulangi pola yang sama seperti yang dialami orang tuanya. Disinilah letak masalah perangkap kemiskinan ini.

Baca juga: MASA TUA PETANI TAK BERTANAH

Dalam kasus ini, masalah pendidikan dapat dibenahi melalui optimalisasi program bantuan studi kepada masyarakat yang membutuhkan. Diperlukan identifikasi kebutuhan dasar, kemudian penginformasian kepada orang tua akan program ini. Selain pendidikan formal, fenomena yang menarik adalah beberapa kelompok masyarakat yang menggerakkan sekolah alternatif untuk mengatasi masalah buta huruf dan membangun kesadaran literasi masyarakat pesisir. Ini juga sedikit banyaknya mengurangi beban biaya pendidikan yang harus ditanggung orang tua mereka yang sedang berjuang untuk keluar dari siklus kemiskinan.

Fotografer : Azwar Radhif

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *