Penetrasi Dubes India di Unismuh Makassar, Isyarat PTLN?

Penulis: Ilham Alfais

Foto by Maruf dan Yahya

Kunjungan Dubes India ke Unismuh Makassar mengingatkan kita pada wacana tentang pendirian perguruan tinggi asing atau PTLN di Indonesia. Setidaknya ada dua hal dalam kunjungan itu yang membangkitkan ingatan tentang wacana tersebut. Pertama, kunjungan itu dilakukan di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Kedua kunjungan itu menawarkan beasiswa untuk melanjutkan studi di India.

maupa.co-Perguruan tinggi asing atau dalam Permenristekdikti no. 53 tahun 2018 disebut Perguruan Tinggi Luar Negeri (PTLN) adalah perguruan tinggi negara lain yang didirikan di Indonesia. Tujuan dari pembukaan akses terhadap PTLN ini ialah untuk meningkatkan daya saing, sesuai dengan amanat Permen di atas. Namun, kebijakan ini sempat menuai pro-kontra pada banyak kalangan. Tidak terlepas dari kalangan mahasiswa sendiri.

Kami, pada April 2019 lalu, melakukan penelitian terhadap tiga puluh (30) mahasiswa di beberapa fakultas di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Penelitian itu bertujuan untuk mengetahui pendapat mahasiswa tentang pendirian PTLN ini. Berdasarkan data penelitian tersebut terdapat 63,3% responden yang belum mengetahui akan hal tersebut. Hal ini menandakan dua hal, pertama adalah minimnya sosialisasi pemerintah akan hal itu. Kedua, adalah minimnya perhatian mahasiswa.

Hasil penelitian tersebut juga memperlihatkan adanya pro-kontra di kalangan mahasiswa itu sendiri. Sebanyak 56% responden mengatakan tidak setuju didirikannya PTLN di Indonesia. Sedangkan 44% sisanya mendukung rencana pemerintah tersebut.

Baca juga: Dubes India Tawarkan Beasiswa Kepada Dosen dan Mahasiswa Unismuh Makassar; Angin Segar Dunia Pendidikan

Gagasan mahasiswa yang tidak setuju sangat beragam. Mulai dari menganggap perlunya pemerataan infrastruktur pendidikan di seluruh wilayah Indonesia terlebih dahulu, PTLN akan mematikan perguruan tinggi dalam negeri, sampai menganggap bahwa ini adalah bentuk penjajahan. Sedangkan gagasan mahasiswa yang setuju juga beragam di antaranya menyatakan bahwa kebijakan ini akan meningkatklan kualitas pendidikan di Indonesia, sebagai pembanding untuk universitas di Indonesia, pendidikan di luar negeri itu lebih baik daripada di Indonesia dan mengeluhkan mahalnya biaya belajar di luar negeri.

Pro dan kontra dalam setiap kebijakan merupakan hal wajar. Justru akan tidak wajar jika tidak menuai pro dan kontra. Namun, sekalipun merupakan hal yang wajar pemerintah patut memperhatikan aspirasi tersebut. Perhatian terhadap aspirasi masyarakat tentunya akan menjaga iklim berdemokrasi di Indonesia.

Foto by Maruf dan Yahya

Terlepas dari pro-kontra tersebut, penetrasi Dubes India di Unismuh Makassar mengisyaratkan rambu-rambu pendirian PTLN di Indonesia. Terdapat dua hal kesesuaian antara Permen tentang PTLN dan kunjungan tersebut. Pertama, Permen tersebut mengatur bahwa setiap PTLN yang didirikan harus bekerja sama dengan PTS di Indonesia. Dubes India dapat dikatakan sebagai perwakilan dari perguruan tinggi di India dan merupakan wujud awal dari PTLN, sedangkan Unismuh Makassar menyandang status PTS.

Baca juga: Pendidikan, “Barang” Mahal Bagi Nelayan

Kedua, kunjungan tersebut menawarkan berbagai jenis beasiswa baik untuk dosen maupun mahasiswa Unismuh Makassar. Tawaran ini akan membuka keran belajar di India sehingga meningkatkan peluang PTLN india berlabuh di Indonesia. Permenristekdikti di atas juga mengatur tentang komposisi pengajar PTLN yang akan didirikan. Komposisi tersebut yaitu harus ada pengajar yang berasal dari Indonesia. Aturan ini akan sangat mudah dipenuhi jika banyak sarjana Indonesia yang mengenyam pendidikan di India. Jadi, siapkah kita dengan PTLN?.

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *