Permasalahan Kanal Kota Makassar, Mengalihkan Fungsi Kanal Yang Sebenarnya

Penulis: Azwar Radhif
Kanal Kota Makassar
Kanal Kota Makassar. Foto by Andi Arismunandar

Kanal sebenarnya memiliki banyak fungsi yang sangat besar dalam membangun peradaban perkotaan. Namun kesadaran masyarakat yang masih kurang, membuat fungsi kanal menjadi berubah.

maupa.co – Kanal merupakan salah satu objek vital dalam konsepsi tata ruang kota. Selain berfungsi sebagai pencegah banjir, kanal juga memiliki kegunaan lain seperti distribusi air, irigasi tanaman dan juga pariwisata, seperti yang dilakukan di berbagai negara.

Salah satu rujukan daerah pemanfaatan kanal terbaik di dunia adalah di Venesia, Italia. Konsep kanal di Venesia menghubungkan antara kanal sebagai mitigasi bencana banjir dan aspek ekonomi pariwisata.

Kanal Kota Venesia, Italia. Foto by tripadvisor.co.id
Kanal Kota Venesia, Italia. Foto by tripadvisor.co.id

Oleh karena itu, sistem kanal harus didesain sedemikian rupa agar menarik minat pengunjung, salah satu prasyaratnya adalah keindahan dan kebersihan kanal harus dijaga. Namun, hal ini tentu masih jauh dari harapan.

Di kota Makassar sendiri, kanal masih menyimpan bom waktu. Terutama menjadi ancaman banjir dan kesehatan masyarakat yang hidup di sekitar kanal ini.

Ini tentu tak lepas dari perilaku destruktif masyarakat dan rute pengairan kanal. Seperti kasus yang terjadi di Kanal Rajawali, hampir setiap waktu masyarakat harus dibiasakan mencium aroma bau busuk yang keluar dari kanal.

Kondisi ini diperparah dengan adanya tumpukan sampah, yang tertahan di depan pelelangan ikan (Lelong) Rajawali. Hal ini disinyalir masyarakat sekitar akibat dari posisi kanal Rajawali sebagai pembuangan terakhir dari kanal-kanal di Makassar. Tentunya tak lepas dari perilaku membuang sampah di kanal.

Kanal Rajawali. Foto by Azwar Radhif
Kanal Rajawali. Foto by Andi Arismunandar

Banyak dari masyarakat panambungan mengeluhkan pencemaran ini. Apalagi jarak rumah warga yang berhadapan dengan kanal. Hal ini tentu mengganggu aktivitas keseharian warga, apalagi sebagian besar penduduknya menggantungkan hidupnya dari hasil melaut. Mereka harus mengarungi kanal untuk dapat keluar melaut.

Salah satu nelayan Mariso menuturkan “dulu di depan lelong sebelum di reklamasi, aman-aman saja ini kanal, karena langsung terhubung dengan laut. Sepanjang disinikan dulunya adalah pantai. Nanti setelah ditimbun, air kotor tertahan di sekitar sini, ini yang kemudian menjadi lumpur,” ujarnya.

Permasalahan kanal tak sesempit masalah bau semata. Kanal juga merupakan satu-satunya akses nelayan yang hendak melaut. Dampak dari terhambatnya sirkulasi air laut akibat reklamasi, menyebabkan kapal nelayan sering kandas di bawah jalan poros depan pinisi point.

Belum lagi masalah kesehatan yang berpotensi muncul akibat pencemaran ini. Seperti diare, demam, dan lain sebagainya. Hal ini kiranya perlu diperhatikan pemerintah dan masyarakat umum.

Foto by Azwar Radhif
Foto by Andi Arismunandar

Berbagai upaya dapat dilakukan seperti memberi perhatian khusus kepada rute pengairan dan kondisi kebersihan kanal. Tentunya juga masyarakat harus lebih bijak dengan tidak membuang sampah di sekitar kanal, Agar fungsi kanal berjalan dengan baik sesuai kebutuhan masyarakat.

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *