Pernikahan Dini di Tengah Situasi Pandemi, Bukti Ketidakpedulian Orang Tua

Kasus pernikahan dini yang masih memprihatinkan. Foto: UNICEF
Kasus pernikahan dini yang masih memprihatinkan. Foto: UNICEF

Maupa.co – Fenomena pernikahan dini yang akhir-akhir ini marak terjadi  di Indonesia  menjadi  realitas, membuktikan bahwa keluarga dan orang tua sebagai pengarah dalam pertumbuhan seorang anak sudah kehilangan fungsinya.

Idealnya setiap orang tua berusaha mewujudkan regenerasi yang lebih baik, namun ironi ketika beberapa orang tua yang menikahan anaknya di usia dini terkesan tidak ingin ambil pusing dan lebih memilih untuk menikahkan anaknya di usia dini.

Menurut Makmur selaku Ketua Tim Reaksi Cepat (TRC) Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak  (P2TP2A) Kota Makassar menjelaskan bahwa banyak orang tua tidak ambil pusing dengan kehidupan anaknya. Ini menandakan bahwa adanya ketidakpedulian orang tua kepada anaknya.

“Orang tua kan tidak mau pusing, hanya buat anak lalu tidak diurus. Enjoy cari pekerjaan yang penting dia bisa makan ini hari. Tidak ada pembelajaran bahwa bagaimana kita kerja lalu menabung, itu yang tidak ada. Hal ini terjadi kebanyakan di daerah padat penduduk”, jelasnya ketika dijumpai di kantor P2TP2A Kota Makassar.

Makmur, Ketua Tim Reaksi Cepat P2TP2A Kota Makassar. Foto: Azwar Radhif/maupa.co
Makmur, Ketua Tim Reaksi Cepat P2TP2A Kota Makassar. Foto: Azwar Radhif/maupa.co

Makmur menambahkan bahwa setiap orang tua harusnya lebih faham mengenai resiko dibalik pernikahan dini itu sendiri, “seharusnya orang tua paham tentang resiko pernikahan dini yang ditanggung anak itu sendiri“, tambahnya.

Dilansir dari laman unpad.ac.id, Dosen Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Dr. Susilowati Suparto, M.H menuturkan bahwa pergaulan bebas juga akan menjerumuskan anak kepada pilihan menikah di usia dini dan meningkatkan angka dispensasi pernikahan.

“Tidak dapat dihindari terjadinya pergaulan bebas yang mengakibatkan Kehamilan di luar nikah dan menyebabkan angka dispensasi meningkat di masa pandemi ini” tuturnya.

Indonesia Peringkat Dua  Pernikahan Dini Se-Asean

Sementara itu, menurut data yang dipaparkan oleh Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan (KPPA), Leny Rosalin, pada pada bulan Juli 2019 yang lalu Indonesia berada pada peringkat dua se-Asean dalam hal pernikahan dini.

Menurutnya fakta ini sangat memprihatinkan, “Angka perkawinan anak di Indonesia ini masih sangat memprihatinkan. Dari seluruh negara anggota ASEAN, Indonesia ada di peringkat dua,”  ujar Leny.

Menurut Makmur selaku ketua Tim Reaksi Cepat P2TP2A Kota Makassar, angka pernikahan dini dapat ditekan dengan cara gencar mengedukasi ke masyarakat agar dapat memahami resiko apa yang akan timbul setelah terjadinya pernikahan dini.

“Sebenarnya untuk solusi kalau pernikahan anak harus lebih gencar melakukan sosialiasi ke kelurahan-kelurahan dan melibatkan imam dan KUA agar orang lebih faham terkait dengan usia pernikahan anak. Hal ini memang masih jarang”, ucapnya.

Makmur juga menjelaskan bahwa alasan mengapa banyak aktivis perempuan dan anak gencar melakukan kampanye terkait pernikahan dini yaitu karena menganggap seorang anak belum siap untuk menjadi orang tua di usia dini.

“Inilah kenapa aktivis perempuan dan anak berlomba-lomba untuk bagaimana memberitahukan umur anak yang bisa menikah itu adalah di umur 19 tahun kan itu tadi kesiapanya belum siap jadi ibu dan bapak”jelasnya.

Penulis: Muhammad Fauzy Ramadhan
Editor: Azwar Radhif

Muhammad Fauzy Ramadhan

Muhammad Fauzy Ramadhan

Penulis, Gitaris dan Pengagum Ketenangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *