Pertanian “Organik”, Pertanian Masa Depan

Penulis: Muhammad Fauzy

Bisnis di bidang pertanian terus mengalami peningkatan. Keuntungan menggiurkan dan permintaan pasar yang tinggi, menjadi salah satu alasan kaum milenial menjadi tertarik pada bisnis masa depan ini.

maupa.co – Revolusi hijau yang digalakkan sejak tahun 1940-an, dapat menjadi solusi bagi petani untuk meningkatkan produktivitas demi mencukupi stabilitas pangan dunia.

Namun, Di sisi lain revolusi hijau memiliki banyak kekurangan yang sangat merugikan lingkungan dan kualitas kesehatan pangan masyarakat

Menanggapi permasalahan ini, lahirlah solusi pertanian dengan konsep organik yang ramah lingkungan dan juga bebas dari bahan kimia. Apabila manusia terus menerus mengkonsumsi pangan yang mengandung bahan kimia akan berdampak buruk bagi kesehatan tubuhnya.

Konsep pertanian organik ini sendiri mulai diterapkan pada tahun 1950-an, dari dampak ketergantungan petani kepada pupuk dan pestisida kimia. Masyarakat mulai sadar bahwa pupuk dan pestisida kimia tidak baik untuk lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Sedikit demi sedikit petani mulai mengubah pola dan konsep pertanian yang diterapkannya. Keuntungan dari konsep pertanian organik ini sangat menggiurkan, karena nilai ekonominya yang cukup tinggi.

Dari data lembaga sertifikasi pertanian organik (INOFICE) menunjukkan perkiraan luas lahan sawah yang ada di Indonesia mencapai kurang lebih delapan juta hektar, ditambah luas lahan kebun yang ditanami hortikultura berupa sayuran dan lainnya.

Bisnis pertanian organik saat ini mulai banyak dilirik oleh kaum muda, bahkan kaum milenial sudah banyak yang merasakan durian runtuh dari bisnis ini. Pasar yang begitu potensial dan nilai jual yang begitu tinggi, menjadikan minat pemuda untuk berkecimpung di bisnis sayuran organik ini semakin meningkat

Sebut saja Syukron Farm, salah satu kebun organik milik Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin ini yang menerapkan konsep pertanian organik. Praktisi dan eksekutor kegiatan menanam berbasis organik ini terdiri dari beberapa mahasiswa. Syukron farm sendiri berdiri sejak bulan Agustus tahun 2018, di atas lahan 300 meter persegi. Kebun organik ini bertempat di Jalan Politeknik Teaching Farm Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin.

Pada saat tim maupa.co menyambangi Syukron Farm ini, ada beberapa mahasiswa pengelola kebun organik ini yang tengah meelihat kondisi kebun mereka. Rian Irawan, salah satu pengelola  yang sedang melihat kebun dan ikan organik produk Syukron Farm.

Rian mengatakan bahwa pentingnya mengelola konsep pertanian berkelanjutan ini karena memiliki dampak yang besar.“Kami memandang pentingnya pengelolalan sistem pertanian organik ini, agar kembali ke konsep alamiah. Dimana harusnya kegiatan pertanian tidak merugikan organisme lain, serta tidak menimbulkan dampak negatif bagi komoditi lainnya.” ujarnya.

Baca juga: MASA TUA PETANI TAK BERTANAH

Syukron Farm sendiri lahir dari inisisasi ide beberapa Mahasiswa Pertanian, yang kemudian dijadikan proposal untuk diikut sertakan dalam lomba program mahasiswa wirausaha Universitas Hasanuddin. Beruntungnya, proposal mereka diterima. Kemudian pihak kampus memberikan bantuan permodalan yang sesuai kebutuhannya.

Syahril selaku salah satu pengelola kebun organik ini mengatakan bahwa mereka mendapatkan ilmu dari pembelajaran di kelas, dan pengalaman di lapangan. Mereka tak menampik bahwa juga mencari referensi dari berbagai situs di internet. “Kami mendapatkan referensi dari pembelajaran di Kelas, pengalaman di Lapangan dan juga dari  salah satu dosen dari luar kampus Universitas Hasanuddin dan langsung menerapkannya.” Ujar Syahril.

Baca juga: Nelayan di Sudut Kota Metropolitan

Syahril juga menambahkan bahwa sebenarnya bisnis ini lahir sebagai solusi produk kesehatan masyarakat dan untuk meningkatkan minat pemuda di sektor pertanian yang kian menurun. “Sebenarnya Syukron Farm memiliki konsep utama yakni menjadikan hasil pertanian sebagai produk kesehatan masyarakat. Juga keresahan kami karena minimnya minat pemuda terhadap pengembangan pertanian” ujar Syahril pada saat diskusi di Universitas Hasanuddin.

Saat ini hanya sekitar 0,14% persawahan dan kebun di Indonesia yang menerapkan penanaman berbasis organik. Kemudian, hasil pertaniannya diperkirakan masih banyak yang tetap terpapar bahan kimia pestisida. (Sumber: republika.co.id).

Syukron Farm telah memproduksi banyak komoditi pertanian dan menyuplainya ke toko-toko.  Seperti selada, pakchoy, tomat, kangkung, terong, kale dan masih banyak lagi.

Tak sedikit juga yang datang membeli langsung ke kebun organik yang digarap beberapa mahasiswa pertanian ini. Syukron Farm juga saat ini mulai memproduksi buah-buahan segar yang berbasis organik.

Diharapkan banyak pemuda lainnya yang juga bisa memperhatikan sektor pertanian, karena pertanian adalah salah satu bidang yang penting dalam perekonomian suatu bangsa.

Mengutip pernyataan Soekarno tentang Pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa diperlukan usaha secara besar-besaran, radikal, dan revolusioner .Kaum muda harusnya bisa mengembangkan sektor pertanian dengan berpacu pada kreatifitas menyongsong pertanian yang inovatif, agar menjadi solusi permasalahan pangan dunia.

Fotografer: Muhammad Fauzy

Follow us

maupa

One thought on “Pertanian “Organik”, Pertanian Masa Depan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *