Pocci’ Gau’, Wadah Kreasi Karenang Mangkasara’

Penghormatan pamanca’ sebelum melakukan sajian pertunjukan tunggal dan duel. Foto: Ahmad Ishak Jundana/maupa.co
Penghormatan pamanca’ sebelum melakukan sajian pertunjukan tunggal dan duel. Foto: Ahmad Ishak Jundana/maupa.co

“Anjariko guru ri batang kale siagang anjari murikko ri batang kalennu, nia’ sallang se’re wattu tenamo guru tenamo muri’, roko’mi kamma lipa’, nia’ sallang se’re wattu na tassungke kale-kale”. Ungkapan ini menjadi salah satu spirit bagi sosok Akbar Daeng Rombo selaku masih dalam didikan Abd. Hamid Daeng Mabe’ (Alm). Kurang lebih artinya “jadilah guru di dalam tubuh dan jadilah murid di dalam dirimu, suatu waktu tidak ada lagi guru dan tidak ada murid, bungkuslah seperti sarung, suatu waktu akan terbuka dengan sendirinya”.

Jika ditelisik ungkapan di atas, penuh dengan sarat. Syarat yang dimaksud yakni belajarlah dari dirimu dalam melangkah.

Akbar Daeng Rombo merupakan sosok Pamanca’. Pamanca’ adalah sebuah predikat yang disematkan oleh masyarakat tertentu yang memiliki karenang. Karenang dikenal dengan istilah beladiri secara individu. Namun istilah karenang ini berkembang dengan sebutan kare’karena yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan istilah bermain-main. Istilah ini dikenal oleh pamanca’ sebagai wadah maupun untuk bermain-main dengan sesama pamanca’. Hal ini dilakukan sebagai wadah silaturahim sesama golongan masyarakat pamanca’, ungkap Akbar Daeng Rombo.

Akbar Daeng Rombo, Pamanca’ sekaligus Khalifah. Foto: Ahmad Ishak Jundana/maupa.co
Akbar Daeng Rombo, Pamanca’ sekaligus Khalifah. Foto: Ahmad Ishak Jundana/maupa.co

Hari-hari ini, istilah kare’karenang ini dilakukan dalam bentuk pertunjukan yang dikenal dengan sebutan manca’ kanrejawa. Manca’ Kanrejawa adalah gerak interpretatif yang bersumber dari karenang secara subjektif.

“Se’reji bulo reppe’ mingka tena sangkammana” ungkapan ini selalu dilontarkan oleh Daeng Rombo. Hanya satu bambu yang pecah tetapi tidak sama pecahannya. Hal ini mengisyaratkan sosok khalifah untuk mencari berdasarkan perenungan setelah melakukan gerak manca’ kanrejawa. Mereka adalah golongan pamanca’ yang lebih dulu mengenal dunia karenang untuk diri sendiri dan dikembangkan menjadi gerak manca’ kanrejawa.

Manca’ kanrejawa dikenal sebagai sajian seni pertunjukan yang dapat ditemui di beberapa tempat. Hal ini dilakukan berdasarkan, niat yang dalam bahasa Makassar disebut dengan attinja’ yang diaktualisasikan pada hajatan perkawinan maupun khitanan.

Sajian pertunjukan manca’ kanrejawa diawali dengan gerak tunggal yang menyimbolkan sosok perempuan. Menurut Akbar aeng rombo, gerak perempuan diperagakan secara simbolis yang dibagi menjadi 4, diantanya; Jangka-Jangkana, Kala’-Kalawinna, Kingking Lipa’na dan Carammenna. Gerakan ini dilakukan sebagai simbol perlawanan di masa lalu, sambungnya.

Pada pertunjukan duel, menurut Daeng Rombo gerakan Manca’ Kanrejawa mengadopsi aktivitas keseharian diantaranya, a’beso’ bulo, pisang dandara’, Bu’bu’ Lame, Lembayya, Kalomping, pada turung, angngocci’, cenga’, anjappuka, rimpunga’, annyikkoka, dan angngacce’. Hal ini mengisyaratkan manusia untuk akkareso (selalu berupaya) dalam mengarungi kehidupan. Sambungnya.

Karenang menjadi sebuah upaya untuk bertahan, sebagaimana yang terdapat pada sebuah cerita yang diperoleh Daeng Rombo terhadap Alm Daeng Mabe selaku Anrong Guru Pamanca’. Riolo sampulo asse’re sipammentengang, a’lampai tuju, ammantangi ampa’ anjari poko’. Dahulu sebelas menyatu dalam sebuah gerak silat, tujuh diantaranya pergi dan meninggalkan empat menjadi benteng. Lanjutnya, tujuh gerak ini diutus menjadi sebuah prajurit sebagaimana yang tergambar pada Manca’ Kanrejawa, dan sisanya menjadi benteng sebagai karenang secara subjektif.

Duel pamanca’ dalam acara assua’-suara’ (pesta adat perkawinan Makassar). Foto: Ahmad Ishak Jundana/maupa.co
Duel pamanca’ dalam acara assua’-suara’ (pesta adat perkawinan Makassar). Foto: Ahmad Ishak Jundana/maupa.co

Manca’ kanrejawa dikenal oleh masyarakat sebagai salah satu pertunjukan seni. Pada sajiannya, pertunjukan manca’ memperlihatkan seseorang atau kelompok yang, melakukan gerak dasar yang disebut bunga manca’. Namun pada dasarnya Manca’ menunjukkan kemampuan pamanca’ melakukan gerak-gerak silat dengan menggunakan tangan kosong dan atau senjata tajam.

Akbar Daeng Rombo adalah salah seorang sosok yang dikategorikan sebagai penggerak kesenian Manca’ Kanrejawa. Ia dibantu oleh keluarganya yang juga sebagai rekan dalam melakukan gerak manca’ kanrejawa yakni Muhammad Arlank Daeng Mangung. Mereka membuat sebuah komunitas yang bergelut di wilayah Karenang Mangkasara’ (pencak Silata Makassar) yang diberi nama Pocci’ Gau’.

Pocci’ Gau dalam perhelatan Temu Pencak silat Se-sulawesi Selatan 2017 di Gedung Mulo Makassar. Foto: Ahmad Ishak Judanana/maupa.co
Pocci’ Gau dalam perhelatan Temu Pencak silat Se-sulawesi Selatan 2017 di Gedung Mulo Makassar. Foto: Ahmad Ishak Judanana/maupa.co

Bagi mereka Pocci’ Gau’ adalah sebuah wadah kreasi sekaligus sebagai tempat bernostalgia kepada pamanca’ yang tersebar di Sulawesi Selatan. Hal ini dilakukan sebagai upaya appatau mendiang anrong guru pamanca yang telah banyak mendedikasikan manca’ kanrejawa sebagai salah satu sajian prajurit, Tandasnya. Pocci’ gau terletak Di Kelurahan Pacci’nongang Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan.

Penulis: Ahmad Ishak Jundana
Editor: Muhammad Fauzy

Follow us
Ahmad Ishak Jundana

Ahmad Ishak Jundana

Menulis untuk sebuah realitas dengan ikhlas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *