Refleksi Hari Anak Sedunia, Makassar Belum Ramah Anak

Peringatan Hari Anak Sedunia, Refleksi hak-hak perlindungan anak Internasional. Foto by Unsplas.com
Peringatan Hari Anak Sedunia, Refleksi hak-hak perlindungan anak Internasional. Foto by Unsplash.com

Maupa.co – Hari Anak Sedunia yang diperingati pada tanggal 20 November menjadi hari untuk refleksi sejenak tentang apa yang menimpa kehidupan anak saat ini dan masa depan anak di seluruh penjuru dunia. Organisasi PBB yang juga turut bergerak dalam perlindungan hak-hak anak dalam hal ini UNICEF, kali ini mengusung tema yaitu  “A day to reimagine a better future for every child”. Tema ini memiliki arti dalam bahasa Indonesia yakni “Suatu hari untuk membayangkan kembali masa depan yang lebih baik untuk setiap anak”.

Ternyata hari anak sedunia ini memiliki sederet bukti penting untuk kita perhatikan bersama, khususnya di Kota Makassar Sulawesi Selatan. Pemerintah Kota Makassar sendiri telah mencanangkan beberapa program untuk mewujudkan kota yang ramah bagi seluruh anak.

Tahun 2017 yang lalu, Kota Makassar dinobatkan sebagai Kota Ramah Anak. Namun, penghargaan ini seolah-olah tak bermakna lagi. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan kasus kelam kekerasan terhadap anak di Kota Daeng.

Menurut Makmur, Ketua Tim Reaksi Cepat (TRC) Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak  (P2TP2A) Kota Makassar mengungkapkan bahwa memang tahun demi tahun ada peningkatan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Kota Makassar.

“Sebenarnya, data kekerasan terhadap anak memang dari tahun ke tahun itu meningkat dan kasusnya bervariasi. Kami kira masa pandemi ini membuat kasus kekerasan terhadap anak menurun, ternyata malah meningkat”ungkapnya.

Makmur, Ketua Tim Reaksi Cepat P2TP2A Kota Makassar. Foto: Azwar Radhif/maupa.co
Makmur, Ketua Tim Reaksi Cepat P2TP2A Kota Makassar. Foto: Azwar Radhif/maupa.co

Menurut data P2TP2A Kota Makassar, kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan pada bulan Januari hingga bulan Agustus tahun 2020 saja mencapai 197 kasus. Tidak menutup kemungkinan bahwa ada penambahan kasus baru pada bulan September hingga Desember tahun 2020.

Makmur juga menambahkan, bahwa ada dua Kecamatan di Kota Makassar yang memiliki tingkat kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan dan kasus pernikahan dini yang tinggi yaitu Kecamatan Ujung Tanah dan Kecamatan Tallo.

“Kasus pernikahan dini dan kekerasan terhadap anak dan perempuan itu paling tinggi terjadi di Kecamatan Ujung Tanah dan Kecamatan Tallo”tambahnya.

Dilansir dari UNICEF dalam Refleksi dari KHA Pasal 19 karya Laksmi Pamuntjak menyatakan bahwa “Semua anak mempunyai hak untuk diasuh dengan sebaik mungkin, dan dilindungi dari kekerasan, kekejaman dan pengabaian”. Ini berarti semua anak berhak untuk memiliki hak atas perlindungan dari seluruh tindak kekejaman tanpa terkecuali.

Dalam memperingati Hari Anak Sedunia, Makmur juga mengungkapkan harapannya  agar semua elemen di pemerintahan turut ikut untuk mengurangi kasus-kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan.

“Harapan saya untuk hari anak sedunia, kami dari pemerhati anak di Sulawesi Selatan sangat mengharapkan semua elemen di pemerintahan turut ikut untuk bagaimana mengurangi korban-korban kekerasan anak dan perempuan  khususnya di Sul-sel. Semua ini demi sinergitas antara pemerintah dan NGO pemerhati anak dan perempuan agar percepatan penanganan korban kekerasan anak dan perempuan bisa kita tangani bersama, dan semoga kita bisa raih bersama capaian angka penurunan kasus perempuan dan anak”kuncinya.

Penulis: Muhammad Fauzy Ramadhan
Editor: Azwar Radhif

Follow us
Muhammad Fauzy Ramadhan

Muhammad Fauzy Ramadhan

Penulis, Gitaris dan Pengagum Ketenangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *