Rumah Adat Banua, Simbol Kehidupan Masyarakat Mamasa

Penulis: Azwar Radhif

Rumah adat Banua, Mamasa Sulawesi Barat. Foto by Rumah adat Banua, Mamasa Sulawesi Barat. Foto by kemdikbud.go.id
Rumah adat Banua, Mamasa Sulawesi Barat. Foto by Rumah adat Banua, Mamasa Sulawesi Barat. Foto by kemdikbud.go.id

Kehidupan masyarakat ditandai dengan hadirnya simbol-simbol yang dibuat untuk tujuan tertentu. Biasanya simbol-simbol masyarakat diciptakan sebagai media penghubung kehidupan duniawi dengan sang pencipta. Ada beragam simbol yang biasanya digunakan manusia, seperti aksara, karya sastra, monumen, ornamen, perkakas dan lain sebagainya.

Seperti kepercayaan masyarakat Mamasa terhadap rumah adatnya yang disebut Banua. Rumah adat Banoa merupakan jenis rumah adat yang memiliki kesamaan dengan rumah adat Tongkonan, di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Jika dilihat dari struktur fisik bangunan, sepintas akan terlihat sama persis, namun terdapat perbedaan dari segi simbolisnya maupun esensinya.

Rabu (05/02), dilaksanakan bedah buku terkait rumah adat Mamasa, yang dipantik oleh penulis buku “Tradisi Purba Rumah toraja Mamasa Sulawesi Barat”, Pak Kees Buijs yang juga merupakan seorang Antropolog Belanda. Kegiatan ini merupakan bentuk kerjasama dari Kampung Buku bersama departemen Antropologi FISIP Unhas beserta penerbit Ininnawa. Bertempat di Aula Prof Syukur Abdullah, kegiatan ini berlangsung sejak pukul 13.00 Wita hingga 15.15 Wita.

Bedah buku terakit rumah adat Mamasa oleh Kees Buijs seorang antropolog Belanda, bertempat di Aula Prof Syukur Abdullah. Foto by Azwar Radhif/maupa.co
Bedah buku terkait rumah adat Mamasa oleh Kees Buijs seorang antropolog Belanda, bertempat di Aula Prof Syukur Abdullah. Foto by Azwar Radhif/maupa.co

Rumah Adat Mamasa

Mendengar sebutan rumah adat di dataran Sulawesi Selatan-Barat, yang terpintas di benak kita adalah rumah adat Tongkonan, di Tana Toraja. Secara tampilan fisik, rumah adat ini memiliki bentuk yang unik, dibalut dengan ornamen-ornamen yang menambah estetika. Beragam simbol terpampang di sekitar dinding-dinding rumah, seperti ukiran hewan, simbol salib, hingga tanduk Kerbau di bagian depan bangunan.

Beberapa simbol ini juga nampak pada rumah adat Banua, di Mamasa Sulawesi Barat. Terdapat kemiripan diantara kedua rumah adat ini, hal ini disebabkan karena dahulunya masyarakat Mamasa melakukan perpindahan dari Tana Toraja ke tempat tersebut, “Terjadi perpindahan penduduk dari Toraja ke Mamasa membawa rumah dan ornamennya, sehingga ada kemiripan rumah adat”, jelas Buijs.

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Suku Kajang

Karena kemiripan ini, tak jarang pula masyarakat sekitar Mamasa disebut juga Toraja Mamasa. Sebaliknya, perbedaan mendasar dari segi fisiknya dapat dilihat dari dua hal, yaitu dari ukiran hewan “Naga” di dinding Banua dan penggunaan Badong. Badong merupakan papan besar yang ditaruh pada beberapa tempat seperti di depan dan di belakang Rumah Banua, sehingga bentuk bangunannya menyerupai kapal.

Ada makna dari bentuk bangunan yang menyerupai kapal ini. Perumpamaan kapal yang mengarungi bahtera kehidupan dunia dan kehidupan setelahnya, “jadi perumpamaannya adalah manusia berlayar di kehidupan manusia, dan setelah mati manusia kembali berlayar dengan rumahnya,” jelas Buijs. Sehingga ada perkiraan yang menyebutkan bahwa rumah adat ini dahulunya merupakan sebuah kapal yang digunakan untuk berlayar.

Rumah adat Banua dipergunakan sebagaimana tempat tinggal, menjadi ruang hidup manusia dalam menjalani kehidupan berkeluarga. Dalam struktur rumah adat, dapur di rumah Banua terletak di bagian atas Rumah, berbeda dengan Tongkonan yang disimpan di bawah rumah. Letak dapur dianggap esensial, “dapur digunakan sebagai tempat persembahan untuk dewa-dewa bumi dan dewa-dewa langit, berada di sekitar tempat perapian,” jelas Buijs.

Baca juga: Leang Timpuseng, Eksotisme Gua Kars Maros

Kehadiran buku ini menjadi penting untuk mengetahui makna relasi kehidupan manusia dan alam serta manusia dan Pencipta. Diakhir presentasi, Anwar Jimpe Rahman selaku perwakilan dari penerbit Ininnawa mengapresiasi karya etnografi yang diabadikan oleh Kees Buijs, “Buku ini merupakan seri ke-3 yang diterbitkan Ininnawa. Bahkan tadi malam saya selesaikan buku ke-4 nya (Kees Buijs) tentang bagaimana sosok Dewata dalam cerita rakyat Mamasa”, ujarnya.

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *